Riausky

Riausky.com

Home »

opini

Slogan Madani di Kota Prostitusi

Slogan Madani di Kota Prostitusi
Riki Rahmat, pemerhati Sosial Kota Pekanbru 
Beberapa kota di Indonesia menamakan dirinya dengan slogan Madani. Akan tetapi, beberapa kota masih terdapat tempat prostitusi, namun tetap kekeh menempelkan slogan madani, seperti salah satunya Kota Pekanbaru Provinsi Riau.
 
Di Ibukota Provinsi Riau yang memiliki jumlah penduduk 1.005.014 (hasil sensus 2014) dan mayoritas penduduk memeluk agama Islam, dengan luas wilayah 632,26 Km persegi lebih, terdiri dari 12 Kecamatan dan 58 Kelurahan/Desa ini tumbuh subur tempat prostitusi. 
 
Ya, sebagai kota yang berkembang, keberadaan tempat hitam ini tidak akan luput, ditambah lagi jika pemerintah kurang selektif dalam mengeluarkan perizinan dan penindakan tegas terhadap tempat maksiat.
 
Kota Pekanbaru berada di kawasan strategis, berbatasan dengan daerah Kabupaten Siak dan Kabupaten Kampar di sebelah Utara, Kabupaten Kampar dan Kabupaten Pelalawan sebelah Selatan, Kabupaten Siak dan Kabupaten Pelalawan di sebelah Timur, dan Kabupaten Kampar di sebelah Barat.
 
Kota Pekanbaru menjadi ladang perdagangan yang subur, barang masuk dari darat, udara dan laut/sungai, dimana pelabuhan pun banyak di sepanjang tepian Sungai Siak yang membelah Kota Pekanbaru yang mengalir dari barat ke timur. Sungai Siak inilah jalur perhubungan lalu lintas perekonomian selain juga jalur darat dan penerbangan.
 
Kota Pekanbaru juga memiliki Bandara skala Internasional yakni Bandara Sultan Syarif Kasim II (SSK II). Kota Pekanbaru ini juga merupakan Ibukota Propinsi Riau yang mempunyai jarak cukup terjangkau dengan kabupaten/kota di provinsi tersebut.
 
Dari Taluk Kuantan 118 Km, Rengat 159 Km, Tembilahan 21.3,5 Km, Kerinci 33,5 Km, Siak 74,5 Km, Bangkinang 51 Km, Pasir Pangaraian 132,5 Km, Bengkalis 128 Km, Bagan 192,5 Km, dan Dumai 125 Km.
 
Perkembangan bisnis mal, perhotelan, tempat hiburan malam, dan karaoke tumbuh subur di Kota yang berjulukkan Kota Bertuah ini. Jika kita berkunjung ke Kota Pekanbaru, di pinggiran jalan akan sangat mudah ditemukan karaoke keluarga, hotel dan juga mal serta apartemen pencakar langit.
 
Kemudian, persoalan prostitusi, seks komersial serta peredaran narkoba tumbuh di Kota ini. Siapa yang tidak kenal Perumahan Jondul, yang merupakan terkenal dengan sebutan sarang prostitusi yang berkedok panti pijat tradisional.
 
Banyak lagi tempat lainnya, seperti karaoke keluarga yang ternyata di dalamnya tempat maksiat, tanpa ikatan suami istri bisa bergaul bebas dalam bilik beberapa tempat karaoke yang tidak mengatur pengunjungnya harus suami istri.
 
Lantas, pantaskah kota ini ditempeli dengan slogan Madani? Seperti tertera dalam visi Walikota dan Wakil Walikota Pekanbaru periode 2011-2016, Firdaus MT dan Ayat Cahyadi SSi. Bahkan, slogan Kota Bertuah seakan tergantikan dengan dibuatnya bangunan tuisan besar di akses Jalan Simpang Tiga menuju Bandara SSK II Pekanbaru yang bertuliskan "Pekanbaru Kota Madani".
 
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, madani diartikan yang berhubungan dengan hak-hak sipil, berhubungan dengan perkotaan, menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yang berperadaban.
 
Sementara dari Wikipedia bahasa Indonesia, Petrus sang ahli filsafat menjelaskan, Masyarakat Madani (dalam bahasa Inggris: civil society) dapat diartikan sebagai suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan mamaknai kehidupannya.
 
Menurut W.J.S Poerwadarminto, salah satu tokoh sastra Indonesia, ahli perkamusan, dan penulis kamus-kamus bahasa Indonesia, Jawa, Kawi, dan lain-lain, menjabarkan kata-kata slogan madani atau masyarakat madani.
 
Kata masyarakat berarti suatu pegaulan hidup manusia, sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan dan aturan tertentu. Sedangkan kata madani berasal dari bahasa Arab yaitu madinah, artinya kota.
 
Jadi secara etimologis, masyarakat madani berarti masyarakat kota. Meskipun demikian, istilah kota tidak merujuk semata-mata kepada letak geografis, tetapi justru kepada karakter atau sifat-sifat tertentu yang cocok untuk penduduk kota. Dari sini masyarakat madani tidak asal masyarakat perkotaan, tetapi memiliki sifat yang cocok dengan orang kota, yaitu berperadaban.
 
Jika dalam suatu daerah, wilayah, berkembang subur lokalisasi tempat prostitusi dan peredaran narkoba, rusaknya moral penduduknya, maka tentu tidak bisa ditempeli dengan slogan madani. 
 
Seperti di Kota Pekanbaru yang telah dipaparkan di atas, bahwa di kota ini masih tumbuh subur tempat prostitusi, maka belum sepantasnya menjadikan madani sebagai slogannya. Karena sama saja itu akan melecehkan madani. ***
 
Penulis adalah pengamat sosial berdomisili di Provinsi Riau.

Ikuti kami di