BENGKALIS (RIAUSKY.COM) - Akun FB atas nama Fisdaus Al Bantani, menyampaikan keluh kesahnya soal ekonomi yang semakin terseok-seok di Kab. Bengkalis pada Bupati Amril Mukminin, melalui Postingnya di Grup Bengkalis Info, Rabu (28/03/17) dini hari.
Berbagai tanggapan dari postingan ini, mayoritas senada, yakni setuju dengan pernyataan dari akun FB Fisdaus Al Bantani tersebut, bahwa masyarakat Bengkalis telah masuk dititik ambang batas kesulitan ekonomi, yang sampai saat ini tidak ada respon positif dari sang Bupati. Sedangkan Bengkalis merupakan Kabupaten terkaya nomor 2 se-Indonesia.
Berikut surat terbuka untuk Bupati Bengkalis Amril Mukminin yang mendapat ratusan komentar dan suka.
Assalamualaikum pak, rasanya tak perlu mengawali surat ini dengan pertanyaan kesehatan, karena sepertinya bapak selalu sehat dan nyaman di setiap seremonial yang tak jelas peruntukannya dan cenderung menghamburkan uang yang entah datang dari mana. Dan semoga saja bukan uang rakyat yang sampai hari ini masih kami tunggu pembayarannya, yang semakin kesini semakin gelap kami rasakan, yang semakin hari semakin sulit kami dapatkan.
Pak bupati yang SEMPAT SAYA SANJUNGI, sengaja saya sertakan nama daerah pada judul diatas, karena tulisan yang lalu dirasa belum spesifik menjurus ke daerah ini, dan menjadi bahan buat tim penjilat bapak memplesetkannya ke daerah lain atau men-generalisir untuk semua daerah.
Pak bupati, taukah bapak bahwa negeri ini hampir LUMPUH? Perekonomian semakin LESU? Menjadikan rupiah menjadi seperti sesuatu yang TABU? Yang membuat hutang semakin menumpuk, membuat kepala terus merasakan suntuk dan berkecamuk?
Perekonomian masyarakat selama ini tak lah sesulit sekarang pak, tidak lah sampai berbulan bulan membuat dapur tak berasap pak, dan tak juga membuat rentenier semakin galau pak. Jangan terkejut pak jika kami harus meminjam ke mereka, karena pendamping ekonomi sampai hari ini belum bapak SK kan, yang berimplikasi kami tak bisa meminjam uang ke bank desa pak. Mungkin bapak terlalu sibuk menjadi penasehat organisasi hingga lupa ada hal yang penting sangat perlu penyelesaian dari bapak.
Assesment yang menjadi kewajiban bagi suatu daerah sebagaimana diamanatkan undang-undang, sampai hari semakin tak jelas kapan dilaksanakan. Kenapa saya singgung masalah ini pak? Bukan ingin mencampuri urusan pemerintahan bapak yang semakin TAK JELAS ARAH dan TUJUANNYA pak, namun karena dengan tidak dilakukannya assesment tersebut berdampak pada pelaksanaan kegiatan di semua SOPD pak, tak ada yang ditunjuk menjadi apa, dan tak tau harus menugaskan kepada siapa. Dan sudah dapat ditebak pak, masyarakat lah yang menjadi korban akhirnya pak. Kenapa? Bapak pasti tau lah alasannya.
Pak bupati, jika semua kendala yang hari ini terjadi karena masalah uang yang masih tersendat proses pentransferannya dari pusat sana, kami SANGAT INGIN percaya bahwa bapak sedang mengusahakan yang terbaik agar sendatan tersebut cepat mencair dan mengalir seperti bagaimana biasanya. Namun pak, sulit untuk memenuhi ekspektasi tersebut pak. Kenapa? Lagi lagi, kami disuguhkan tontonan seremonial bapak yang sibuk bersafari, persemian dan pelantikan yang tak ada korelasi dari penyelesaian permasalahan ini.
Pak bupati, sangat miris kami mendengarnya pak, ingin kami tutup telinga karena tak sanggup bahkan tak ingin mencerna informasi ini pak, tapi inilah kenyataannya pak, inilah realita yang terjadi di lapangan pak, bahwa tim bapak hari ini sudah semakin menjadi VAMPIRE penghisap segala sesuatu yang bisa dihisap pak, bahkan lebih PARAH dari pemerintahan lalu yang selalu bapak ceritakan ditiap kesempatan kampanye dulu pak, yang menjadi celaan dan bahan candaan bapak. Yang lebih miris lagi pak, SATU-SATUNYA WAKIL BUPATI yang di NON-JOB kan telah terjadi di daerah kita ini pak, yang entah apa sakit hati bapak kepada pak wakil, hingga tega bapak memberikan kewenangan tanpa batas, sampai sama sekali tak punya kewenangan.
Lihatlah pak, inilah negeri yang bapak janjikan ketika kampanye dulu, yang begitu menggugah asa dan rasa pada dada tiap pemilih bapak, namun inilah yang bapak berikan kepada kami para pemilih bapak.
Entah akan menjadi seperti apa negeri ini kedepan pak, jika anak cucu kami bertanya pada masa siapa Bengkalis ini mengalami kemunduran yang sangat mendalam, mungkin cerita pahit ini yang akan kami dongengkan sebelum tidur pak, dan berharap ini merupakan kepala daerah terakhir kami yang membuat masyarakatnya sangat sengsara pak.
Mohon maaf atas keterus terangan ini pak, karena mungkin hanya dengan seperti ini bisa menggugah hati nurani bapak. Karena para penasehat yang berada di sekeliling bapak, tidak akan menyampaikan hal ini kepada bapak, karena mereka sibuk berkelahi mendapatkan KUE yang semakin semakin sedikit porsinya pak. Bagaimana KUE untuk kami? Ah sudah lah pak, kami sudah tidak mengharapkannya lagi pak, kami mahfum untuk mereka saja masih kurang, apalagi kami masyarakat bapak. (R15)