Kisah Kepala Desa Kampung Balak Hilang dan Ditemukan Berkat Jaringan Telkomsel

Rabu, 16 Agustus 2017 | 20:06:54 WIB

Uteh Aswandi, Kepala Desa di Kampung Balak (Insert) dan kediaman serta kebun cabainya di desa. (Foto: Istimewa)

Penulis: MUKHTAR

SELATPANJANG (RIAUSKY.COM) - Hilang di dalam hutan belantara dan diduga disembunyikan makhluk halus tentu saja hal yang sangat menyeramkan, namun berkat kehadiran sarana komunikasi hal ini bisa membantu pencarian.

Ya, hal-hal ghaib dan mistis memang sudah menjadi hal biasa dalam kehidupan warga di Kampung Balak, Desa Tanjung Peranap, Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Kabupaten Kepuluan Meranti, Provinsi Riau.

Apa yang dialami Uteh Aswandi atau yang biasa disapa oleh warga sekitar dengan panggilan Utih (46) bukan hal baru, beberapa orang lainnya juga sudah pernah mengalami hal serupa.

Selain sebagai petani, sehari-hari, Utih disibukkan dengan tugasnya sebagai penghulu alias Kepala Desa di kampungnya, makanya tak heran jika saat kejadian penculikan oleh makhluk ghaib itu, warga sekampung jadi heboh dibuatnya, apalagi saat ini mau lebaran Idul Fitri.

Nutih pun bercerita panjang lebar kepada riausky.com, bagaimana peristiwa yang hampir saja merenggut nyawanya itu terjadi dan ia tak akan pernah lupa.

"Kejadiannya beberapa hari jelang lebaran Idul Fitri kemarin, makanya pas shalat ied saya pun tak bisa karena masih lemah dan kata dokter disuruh istirahat aja," kata Nutih memulai cerita, Kamis, 10 Agustus 2017 lalu.

Peta Desa Tanjung Peranap (Foto: Istimewa)

Ia pun bercerita, awalnya, ia hendak ke kampung sebelah untuk melakukan kegiatan perdamaian, karena ada yang berkelahi, ia pun berangkat usai maghrib menjelang shalat isya.

Nah, saat tengah melaju dengan sepeda motornya, ia bertemu dengan seorang kakek yang tak dikenalnya yang tengah dalam perjalanan dengan arah yang sama. Sebagai orang kampung, terlintas dalam hatinya untuk menolong, dan itu biasa ia lakukan.

Tanpa melihat dengan jelas orang yang ada di dekatnya, Ia pun menawarkan diri untuk mengantarkan sang kakek ke tempat tujuan, namun siapa sangka, pertemuan itu lah yang menjadi awal malapetaka yang menimpa dirinya.

Singkat cerita, ia pun sampai di tempat tujuan, namun ia kaget, karena perkampungan dimana si kakek tinggal tak pernah ia datangi, dan iya tak mengenali sama sekali tempat itu.

"Kampung itu bagus, sudah maju, jalan-jalannya juga mulus, rasanya tak mungkin di pulau ini ada kampung seperti itu, apalagi dibandingkan dengan Kampung Balak, jauh sekali," ceritanya.

Belum terjawab kebingungannya, ia pun dibawa masuk ke dalam rumah, disana katanya ada dua anak si kakek, 1 laki-laki dan satu perempuan.

Dalam perbincangan tersebut, kakek tersebut meminta Nutih menikahi anak perempuannya. Sontak saja hal itu membuat Nutih terkejut bukan kepalang.

Bukan apa-apa, selain ia memang telah bekeluarga dan dikaruniai beberapa buah hati, pertemuan yang singkat itu juga membuatnya ia makin bingung dengan apa yang tengah dialami.

Selain memang tak mau menikah lagi, perempuan yang dijodohkan dengannya tersebut menurut Nutih juga jelek, hitam dan tak menarik sama sekali.

Penolakan ajakan nikah tersebut membuat keluarga sang kakek marah, meski tak ada tindakan apa-apa yang dialaminya, tiba-tiba saja, kampung tersebut berubah menjadi hutan belantara.

"Saya tersadar, ternyata saya berada di tengah hutan jauh dari kampung, saya pun tak pernah masuk ke dalam hutan ini," jelasnya.

