Gara-gara Seat Pesawat Tidak Sesuai dengan Boarding Pass, Penumpang Samakan Lion Air dengan Angkot dan Kopaja

Senin,24 September 2018 | 21:09:15 WIB

Gara-gara Seat Pesawat Tidak Sesuai dengan Boarding Pass, Penumpang Samakan Lion Air dengan Angkot dan Kopaja
Ket Foto : Kolase foto pesawat Lion Airlines dengan boarding pass penumpang bernama Satwika 

RIAUSKY.COM - Kabar tidak sedap sepertinya tidak ada habis-habisnya dari maskapai penerbangan berlogo singa terbang, Lion Airlines.

Belum selesainya kasus tentang adanya kesalahan prosedur diperbolehkannya penumpang yaitu Neno Warisman menggunakan mikrofon pramugari.

Kali ini kembali lagi beredar kabar tidak enak dari maskapai Lion Air. Hal ini disampaikan oleh penguna jasa Lion Air bernama Satwika melalui akun Facebook Satwika Ika.

Satwika menuliskan bahwa betapa amburadulnya pelayanan dari Lion Air yang dia terima saat mempergunakan penerbangan tersebut pada 16 September 2018 lalu.

Saat itu dia naik pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan IW 1341. Penerbangan dari Palembang menuju Jakarta.

Satwika bercerita bahwa saat berada di dalam pesawat, dia tidak menemukan kursi yang sesuai boarding pass yang dia miliki.

Dalam boarding pass yang dimilikinya, tertera bahwa dia mendapat kursi nomor di baris ke 35 F.

Namun setelah susah panyah mencari, dia tidak menemukan adanya seat baris 35 di dalam pesawat, karena baris seat pesawat hanya sampai 34 baris.

Lantas dia pun menanyakan apakah dia berada di dalam pesawat yang benar kepada pramugari yang bertugas, karena dia tidak mendapati kursi seperti yang tertera dalam boarding passnya.

Dia pun disebut berada di dalam pesawat yang benar, namun pramugari yang ditanya hanya menyuruhnya duduk dikursi yang kosong dahulu, karena memang pesawat hanya memiliki seat baris ke 34.

Namun saat duduk di kursi yang belum ada penumpangnya, Satwika berulang kali harus berpindah kursi karena pemilik kursinya sudah datang.

Karena tidak mendapat seat yang benar, Satwika pun kembali Kembali bertanya kepada pramugari soal kejelasan apakah dia memiliki seat saat penerbangan nanti.

Pramugari yang bertugas pun hanya menyuruhnya duduk di kursi yang kosong lagi, karena pasti akan mendapat seat saat terbang.

Namun Satwika melakukan protes karena dia merasa tidak diberi kepastian. Karena protes tersebut para Pramugari tidak melayani Satwika dengan baik.

Saat pesawat terbang Satwika pun mendapat tempat duduk, namun dia tidak duduk di kursi seperti yang tertera di Boarding passnya.

Namun saat kejadian Satwika menjelaskan bahwa terdapat penumpang lain bernasib sama dengannya, yaitu tidak mendapati baris ke 35 di dalam pesawat.

Namun dia tidak mengetahui kejelasan dari nasib sang penumpang tersebut, apakah mendapat seat saat pesawat terbang.

Berikut surat terbuka yang dituliskan Satwika di akun facebooknya.

Surat Terbuka untuk Manajemen Lion Air

Dear Manajemen Lion Air,

Tahukah Anda? Minggu lalu, 16 September 2018, saya mengalami kejadian aneh saat terbang menggunakan maskapai Anda.

Bukan, bukan soal delay berjam-jam. Kalau itu sudah menjadi rahasia umum dan tak bisa dibilang aneh lagi. Kali ini saya mengalami naik pesawat, tapi nomor kursinya tidak ada! Nah lhoooo!!

Jadi gini ceritanya. Hari itu saya naik Lion Air dari Palembang ke Jakarta, dengan jadwal penerbangan pagi. Malam harinya saya sudah check in online dan dapat kursi nomor 35F.

Besokannya, ketika saya naik ke pesawat, ternyata kursinya cuma sampai nomor 34. Sekali lagi, cuma sampai nomor 34. Sedangkan nomor kursi saya 35. Terus, saya duduk di mana dong? Lesehan deket toilet?

Kesialan saya bertambah karena saya bertemu dua pramugari yang kurang mengerti sopan santun.

Saya tanya baik-baik apakah saya berada di pesawat yang benar sesuai dengan tiket. Pramugari bilang, benar.

