Bono: Mengusung 'The Seven Ghost' Sebagai Destinasi Pariwisata Dunia dari Pelalawan

Rabu,15 Juni 2016 | 12:55:58 WIB
Bono: Mengusung 'The Seven Ghost' Sebagai Destinasi Pariwisata Dunia dari Pelalawan
Ket Foto : Seorang peselancar bermain di atas gelombang bono.

Bono: Mengusung 'The Seven Ghost' Sebagai Destinasi Pariwisata Dunia dari Pelalawan

PANGKALAN KERINCI (RIAUSKY.COM)- Bono, nama destinasi wisata berselancar di pertemuan arus laut dan sungai yang hanya ada di Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan itu kini sudah lekat di ingatan banyak peselancar dunia.

Eksotisme gelombang yang muncul disebabkan benturan keras air laut bertemu dengan air sungai itu menghasilkan tujuh gelombang besar yang saling berkejaran. Ketinggiannya pun nyaris tidak lazim, yakni berkisar 6-7 meter membuat banyak peselancar merasa terkagum-kagum dan memiliki ekspektasi untuk bisa menaklukkan keperkasaan gelombang yang dalam bahasa ilmiahnya disebut dengan Tidal Bore tersebut.

Tak terkecuali bagi seorang Steve King, peselancar dunia asal Inggris yang kemudian mentasbihkan The Seven Ghost sebagai tempat dia memecahkan rekor dunia terbarunya dalam berseluncur di atas gelombang.

Bukan hanya King, perusahaan penyedia perlengkapan surfing sekelas Rip Curl, beberapa peselancar dari Amerika Serikat, Brazil, Australia,  Belgia, Jerman, Singapura dan Malaysia pun sudah menjajaki keistimewaan Bono yang oleh kalender pariwisata  setempat disebut dengan istilah Bekudo Bono ini.

Bahkan, brand dunia seperti National Geographyc dan bran lokal seperti Djarum Super menjadikan aktivitas berselancar para turis asing di gelombang bono tersebut sebagai kampain produk usahanya.
Tingginya antusiasme para turis asing maupun dalam negeri inilah yang kemudian menarik pemerintah daerah Kabupaten Pelalawan terus berupaya menginisiasi upaya untuk menjadikan Bono sebagai salah satu destinasi wisata dunia dari Riau.

Secara ilmiah, gelombang Bono terjadi karena bertemunya arus pasang air laut dengan arus pasang air sungai pada waktu air pesang atau bulan naik. Arus yang terjadi sangat deras, kuat, dan tinggi itu disebabkan penyempitan pertemuan arus  di sekitar Pulau Muda yang membelah Sungai Kampar tepatnya di bagian muara sungai.
 
Durasi gelombang Bono hampir 30 – 40 kilometer, dapat ditempuh dengan waktu sekitar antara 1,5 jam sampai dua jam. Diawali dari Pulau Muda sampai dengan Teluk Binjai di Sungai Kampar.

Peristiwa alam yang terus berlangsung rutin di awal dan menjelang akhir tahun  itu mencapai puncaknya pada bulan November hingga Februari.


Mengapa Bono?

Kebanyakan aktivitas surfing didunia dilakukan di atas gelombang laut. Hanya ada dua kegiatan surfing yang dilakukan di atas gelombang arus sungai, dan Bono adalah gelombang tertinggi yang pernah ditemukan selain pertemuan arus Sungai Amazon di benua Amerika.

Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya mengaku memiliki ketertarikan khusus terkait dengan pengembangan pariwisata Bono ini.
 
Selain bersifat spesifik dan hanya bisa ditemukan di beberapa negara saja, gelombangnya yang relatif tinggi mampu menarik minat banyak peselancar dunia untuk mengadu adrenalin menyusuri ketangguhan Bono.
 
Arief yahya bahkan mengapresiasi pesan positif dari keberadaan bono, dimana, upaya untuk mempromosikan dan mensosialisasikan Bono sebagai destinasi wisata alam tidak hanya dilakukan secara manual melalui program-program pengenalan destinasi wisata oleh pemerintah, namun juga oleh para wisatawan-wisatawan yang datang dan ikut merasakan sensasi berselancar di gelombang Bono.

