Ayah Masuk Penjara, Ibunya Hilang Entah Kemana, Disembunyikan dari Paman dan Neneknya...

Kamis, 02 Februari 2017 | 20:44:15 WIB
Sejumlah bayi seumuran M Zikli yang juga dititipkan di Panti Tunas bangsa yang berhasil diselamatkan oleh KPA dan aparat kepolisian.
PEKANBARU (RIAUSKY.COM) - Banyak kisah yang masih misteri dari tewasnya bayi malang, M Zikli (18 bulan). Salah satunya tentang keberadaan kedua orang tuanya.
 
Ternyata, bayi yang dinyatakan tewas pada 16 Januari 2017 lalu itu masih memiliki kedua orang tua lengkap. Ayahnya sampai saat ini sedang menjalani masa tahanan di Lembaga Pmasyarakatan Pekanbaru, sedang ibunya, Sri Lestari lenyap begitu saja tak tahu rimbanya.
 
Seperti penelusuran faktariau, Ketika bayi 18 bulan itu masih menginjak umur 6 bulan, dia dititipkan sang ibu Sri Lestari di panti asuhan yang berada di Jalan Lintas Timur 13, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru. Penitipan ini tanpa diketahui keluarga Sri Lestasi, seperi Dwiyatmoko selaku paman Ziqli maupun keluarga ayahnya.
 
"Kami gak tahu kapan Ziqli dititipkan di sana, dan kenapa karena kami masih ada," kata paman Ziqli, Dwiyatmoko kepada wartawan di kediamannya di Jalan Seroja, kecamatan tersebut, Rabu 1 Februari 2017 petang.
 
Pria dipanggil Dwi ini menceritakan, kecurigaan Ziqli tidak lagi diasuh saudaranya berawal ketika Sri Lestari berkunjung ke rumah ibunya, Suparmi. Sang nenek heran kenapa Ziqli tidak dibawa ke rumahnya.
 
"Ketika ditanya ibu saya, ibunya Ziqli menjawab sedang berada di rumah mertuanya," kata Dwi.
 
Alasan ini awalnya bisa diterima dengan pertimbangan Ziqli masih bayi. Sri kemudian beberapa kali datang lagi, tanpa kehadiran Ziqli. Kecurigaan kian kuat kenapa keponakannya itu tak pernah dibawa.
 
"Jawabannya masih sama, di rumah mertua," cerita Dwi bahwa hal itu terjadi menjelang pertengahan tahun 2016.
 
Dwi dan ibunya Suparmi kemudian mendatangi rumah mertua Sri di Jalan Agus Salim. Keduanya kaget ketika tak menemukan Ziqli di sana. Kala itu, Sri tidak ada di rumah mertuanya karena sejak menikah sudah menyewa sebuah rumah.
 
"Mertua Sri malah menanyakan dimana Ziqli, kenapa gak dibawa. Karena menurut pengakuan Sri kepada mertuanya, Ziqli dititipkan di rumah ibu saya," sebut Dwi sambil menyebut Sri langsung menghilang sejak kejadian itu.
 
Dwi dan ibunya hanya peduli kepada keberaan Ziqli karena ayahnya sedang menjalani hukuman. Ziqli kemudian dicari ke beberapa lokasi di Pekanbaru, dengan perkiraan sudah dibawa Sri ke suatu tempat.
 
Usai Lebaran Idul Fitri pada tahun 2016, Suparmi mendapat kabar dari salah satu pengelola panti asuhan Yayasan Tunas Bangsa bahwa ada anak atas nama M Ziqli.
 
"Kemudian kami cek ke panti di jalan lintas itu, waktu itu ada Ziqli. Pengakuan pengelola, Ziqli diserakan ibunya ketika masih berumur tak sampai 6 bulan," sebut Dwi.
 
Dwi dan Suparmi berniat mengambil Ziqli, tapi harus seizin Lili Rachmawati sang pemilik yayasan. Keduanya kemudian bertemu Lili dan perempuan yang sudah ditahan Polresta Pekanbaru itu mengatakan tidak ada penghuni atas nama M Ziqli.
 
"Kami pulang dengan harapan diambil besoknya. Pas datang ke panti itu lagi, M Ziqli sudah tidak ada lagi. Kemudian kami dapat kabar M Ziqli ada di panti KM 20 jalan lintas, kemudian pindah ke Jalan Bukit Rahayu. Ada panti juga di sana," sebut Dwi.
 
Sejak kepindahan itu, M Ziqli tak pernah ditemui lagi. Lili selalu melarang Dwi dan Suparmi menemui Ziqli, apalagi untuk membawanya pulang, dengan alasan sudah mengeluarkan banyak uang untuk susu dan makanan.
 
Beberapa bulan berlalu, tepat pada 16 Januari 2017, Lili datang ke Dwi dan Suparmi membawa kabar buruk. Lili menyebut Ziqli telah meninggal dunia karena mengalami demam tinggi.
 
"Tentu saja saya kaget. Ditanya apa sakitnya, Lili gak ngasih tahu, cuman demam aja," kenang Suparmi sedih.
 
Ziqli kemudian dikuburkan pada 17 Januari 2017 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jalan Seroja. Sebelum itu, sang paman kemudian mendapat kabar dari temannya yang bekerja di rumah sakit bahwa ada yang tak beres‎ dengan jasad Ziqli.
 
"Saya cek, ada luka lecet di pipi. Punggungnya membiru, dan kemaluannya membesar. Saya kira ini tak wajar, kemudian saya laporkan ke polisi," kata Dwi.
 
Kecurigaan Dwi ternyata dikuatkan dengan hasil outopsi Rumah Sakit Bhayangkara. Terdapat tanda tanda penganiayaan yang diduga diak‎ibat kekerasan tumpul.
 
"Harapan saya, Lili dihukum berat mas. Dijerat pasal berlapis, kalau perlu dihukum mati, soalnya ini terkait nyawa," tegas Dwi. (R04/frc)

Terkini