Beruntung ia membawa hape dan powerbank-nya, saat dilihat betapa terkejutnya dia, karena saat itu menunjukkan sekitar pukul 09.00 pagi, artinya ia sudah sangat lama berada di dalam hutan itu. Padahal seingat dia, dia kejadian itu berlangsung singkat.

Sementara di alam nyata, keluarga kebingungan, karena Nutih tak kelihatan batang hidungnya, padahal hal seperti ini tak pernah terjadi. 

Hal ini tentu saja membuat keluarga kelabakan, Nutih pun dinyatakan hilang, orang sekampung yang mayoritas melayu dan berprofesi sebagai petani sibuk mencari kesana-kemari.

Dari sekian banyak warga, Ada yang bercerita kalau ada melihat Nutih masuk ke hutan pakai motor pakai celana pendek. Padahal menurut pengakuannya, saat hilang ia memakai celana panjang.

Nutih mencoba menghubungi keluarga begitu juga sebaliknya, ia pun menceritakan keberadaannya, ia bilang lagi di tengah hutan, tapi tak tahu dimana persisnya, ia pun meminta keluarga mencarinya.

"Nelpon, SMS bisa, video call pun bisa, karena ada jaringan Telkomsel disini, namun kalau video call saat itu lawan bicara tak bisa melihat saya," terangnya.

Merasa takut sendirian di tengah hutan, ia pun terus berlari mencari jalan keluar, sampai akhirnya ia tak sanggup berlari dan berdiri lagi.

Nah, anehnya ia bisa melihat warga yang tengah mencarinya, namun tak ada warga yang bisa melihat dan mendengar teriakannya, padahal kata Nutih jarak mereka sangat dekat.

Singkat cerita, pencarian warga gagal, Nutih pun seperti sudah pasrah dengan nasib yang menimpa dirinya, ia pun sudah memberi deadline kepada kelurga untuk mencarinya. Karena kalau sudah lewat waktunya, ia yakin nasibnya akan sangat malang.

Warga pun membacakan surat yassin dan berdoa agar Nutih bisa ditemukan, karena warga percaya, ini kejadian yang tak lazin, ia disembunyikan makhluk ghaib penunggu hutan itu.

Di tengah keputusasaan itu lah katanya, ada keluarga ya menemukannya di jalan dalam kondisi sangat lemah, bersama warga lainnya, ia pun dibawa pulang ke rumah.

"Pada waktu itu sudah sore, saya pun lupa jam berapa, akhirnya ada yang menemukan saya di jalan, saya pun sudah tak ingat lagi karena sudah tak berdaya," katanya.

Beberapa hari ia diminta untuk istirahat, bahkan ia pun harus melawatkan shalat ied pada waktu itu karena kondisinya yang sangat tidak memungkinkan untuk beraktivitas.

Bahkan katanya, setelah berada di rumah, ia masih diganggu oleh makhluk ghaib itu. "Makanya saya takut sekali," katanya.

Dalam penuturannya kepada riausky.com itu, Nutih pun dengan tegas menyebut kalau tak ada hape dan signal Telkomsel di kampungnya, dengan tanpa bermaksud mendahului yang tuhan, ia tak yakin kalau dirinya akan selamat.

"Untung sayo bisa menelpon, kalau tak, tak tau lah apo yang kan terjadi," cakap Nutih.

Ia pun bersyukur, meski kampungnya jauh dari pusat kota Selatpanjang sebagai ibukota dari Kabupaten Kepuluauan Meranti, namun sejak tahun terakhir, warga sudah bisa menikmati pembangunan yang dilakukan pemerintah.

Diakuinya, untuk sarana telekomunikasi, satu-satunya jaringan yang tersedia hanya milik Telkomsel dan baru 3G, belum 4G.

Namun ia mensyukuri hal itu, selain membantu dalam masalah yang ia alami beberapa waktu lalu, keberadaan Telkomsel di Kampung Balak juga sangat membantu warga dalam menjalan aktivitasnya yang mayoritas petani.

Kalo dulu payah, apa-apa harus pergi, sekarang kan bisa telpon, ya artinya kata Nutih, sejak ada Telkomsel, warga merasa sangat terbantu sekali.