Beberapa kali bahkan, Menteri Pariwisata RI Arief Yahya pada kegiatan 'Riau Menyapa Dunia' pada pertengahan Mei 2016 lalu terus menyebutkan Bono sebagai salah satu destinasi wisata unggulan yang punya nilai strategis untuk dikembangkan ke depan.

Untuk memudahkan para wisatawan menyebutkan namanya, karena itu pula Menteri Pariwisata Arief Yahya meminta nama Bekudo Bono dipersingkat menjadi 'Bono' saja.

''Terkadang, di lidah para turis asing itu, terlalu panjang akan menyusahkan. Kalau digunakan kata 'Bono' saja, sepertinya lebih mudah diucapkan  dan gampang diingat,'' ungkap Arief pada kesempatan tersebut.

Penjelasan dari Menteri Pariwisata itu sepertinya juga mendapat perhatian khusus dari Gubernur Riau Arsyad Juliandi Rachman dalam mencatuskan keputusan menjadikan Bono sebagai destinasi wisata unggulan Indonesia dari Provinsi Riau yang akan diperkenalkan lebih luas lagi ke pentas dunia.

Saat pelaksanaan ritual adat Balimau Kasai Potang Mogang di Kecamatan Langggam beberapa waktu lalu, sikap Pemprov Riau mendukung pengembangan Bono itu pun kembali ditegaskan Gubernur Riau Arsyad Juliandi Rachman.

''Saya sudah baca resensi dan latar belakangnya, saya juga sudah mendengarkan tentang keunggulannya dan saya melihat Bono adalah potensi pariwisata yang menjual untuk ke depannya. Setelah saya berkonsultasi dengan Pak Bupati, saya semakin yakin, kalau Bono ini adalah potensi yang akan diusulkan kepada Menteri Pariwisata sebagai destinasi wisata unggulan dunia dari Riau,'' ungkap Andi.

Untuk itu juga, Andi pun menyampaikan komitmennya untuk bisa mendukung pengembangan kawasan di sekitar bono sehingga memenuhi standard minimum untuk pengembangan kepariwisataan berkelas dunia.
 
Tentu saja hal tersebut bukan hal gampang, mengingat ada sejumlah persyaratan yang harus dimiliki sebuah kawasan pariwisata dunia. Bono membutuhkan akses yang lebih cepat untuk bisa ditempuh oleh wisatawan dari manca negara maupun wisatawan lokal.

Bono juga memerlukan prasarana pendukung lainnya seperti ketersediaan sarana pendukung di lokasi bono, kapal, peralatan yang lebih memadai ketersediaan sarana medis serta beberapa kebutuhan lainnya.

Namun, hal lain yang juga tidak kalah pentingnya, menurut Gubernur Riau, Andi Rachman adalah, bahwa untuk memperkaya nilai kunjungan para wisatawan, Pemkab Pelalawan, tokoh masyarakat, juga harus bisa menggali potensi lain yang secara khas hanya bisa didapatkan di Riau, khususnya Pelalawan.

''Saya pikir, banyak lagi tradisi dan kearifan lokal yang bisa dikembangkan sehingga akan memperkaya pemahaman para wisdatawan tentang potensi wisata Bono termasuk daerah-daerah di sekitarnya,'' ungkap Andi.  

  Andi memang mempunyai perhatian khusus terhadap pengembangan pariwisata berbasis perairan, salah satunya Bono mengingat Riau adalah daerah yang kaya dan kehidupan masyarakatnya tidak terlepas dari budaya perairan.

Karena itulah, setiap kekhasan yang ada, hendaknya dihimpun dan disempurnakan, sehingga bisa menjadi potensi wisata lain di luar bono yang juga terdapat di Pelalawan.

Bupati Pelalawan, HM Harris, dalam banyak kesempatan terus memberikan dukungan terhadap pengembangan Bono sebagai destinasi wisata dunia.

Tidak hanya dalam penyediaan sarana pendukung, pengembangan kawasan di sekitar Kuala Kampar, seperti sarana umum, kesehatan, wisma dan home stay termasuk upaya pembinaan masyarakat untuk sadar wisata terus dilakukan guna meningkatkan atensi wisatawan untuk datang lagi dan lagi ke Pelalawan, khususnya menyaksikan Bono.

