Pemprov Riau Komit Kembangkan Sektor Pertanian dan Perkebunan

Ahad, 25 September 2016 | 18:42:11 WIB
Gubri panen buah saat Hadiri Pembukaan Pekan Daerah XV KTNA Provinsi Riau 2016 di Desa Buluh Rampai Kecamatan Seberida, Inhu
 
PEKANBARU (RIAUSKY.COM) - Sektor-sektor unggulan Riau terus dikembangkan guna memacu percepatan pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat Riau.
 
Hal ini juga yang menjadi komitmen dari Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman guna memacu pengembangan sektor unggulan di Riau, salah satunya adalah pertanian.
 
Seperti yang tergambar saat Gubri menghadiri serta membuka secara langsung Pekan Daerah (PEDA) XV Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) tingkat Provinsi Riau tahun 2016 yang berlangsung di Desa Buluh Rampai, Kecamatan Seberida, Kabupaten Inhu, Kamis, 22 September 2016.
 
Pembukaan PEDA XV KTNA ini berlangsung meriah dengan dihadiri ribuan peserta dan masyarakat dari seluruh Provinsi Riau. Bahkan Gubri Arsyadjuliandi Rachmat memberikan apresiasi luar biasa terhadap penyelenggaraan PEDA KTNA di Kabupaten Inhu ini.
 
"Ini luar biasa, seharusnya bukan Gubernur saja yang hadir, tetapi menteri juga hadir jika kondisinya seperti ini. Atas nama Pemprov Riau, saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh panitia dan Bupati Inhu,”ujar Gubri saat membuka sambutannya.
 
Menurut Gubri, kebutuhan hasil pertanian, khususnya padi di Provinsi Riau mencapai 410 ton setiap tahunnya. Namun sampai saat ini, kebutuhan tersebut belum mampu dipenuhi sepenuhnya oleh provinsi Riau, sehingga kekurangannya masih harus di pasok dari provinsi lain.
 
Meski demikian, Gubri mengapresiasi upaya peningkatan produksi padi di Provinsi Riau yang sampai saat ini terus mengalami peningkatan. Ia berharap melalui kegiatan ini mampu mendorong dan meningkatkan motivasi anggota KTNA untuk meningkatkan hasil produksi padi.
 
Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman, saat membuka secara resmi PEDA ke-XV KTNA tingkat Provinsi Riau tahun 2016 yang berlangsung di Desa Buluh Rampai, Kecamatan Seberida, Kabupaten Inhu
 
Dijelaskan Gubri, Pemprov Riau terus melakukan koordinasi dengan semua pihak agar produksi padi terus mengalami peningkatan. Salah satunya kerjasama antara Pemprov Riau dengan Bank Riau Kepri untuk menyediakan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
 
“Belum lama ini, melalui kerjasama dengan Bank Riau Kepri, telah dikucurkan dana KUR kepada 122 UMKM yang ada di Propinsi Riau. Masih ada Rp 250 miliar lagi dan itu berarti masih tersisa peluang untuk anggota KTNA,” ungkap Gubri.
 
Karena itu, melalui PEDA XV KTNA tingkat Provinsi Riau ini, Gubri berharap ada penyampaian informasi terkait penyaluran kredit perbankan bagi anggota KTNA, sehingga memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan petani.
 
Terkait dengan permohonan tentang keberadaan Bakoluhut dalam Organisasi Pemerintah Daerah, menurut Gubri hal itu nantinya kedepan akan diupayakan pihaknya bersama pihak DPRD.
 
Disamping pertanian, pemprov Riau jug komit untuk mendukung sektor perkebunan.
 
Perkebunan yang cukup berkembang di Riau adalah perkebunan karet dan perkebunan kelapa sawit, baik itu yang dikelola oleh negara ataupun oleh rakyat. Selain itu juga terdapat perkebunan jeruk dan kelapa. 
Untuk luas lahan perkebunan kelapa sawit, saat ini, Riau telah memiliki lahan yang luasnya mencapai 2,2 juta hektar. Perkebunan kelapa sawit yang demikian luas mampu mengekspor sedikitnya 1 juta metrik ton CPO (Crude Palm Oil) per tahun dan menghasilkan pajak ekspor hingga sekitar  14 triliun rupiah per tahun.
 
Melihat besarnya potensi tersebut, harus ada keseimbangan antara pembangunan infrastruktur perkotaan dan pedesaan. Apalagi mayoritas masyarakat Riau  tinggal di pedesaan. Jika kesejahteraan masyarakat pedesaan meningkat maka para guru atau paramedis pasti berduyun-duyun mendatangi pedesaan, sesuatu yang justru makin memberdayakan pedesaan.
 
Pemrov Riau mengharapkan konektivitas nasional dengan Riau terjalin baik, sehingga implementasi perencanaan pembangunan nasional dapat berjalan baik di Riau. Jika ini terus terjadi maka akan makin memberikan arti bagi masyarakat yang juga memberi arti bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
 
Bagi daerah yang tidak bisa dikembangkan untuk sawah, Andi menyebutkan akan mengarahkan daerah tersebut untuk pengembangan pertanian lainnya sepeti jagung, kacang dan beberapa bentuk pertanian lainnya.
 
Saat ini, Pemerintah Daerah Riau juga sudah mencanangkan sasaran pembangunan Daerah Riau harus mengacu kepada Lima Pilar Utama, yaitu: 1. pembangunan ekonomi berbasiskan kerakyatan; 2. pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia; 3. pembangunan kesehatan/olahraga; 4. pembangunan/kegiatan seni budaya; dan 5. pembangunan dalam rangka meningkatkan iman dan taqwa. Pembangunan ekonomi kerakyatan difokuskan kepada pemberdayaan petani terutama di pedesaan, nelayan, perajin, dan pengusaha industri kecil.
 
Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman bersama Bupati Inhu H Yopi Arianto, saat panen buah Melon pada Pekan Daerah XV KTNA Provinsi Riau 2016 di Desa Buluh, Inhu
 
Banyaknya faktor yang mempengaruhi inflasi daerah diantaranya kenaikan harga cabai, bawang, bbm, listrik, daging ayam, daging sapi. Karena itu Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman meminta seluruh Kabupaten-Kota serta dinas  terkait memfokuskan diri dalam mewujudkan target swasembada pangan yang telah dicanangkan pemerintah pusat.
 
"Seperti jalan, harus diperhatikan untuk memperlancar akses. Jika transportasi lancar, biayanya dapat ditekan sehingga membuat harga barang dapat lebih murah. Oleh sebab itu Plt Gubri minta daerah yang belum bisa mengejar progresnya diharapkan segera mengejarnya," ujarnya.
 
Terkait kebutuhan pangan, seperti beras, cabai masih bergantung pada provinsi tetangga dengan mendatangkan dari Sumatera Barat. Pemberdayaan daerah-daerah yang berpotensi menjadi daerah produksi pertanian harus di optimalkan. 
 
"Dinas Pertanian dan Peternakan untuk lebih intensif melakukan koordinasi ke daerah-daerah agar bisa dicarikan solusi permasalahannya," katanya. (R02/Advertorial)

Terkini