"Kok nomor kursinya cuma sampai 34 Mbak. Saya dapat nomor 35," saya lanjut bertanya

"Standby saja dulu. Nanti dijamin pasti dapat kursi," jawab si pramugari sambil ngeloyor pergi tanpa menjelaskan apa yang terjadi

"Maksudnya standby gimana nih Mbak," kata saya setengah kencang

"Standby saja di belakang dulu," jawabnya sambil tetap memunggungi saya

Saya ikuti instruksinya. Saya mundur ke belakang dekat toilet dan berdiri di sana tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kebetulan, di sebelah saya berdiri seorang pramugari lain. Saya sempat melirik papan nama, kalau tidak salah namanya Sherryl.

"Mbak, kok bisa ya kursinya cuma sampai 34 sedangkan saya nomor 35?" tanya saya saking penasaran

"Di web check in itu konfigurasinya untuk pesawat besar. Sedangkan ini kita pakai pesawat kecil," kata si pramugari tanpa senyum, apalagi bilang maaf.

"Terus saya duduk di mana Mbak," tanya saya lagi

"Duduk di kursi kosong aja dulu," kata pramugari itu

Lagi-lagi saya mengikuti arahan pramugari. Saya duduk di kursi kosong nomor 34 dekat jendela. Belum sampai lima menit nempelin bokong, eh yang punya kursi datang. Pramugari yang tadi nyuruh saya duduk, berbalik mengusir saya. Saya tetap ikuti karena bagaimanapun itu memang bukan kursi saya.

"Terus saya gimana nih Mbak," kata saya setelah terusir dari kursi kosong

"Duduk aja dulu di kursi kosong yang lain," jawab si pramugari sekenanya

"Kalau saya duduk di kursi lain, terus yang punya kursi datang lagi, saya harus berdiri lagi dong? Mau sampai berapa kali saya diri-duduk-diri-duduk?" kata saya dengan kesabaran yang mulai habis

Di luar dugaan. Si Mbak Pramugari yang diduga bernama Sherryl nyolot dan jawab dengan nada tinggi

"Iya, duduk aja dulu. Nanti juga pasti dapat kursi. Ini kan pakainya pesawat kecil. Mbak check in dengan konfigurasi pesawat besar," kata dia dengan ekspresi kesal dan nada tinggi

"Ya itu bukan kesalahan saya Mbak. Lagian mana ada naik pesawat nggak dapat kursi. Kayak naik angkot aja," saya balas dengan nada tinggi juga. Orang-orang mulai menoleh ke arah kami

"Iya, duduk aja dulu. Nanti juga dapat kursi," jawab dia dengan muka super nyolot

"Saya nggak mau duduk kalau belum jelas. Dan saya nggak mau dikasih kursi sisa asal-asalan ya. Saya mau dapat kursi di dekat jendela sesuai saat check in," kata saya

"Ya udah," jawab si pramugari sambil melengos

Akhirnya saya dan si pramugari sama-sama berdiri di ruangan paling belakang. Saya menyaksikan satu per satu penumpang yang punya nomor resmi, duduk di tempatnya masing-masing. Sementara saya tetap berdiri menunggu.

Si pramugari Sherryl tidak mau lagi bicara dengan saya. Dengan nada kesal, dia menyuruh temannya untuk memanggil staff ground dan mengurus saya.

Tidak lama, datang seorang petugas laki-laki berbaju putih dan memakai rompi. Dia bilang hal saya sama: "duduk saja di bangku yang kosong"

"Bangku kosong itu yang mana maksudnya? Tunjukkin dong ke saya. Jangan saya disuruh nyari-nyari sendiri. Emangnya Kopaja apa? jawab saya kesal

Si petugas akhirnya memberi saya kursi di dekat jendela (saya sudah tidak perhatikan nomernya). Oke, akhirnya ada juga kursi sisa untuk saya.

Drama belum berakhir. Ada pasangan suami istri bawa anak yang senasib dengan saya. Setelah sempat berdebat, akhirnya petugas mengarahkan suami istri itu ke bagian depan. Saya tidak tahu lagi kelanjutannya. Sudah lelah jiwa.

Kepada jajaran manajemen Lion Air yang terhormat, tahukah Anda? Sampai saya turun tidak ada satu pun ucapan maaf dari kru Anda. Bahkan ketika turun, saya melewati dua pramugari dan mereka sedang asyik ngobrol bisik-bisik gitu.

Tentu sebagai penumpang saya merasa jengkel setengah mati dengan kejadian ini. Saya merasa dibohongi dan direpotkan dengan kesalahan internal Anda.

Dan, sebagai orang awam, bolehkah saya bertanya? Apakah manifest penumpang sesepele itu untuk maskapai Anda? Apakah dengan memberi kursi sisa lalu persoalan selesai? Apakah dua pramugari Anda tidak dididik bagaimana cara memperlakukan penumpang dengan baik?

Salam, 
[email protected]

Surat terbuka yang dituliskan Satwika ini pun banyak mendapat tanggapan dari para warganet yang menyesalkan pelayanan Lion Airlines. (R04)

Sumber: Tribunnews.com