''Tentu kami berterima kasih sekali dengan atensi Bapak Menteri Pariwisata RI dan Bapak Gubernur Riau yang menginisiasi pengembangan potensi wisata Bono ini. Karena, secara riil kita melihat terjadi perkembangan yang signifikan terhadap angka kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun guna berselancar ataupun sekedar menyaksikan gelombang Bono di Kuala Kampar ini,'' kata Bupati HM Harris pekan lalu.

Hal yang juga menggungah keinginan besar Pemkab Pelalawan untuk mengembangkan potensi wisata lewat Bono adalah bahwa dewasa ini, promosi dan pengenalan gelombang bono di Kuala Kampar berjalan melalui komunitas-komunitas pecinta peselancar dunia.

''Ya, kita harus akui itu, saat ini, sosialisasi tentang keunggulan Bono di Kuala Kampar masih didominasi oleh komunitas peselancar dunia. Mereka bercerita dari mulut ke mulut, hingga kemudian mampu menarik peselancar lainnya untuk menguji kemampuan mereka berjuang di gelombang Bono ini. Mudah-mudahan, dengan dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia, akan mampu lebih mendongkrak angka kunjungan wisatawan ke Bono di Kuala Kampar,'' harap Bupati HM Harris lagi.

Membangun potensi wisata Bono tentunya bukan saja bercerita tentang investasi awal yang harus dikeluarkan untuk mendukung pengembangannya. Lebih jauh, hal tersebut juga terkait dengan investasi jangka panjang terkait perkembangan daerah potensi wisata, mengingat besarnya potensi devisa yang bisa didapatkan negara dan daerah ke depan, disamping juga pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi penduduk di satu kawasan.

Hal tersebut, sebut Gubernur Riau, Arsyad julaindi Rachman sudah perlu dipertimbangkan oleh pemerintah daerah di Riau mengingat saat ini, Riau tak lagi mungkin mengandalkan minyak dan gas sebagai sumber devisa dan penerimaan yang akan membangun daerah.
Keunggulan geografis Riau karena berada di perbatasan dengan beberapa negara, keunggulan Riau, sebagai pusat peradaban melayu (The Homeland of Malay) merupakan peluang untuk penghasil devisa ke depan.   

Gubernur Riau Andi menjelaskan, untuk menunjang destinasi Ombak Bono ini, pemprov Riau sudah menyiapkan lahan seluas 600 hektar untuk dijadikan kawasan pariwisata yang akan disulap seperti BTDC (Bali Tourism Development Corporation) Nusa Dua di Bali.

Kawasan wisata itu nantinya tentu saja bakal dibangun di Kabupaten Pelalawan. Tak jauh dari Sungai Kampar yang terkenal dengan Ombak Bono itu, sebuah keajaiban alam yang sudah terbukti mampu menghasilkan devisa bagi negara. Pemilihan lokasi ini dirasa sangat pas mengingat Bono yang terkenal dengan gelombang seven ghost itu hanya bisa dinikmati di lima tempat di dunia. Tapi yang terbaik tentu saja di Kuala Kampar.

Bono, Dulu Mitos Menakutkan, Kini Peluang Devisa


Ombak atau Gelombang Bono merupakan peristiwa alam yang terjadi di aliran Sungai Kampar. Menjadi daya tarik yang 'amazing', dari muara pertemuan aliran air sungai dan air laut.

Benturan dua sisi mengarah pada lepas pantai akibat peristiwa alam ini menghasilkan gelombang dan ombak besar yang bergulung, bergerak dari muara menuju ke arah hulu yang menakjubkan.
Gelombang yang dihasilkan dari peristiwa alam itu, bisa mencapai tujuh gelombang berurutan dan menciptakan kubah layaknya ombak laut yang begitu mengesankan.

Keunikan lainnya, adalah saat air laut bertemu dengan aliran sungai, maka secara alami akan terjadi gelombang tinggi  disertai dentuman keras seperti suara petir di saat badai dengan diiringi hembusan angin kencang.  

Dari fenomena alam ini, ternyata 'Bono' bisa menghasilkan gelombang dengan panjang gulungan lebih dari 50 kilometer dan mencapai ketinggian hingga empat bahkan enam meter.

