Terima Penghargaan Desa Wisata Awards 2017

Pemkab Fokus Kembangkan Sektor-sektor Pariwisata Unggulan di Pelalawan

Selasa,02 Mei 2017 | 21:31:31 WIB
Wabup saat menerima penghargaan desa wisata
 
PANGKALAN KERINCI (RIAUSKY.COM) - Pariwisata merupakan ujung  tombak baru untuk meningkatkan penanaman modal. Pertumbuhan investasinya yang mencapai 18 persen per tahun, menunjukkan bahwa peluangnya masih sangat terbuka.
 
Selama lima tahun terakhir kontribusi sektor pariwisata terhadap total realisasi investasi berada di level 2,2 persen atau Rp 51,2 triliun. Data BKPM tahun 2016 menunjukan  nilai investasi dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) di sektor pariwisata mencapai Rp 2,2 triliun. Sedangkan penanaman modal asing (PMA) pariwisata pada 2015 mencapai Rp 12,8T.
 
Total investasi baru sektor pariwisata pada 2015 adalah Rp 15 triliun. Tidak kalah pentingnya yakni infrastruktur pendukung akan menjadi sektor prioritas untuk menarik investor asing dan domestik.
 
Berkaca pada data tersebut, Pemkab Pelalawan pun berkomitmen dalam pengembangan sektor pariwisata di daerahnya, hal ini juga sejalan dengan fokus Pemprov Riau dengan program Riau Menyapa Dunia-nya.
 
Selain wisata ombak Bono yang sudah sangat dikenal dunia mancanegara, Pemkab Pelalawan terus fokus mengembangan potensi pariwisata yang ada sesuai dengan kemampuan keuangan daerah.
 
Daerah Kabupaten Pelalawan terdiri atas pesisir, lembah, bukit dan gunung. Dengan sumber daya alam yang melimpah, tentunya banyak potensi wisata yang dapat dijadikan tempat berpariwisata yang potensial untuk dikomersialkan dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
 
Bupati saat berada di Danau Tajuwid
 
Mengenai tempat-tempat wisata yang ada di daerah ini yaitu di kecamatan Pkl Lesung,  terdapat potensi wisata yang luar biasa yaitu Equator, kemudian Danau Tajwid yang terletak di Kecamatan Langgam, Wisata TNTN yang juga terletak di Kecamatan Langgam, Wisata Bono di Kecamatan Teluk Meranti.
 
Dijelaskannya bahwa sejumlah tempat  wisata yang terdapat dan memiliki potensi untuk dikembangkan di daerah ini, hanya Wisata Bono yang sudah terporomosikan hingga saat ini sudah mulai dikenal Dunia.
 
Sedangkan sejumlah Wisata yang memiliki keunikan bervarial lainnya  masih belum tersohor dan dikenal oleh pelaku-pelaku wisatawan, baik lokal maupun secara Nasional.
 
Pelalawan ini cukup strastegis karena berada di jalur Lintas Timur Sumatera, berbatasan langsung dengan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dan negara tetangga Singapura dan Malaysia.
 
Posisi strategis Kabupaten Pelalawan ini menjadi modal dasar dan keunggulan pengembangan dan pembangunan di segala sektor termasuk sektor pariwisata. Sambungnya, Kabupaten Pelalawan dapat ditempuh melalui jalan darat, jalan laut dan sungai serta jalan udara.
 
Beberapa daya tarik wisata yang ada di Kabupaten Pelalawan pun telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Meliputi Langgam, Danau Tajwid, Hutan Rawa Sungai Mokoh, Pangkalan Kerinci, Desa Pekan Tua, Bono, Suaka Marga Satwa Kerumutan, Tugu Equator, Desa Betung, Pengobatan Tradisional Beliam dan Menumbai.
 
Bupati saat membuka lomba perahu
 
Sementara itu Pemerintah Provinsi Riau juga terus berupaya mengembangkan sektor pariwisata yang ada di berbagai wilayah kabupaten, terkhusus Ombak Bono di Pelalawan.
 
"Kami terus melakukan upaya-upaya untuk menggaet investor, promosi wisata juga terus dilakukan," kata Kepala Dinas Pariwisata Riau, Fahmizal Usman.
 
Kata dia, memang ada banyak objek wisata potensial di Riau, namun dari sejumlah kawasan potensial wisata di Riau itu, hanya bono dan Pantai Rupat yang masuk Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).
 
"Kalau ditanya apakah pemerintah mendukung, tentu pemerintah mendukung seratus persen pembangunan di lokasi wisata alam itu, namun dilihat dulu aturannya," katanya.
 
