Reza Indragiri Kritik Rencana Pemerintah Datangkan Grup KPop SNSD di Hari Proklamasi

Ahad, 30 Juli 2017 | 17:24:54 WIB
Reza Indragiri Amriel

JAKARTA (RIAUSKY.COM) - Terkait dengan rencana pemerintah mendatangkan Grup SNSD asal Korea untuk memeriahkan Hari Proklamasi mengundang tanya sejumlah kalangan.

 

Salah satunya dari Reza Indragiri Amriel yang kini jadi pengurus di Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI).

 

"Anggaplah benar bahwa SNSD dilahirkan lewat keuletan dan kedisiplinannya, tapi apakah para penggemar KPop sungguh-sungguh menyukai grup-grup Korea dikarenakan dua alasan itu? Lebih gamblang lagi; apakah keuletan dan kedisiplinan adalah tabiat yang para fan lihat dan panuti ketika menonton idola mereka itu?" ujarnya sembari bertanya.

 

Reza menyebutkan, Levi Reyes alias Jonginationss (KkamJongin) dalam tulisannya yang berjudul "How do kpop influences Teenage?" merangkum bagaimana KPop memengaruhi anak-anak muda. Di antaranya serbaneka warna dan kostum memikat mata, lirik yang unik, betapa pun tidak dipahami oleh audiens non-Korea. Selain itu artis KPop juga pemain Koreanovela (sinetron Negeri Ginseng). Bodi menjadi jaminan 'mutu'. Di samping gerak tari nan heboh.

 

"Lebih ilmiah, tahun 2009, pengamat musik Korea menyebut, sukses KPop merupakan efek drama Korea. Riset di Korea menyimpulkan bahwa popularitas KPop diperkuat oleh sentimen anti-Jepang, dukungan pemerintah Korea, dan koreografi yang menawan (Cho, 2005)," paparnya.

 

KPop juga sukses karena menghadirkan sebuah genre musik yang bergetaran dan berkilauan (huruf Korea, 2010). Kemiripan budaya Asia juga merupakan penyebab lain (Cai, 2008). Di Hong Kong, KPop meraup keuntungan dari musik lokal yang stagnan.

 

"Jadi benarkah keuletan dan kedisiplinan yang bakal menjadi muatan positif dalam pentas KPop bagi pemirsa khususnya remaja Indonesia?" kritiknya.

 

Reza melanjutkan, butir ketiga Trisakti menyebutkan berkepribadian di lapangan kebudayaan. Nah, apakah fitur-fitur superfisial KPop seperti tertulis di atas yang akan disemikan sebagai kepribadian kita. 

 

"Utopis agaknya. Lha wong, The Beatles dan Koes Bersaudara saja dipandang sebagai kontrarevolusi akibat penampilan luar mereka. Awas, Bung Karno bisa tiba-tiba bangkit lalu menjerit, "Saudara-saudara, revolusi belum selesai!!!!"," pungkasnya. (R02/Jpnn)

Terkini