Dua target utama yang di jalankan oleh Kementrian Pariwisata untuk membangun dan memajukan objek wisata Bono diantaranya yakni membuat anjungan atau menara untuk para wistawan agar dapat melihat keindahan ombak 'Bono' dari kejauhan dan secara menyeluruh. Menara pemantau ini rencananya akan dirikan di daerah Tanjung Bau-bau pada titik atau lokasi yang dianggap strategis.

Kemudian juga akan ada kegiatan sosialisasi masterplan  tentang 'Bono' . Hal ini adalah untuk mengkaji jumlah biaya investasi yang diperlukan dalam mengembangkan Bono sebagai sebuah destinasi wisata baru.

Sepanjang tahun 2015, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Pelalawan mendata ada ribuan wisatawan dari domestik dan mancanegara yang melakukan kunjungan di Negeri Seiya Sekata.

Kunjungan turis asing tahun 2015 ini memang jauh meningkat dari tahun sebelumnya. Dimana pada tahun 2014 lalu tercatat sebanyak 50.172 wisawatan. Diantaranya sebanyak 50 ribu wisatawan domestik dan 173 wisatawan mancanegara.

"Sementara pada 2015, ada sebanyak 57.901 orang wisawatan yang datang. Dimana 57.338 wisawatan domestik dan 563 orang wisawatan mancanegara," ujar Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Pelalawan H Zulkifli SAg MSi di Pangkalan Kerinci beberapa waktu lalu.

Diungkapkan Zulkifli,  objek wisata yang menjadi destinasi kunjungan dari wisatawan tersebut, seperti Danau Tajwid di Kecamatan Langgam, Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang terdapat di tiga kecamatan yakni Langgam, Pangkalan Kuras dan Ukui, Bono di Kecamatan Teluk Meranti, Tugu Equator di Kecamatan Pangkalan Lesung dan Betung di Desa Betung Kecamatan Pangkalan Kuras.

Dikatakan Zulkifli, Pemkab Pelalawan sudah beberapa kali melakukan promosi hingga ke luar negara. Sedangkan kunjungan para turis mancanegara ini, banyak untuk melihat pesona gelombang Bono di aliran Sungai Kampar Kecamatan Teluk Meranti.

"Turis yang rata-rata sudah profesional menguji nyali menantang salah satu gelombang terpanjang dan terlama di dunia. Kemudian juga ada Festival Bekudo Bono pada puncak menculnya gelombang dahsyat ini," sebutnya.

 Selain program dari kementrian, Pemkab Pelalawan juga bakal mencanangkan dua program besar. Seperti membuat jalan lintas 'Bono' (akses) yang bagus untuk masuk dari jalan perkampungan menuju lokasi objek wisata mengesankan itu.
 
Bono adalah gelombang atau ombak yang terjadi di Muara Sungai Kampar,Kabupaten Pelalawan. Ombak Bono Sungai Kampar merupakan suatu fenomena alam akibat adanya pertemuan arus sungai menuju laut dan arus laut yang masuk ke sungai akibat pasang.

Biasanya ombak atau gelombang hanya terjadi di tepi pantai atau laut ataupun danau yang luas akibat perubahan arus air dan angin. Ombak yang berukuran cukup besar banyak dimanfaatkan untuk bermain selancar. Maka, jika melihat orang berselancar di pantai adalah suatu hal yang sudah biasa. Tetapi melihat orang berselancar di arus sungai adalah suatu hal yang luar biasa.

Bono terbesar biasanya terjadi ketika musim penghujan dimana debit air Sungai Kampar cukup besar yaitu sekitar bulan November dan Desember.

Menurut kepercayaan warga, gelombang bono yang ada di sungai kampar adalah bono jantan, sementara bono betinanya berada di daerah Sungai Rokan, dekat dengan Kota Bagansiapi-api.
 
Bono di Kuala Kampar tersebut berjumlah tujuh ekor, dimana bentuknya serupa kuda yang biasa disebut dengan induk Bono. Pada musim pasang mati, bono ini akan pergi ke Sungai Rokan untuk menemui bono betina. Kemudian bersantai menuju ke selat Malaka.
Itulah sebabnya ketika bulan kecil dan pasang mati, bono tidak ditemukan di kedua sungai tersebut.

Jika bulan mulai besar, kembalilah bono ketempat masing-masing, lalu main memudiki sungai Kampar dan sungai Rokan. Semakin penuh bulan di langit, semakin gembira bono berpacu memudiki kedua sungai itu.