Ia jelaskan, bahwa sejauh ini memang Ombak Bono dan Pantai Rupat yang baru masuk status KSPN sesuai dengan PP Nomor 50 tahun 2010. Sementara kawasan lainnya termasuk ada beberapa lokasi wisata alam air terjun dan Sungai Subanyang masih berada di kawasan lindung Marga Satwa.
 
"Untuk itu, maka kemudian alternatif pengembangan wisatanya adalah wisata petualang, bukan untuk wisata keluarga pada umumnya," kata dia.
 
Sementara untuk bono, lanjut dia, memang sudah menjadi magnet wisata strategis dan andalan bagi Pemerintah Provinsi Riau.
 
Bahkan, demikian Fahmizal, Pemerintah Kabupaten Pelalawan telah menyediakan lahan sekitar 600 hektare untuk pengembangan kawasan wisata alam bono yang telah dikenal hingga mancanegara.
 
"Maka tentu kami mendorong dan mendukung perusahan untuk berinvestasi di lokasi wisata tersebut, untuk menjadi kawasan ekonomi khusus pariwisata," katanya.
 
Tentu, lanjut dia, dalam pengembangannya, desain arsitektur berkaitan dengan bangunan, harus berdekatan dengan aspek kearifan lokal atau "local wisdom".
 
Yang dimaksud "local wisdom" menurut Fahmizal adalah pembangunan yang benar-benar bermuatan lokal, atau bercirikhas Melayu dan bersahabat dengan alam. "Jangan pula desain arsitekturnya malah khas daerah lainnya seperti Bali, tentu tidak sesuai," demikian Fahmizal.
 
Dia katakan, bahwa selama ini pihaknya telah bertemu dengan sejumlah calon investor untuk pengembangan wisata di Riau, beberapa sudah menyatakan ketertarikan. "Yang jelas ada beberapa investor asing yang sudah menyatakan ketertarikan mereka terhadap bono," katanya. 
 
Bupati meninjau danau tajuwid dengan bersepeda
 
Terima Penghargaan Desa Wisata Awards 2017
Sebagai wujud komitmennya dalam sektor pariwisata, Pemerintah Kabupaten Pelalawan menerima penghargaan Desa Wisata Kreatif 2017 dalam perhelatan Desa Wisata Awards dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. 
 
Wakil Bupati Pelalawan H.Zardewan menerima penghargaan langsung dari Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjoyo. Kabupaten Pelalawan masuk dalam kategori Desa Wisata Kreatif yakni Kecamatan Teluk Meranti. 
 
Ada sepuluh desa dari kabupaten dan kota yang menerima penghargaan awards tersebut diantaranya untuk kategori perkembangan desa tercepat diberikan pada sungai nyalo Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat, kategori desa adat penerima desa madobak mentawai sumatera barat, desa wisata jejaring bisnis tamansari Banyuwangi, Desa wisata agro Malang pujon kidul, desa wisata iptek Seigentung Gunungkidul, desa wisata budaya ubud goanyar bali, desa wisata alam NTT kabupaten ende desa waturaka, desa pemberdayaan masyarakat ponggok Klaten Jawa Tengah, desa wisata kreatif teluk meranti pelalawan , dan desa wisata maritim bontagula bontang kalimantan timur.Masing masing desa penerima awards memperoleh dana bantuan pengembangan Bumdes sebesar Rp2 juta rupiah.
 
Menurut Eko Putro Sandjojo, pemberian penghargaan pada desa ini merupakan pertimbangan dari Mendes PDTT bagi desa yang telah mampu mengelola dana yang telah disalurkan, dan terbukti meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat desa, sehingga mampu menampung, mengkonsolidasi, dan mewadahi kegiatan usaha ekonomi desa.
 
Dalam menunjang BUMDes sambung Eko Putro Sandjojo, Kemendes PDTT memiliki program unggulan yakni Pertama produk unggulan desa yang dilatarbelakangi oleh upaya peningkatan skala ekonomi, membuka kesempatan kerja, mendorong partisipasi masyarakat luas, dan memberi ruang keterlibatan pada pelaku ekonomi. 
 
Kedua BUMDes sebagai mesin penggerak ekonomi rakyat yang meliputi pembinaan manajeman, sumberdaya manusia dan kreatifitas, Ketiga membangun embung air desa yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, serta program unggulan Keempat menciptakan sarana olahraga desa, yang merupakan tindak lanjut dari rapat terbatas tentang percepatan pembangunan sepakbola nasional. (R09/Advertorial)
 
Bupati Saat Membuka Festival Bakudo Bono?
Akses RiauSky.Com Via Mobile m.riausky.com
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita"Otonomi" Index »
Loading...
vipqiuqiu99 vipqiuqiu99