"Saya kalau mau jual cabai tinggal telpon agennya, nanti saya kirim lewat kapal aja, jadi sangat mudahlah sejak ada Telkomsel nih," jelas Nutih.

Keberadaan jaringan Telkomsel juga membantu ia dan warga lainnya berkomunikasi dengan orang lain di luar pulau. 

"Anak saya sekolah di Pekanbaru dan Kampar, kalau ada apa-apa tinggal telpon, tak payah lagi, kalau saya mau datang dan menjenguk, tinggal telpon kalau keluarga mau datang, atau anak mau dijemput tinggal telpon juga," jelasnya.

Ia pun tak memungkiri, tugas-tugasnya sebagai kepala desa juga sangat terbantu dengan adanya tower Telkomsel di kampung balak, kalau ada informasi baik dari kecamatan amaupun dari kabupaten, tinggal telpon juga, semuanya jadi mudah.

Bahkan kampungnya kini makin maju, apalagi sejak beberapa tahun terakhir, Desa Kampung Balak dijadikan pelabuhan utama untuk bersandarnya kapal ro-ro dari Pelabuhan Tanjung Buton Siak, begitu kendaraan turun, maka desa ini yang nantinya akan menghubungkannya dengan ibukota Selatpanjang melalui perjalanan darat yang bisa ditempuh dengan waktu yang relatif singkat.

Kasus Nutih di atas telah menganggambarkan bagaimana pentingnya peran akses telekomunikasi bagi warga, yang berada di wilayah-wilayah pelosok, tidak hanya sebagai alat dan sarana komunikasi, namun hal ini menunjang semua aspek kehidupan warga setempat.

Memang harus kita akui, kondisi geografis sebuah daerah tentu saja berbeda-beda, hal ini pula yang dirasakan oleh Telkomsel sebagai salah satu penyedia jasa layanan telekomunikasi di Indonesia.

Jika melihat data Pusat Hidrografi dan Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) menyebutkan kalau jumlah pulau yang tersebar di seluruh penjuru nusantara berjumlah 17.500 pulau.

Dan lebih hebatnya lagi, saat ini Indonesia berbatasan dengan 10 negara. Yaitu, Negara itu adalah India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Papua Nugini, Australia, Republik Palau dan Timor Leste.

Di Riau, provinsi Riau juga berbatasan langsung dengan negara tetangga, semisal Malaysia dan Singapura, maka tak heran, perlu perhatian khusus yang yang harus diberikan untuk wilayah-wilayah perbatasan dan pelosok-pelosok di Riau.

Telkomsel di Riau pun mengakui masih ada sejumlah daerah di Riau yang masih belum terjangkau signal telekomunikasi, baik oleh Telkomsel sendiri mau operator lainnya.

Sejumlah kendala yang dihadapi antara lain karena akses  yang masih terbatas, selanjutnya tidak adanya jaringan listrik/PLN, akses transport yang harus memakai satelit. Hal ini tentu saja menyulitkan.

Kondisi ini tentu saja tidak hanya tanggungjawab penyedia layanan telekomunikasi seperti Telkomsel, pemerintah daerah harusnya juga dituntut untuk memberikan kemudahan dalam mendukung menbuka isolasi daerah-daerah pelosok di Riau.

Sebagai catatan, saat ini Telkomsel telah melayani lebih dari 48 juta pelangan di Area Sumatera, di mana 23 juta di antaranya merupakan pengguna layanan data. Dari jumlah tersebut, sekitar 4,5 juta pelanggan sudah menggunakan layanan 4G LTE. 
 
Dalam kurun waktu setahun, penggunaan layanan data Telkomsel di wilayah ini meningkat 135%, di mana pelanggan paling sering menggunakan layanan data untuk beraktivitas di media sosial, serta menikmati layanan video dan bertukar pesan instan.
 
Kenyamanan pelanggan Telkomsel di Area Sumatera dalam berkomunikasi didukung lebih dari 28.000 BTS, di mana separuhnya merupakan BTS broadband (3G dan 4G). Layanan 4G LTE sendiri disokong jaringan handal dengan penggelaran lebih dari 2.000 eNode B. (*)

Akses RiauSky.Com Via Mobile m.riausky.com
Baca Juga Topik #Telkomsel Index »
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita"Otonomi" Index »
Loading...