Muara Sungai Bono yang disebut penduduk sebagai Kuala Kampar memiliki ombak Bono yang dapat mencapai ketinggian 6-10 meter terkandung keadaan pada saat kejadian. Menurut cerita Melayu lama berjudul Sentadu Gunung Laut), setiap pendekar Melayu pesisir harus dapat menaklukkan ombak Bono untuk meningkatkan keahlian bertarung mereka. Hal ini dapat masuk akal karena "mengendarai" Bono intinya adalah menjaga keseimbangan badan, di luar masalah mistis.

Sekarang, masyarakat sekitar Kuala Kampar menganggap Bono sebagai "sahabat alam". Penduduk yang berani akan "mengendarai" Bono dengan sampan mereka tidak dengan menggunakan papan selancar pada umumnya.

Mengendarai sampan di atas ombak Bono menjadi suatu  kegiatan ketangkasan. Tetapi kegiatan ini memiliki resiko tinggi karena ketika salah mengendarai sampan, maka sampan akan dapat dihempas oleh ombak Bono, tak jarang yang sampannya hancur berkeping-keping.

Menurut cerita masyarakat, dahulunya gulungan ombak ini berjumlah 7 (tujuh) ombak besar dari 7 hantu. Ketika pada masa penjajahan Belanda, kapal-kapal transportasi Belanda sangat mengalami kesulitan untuk memasuki Kuala Kampar akibat ombak ini. Salah seorang komandan pasukan Belanda memerintahkan untuk menembak dengan meriam ombak besar tersebut.

Entah karena kebetulan atau karena hal lain, salah satu ombak besar yang kena tembak meriam Belanda tidak pernah muncul lagi sampai sekarang. Maka sekarang ini hanya terdapat 6 (enam) gulungan besar gelombang ombak Bono.

Tujuh Hantu adalah 7 ombak Bono dengan formasi 1 di depan dan diikuti dengan 6 gelombang di belakangnya. Karena 1 ombak terbesar telah dihancurkan Belanda sehingga ombak Bono besar hanya tersisa 6 ombak dengan formasi hampir sejajar memasuki Kuala Kampar. Mengenai kapal Belanda dan orang-orangnya tidak pernah diketemukan sampai sekarang.

Secara ilmiah, Gelombang Bono atau Ombak Bono atau Bono Wave yang merupakan suatu fenomena alam, secara sederhana dapat disampaikan bahwa terjadinya Ombak Bono adalah pertemuan arus pasang air laut dengan arus sungai dari hulu menuju muara (hilir).

Di dalam kajian Lingkungan Mekanika Fluida(Environmental Fluid Mechanics), Bono disebut Tidal bore atau bore/aegir/eagre/eygre.
Secara ilmiah, gelombang bono merupakan salah satu peristiwa alam yang cukup langka dan jarang terjadi. Dimana kita akan menyaksikan sebuah gelombang besar yang layaknya terjadi di tengah laut, namun ini terjadi di sebuah sungai air tawar.

Gelombang bono terjadi diakibatkan benturan tiga arus air yang berasal dari Selat Melaka, Laut Cina Selatan dan aliran air Sungai Kampar.

Akibat benturan ini, menjadikan gelombang air di muara sungai Kampar bisa mencapai ketinggian 6-7 meter dengan ditandai sebelumnya dengan suara gemuruh yang hebat.
 
Ini merupakan fenomena ilmiah yang akan dipercayai oleh kaum intelektual saja.

Ombak Bono atau kadang biasa juga disebut Gelombang Bono (Bono Wave) terjadi ketika saat terjadinya pasang (pasang naik) yang terjadi di laut memasuki Sungai Kampar.
 
Kecepatan air Sungai Kampar menuju arah laut berbenturan dengan arus air laut yang memasuki Sungai Kampar. Benturan kedua arus itulah yang menyebabkan gelombang atau ombak tersebut. Bono akan terjadi hanya ketika air laut pasang. Dan akan menjadi lebih besar lagi jika pada saat air laut mengalami pasang besar (bulan besar) diiringi hujan deras di hulu Sungai Kampar.(R11/Advertorial)
 

Akses RiauSky.Com Via Mobile m.riausky.com
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita"Otonomi" Index »
Loading...
vipqiuqiu99 vipqiuqiu99