BANGKINANG (RIAUSKY.COM) - Ada-ada saja kejadian aneh yang terjadi di Desa Suka Mulya, Kecamatan Bangkinang.
Seorang warga, Slamet (58) beralamat di RT 05 RW 02 Dusun I Desa Suka Mulya Kecamatan Bangkinang menanam suweg, sejenis tanaman obat di samping rumahnya, ternyata yang tumbuh bunga bangkai.
Beberapa hari ini ratusan pengunjung meramaikan pekarangan bapak yang juga Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Suka Mulya ini.
Bapak dua orang anak menceritakan ikhwal tumbuhnya bunga bangkai di samping pojok belakang rumahnya, hanya berjarak sekira 3 meter dari pojok belakang rumahnya.
Seperti dimuat suarakampar, Slamet menceritakan, ia pertama kali melihat kemunculan bunga bangkai ini pada Jum'at (7/10/2017) sore.
Awalnya bunga ini terlihat masih kecil dan berwarna hijau. Namun pada Sabtu (8/10/2017) bunga ini mulai bunga ini benar-benar sudah mekar dan mengeluarkan bau busuk yang tercium hingga sekitar 20 meter.
Bagian tengah bunga berwarna merah hati dan batang dibawahnya dibalut seperti serbuk kuning. Kelopaknya berwarna merah hati dan bagian batang bawah berwarna hijau.
Lantas, bagaimana tanaman suweg ini bisa berubah menjadi bunga bangkai? Sebagaimana disampaikan Slamet, ia benar-benar tak menyangka suweg yang ditanamnya ini berubah menjadi bunga bangkai.
Tanaman suweg ini telah ada di pekarangan di sekitar rumahnya sejak tahun 2005 lalu. Ia membawa bibitnya dari kampung halamannya di Yogyakarta.
Menurut teman-temannya suweg ini adalah tanaman obat. Namun dia tidak tahu persis bisa digunakan untuk obat apa. Selain untuk obat, umbinya bisa untuk dimakan, rasanya seperti keladi.
"Umbinya itu dikukus dulu, rasanya manis, pulen, tapi agak ada gatal-gatalnya," beber Slamet mengaku, meski sudah menanam suweg sejak tahun 2005 namun baru sekali makan umbinya ini. Kemudian batang suweg ini yang sudah mati enak disayur.
Tanaman suweg yang dibiarkan tumbuh beberapa batang di pekarangannya ini sering diminta warga lainnya.
Terakhir, lima bulan lalu ia mengambil umbi dari dua batang suweg yang sudah layu. Umbi yang batang pertama dimasaknya dengan cara dikukus dan kemudian dimakan bersama keluarganya, dan umbi dari batang yang satu lagi dibiarkan tergeletak di lantai belakang rumahnya.
Namun ternyata di umbi ini tumbuh tunas. Maka ia memindahkannya ke samping rumah di bagian belakang. Di tempat ini sebelumnya suweg hidup mati silih berganti. Nah, di sinilah tumbuhnya bunga bangkai itu.
"Setelah ditaruh di tempat sekarang turun hujan. Setelah lima belas hari bukan daun yang tumbuh tapi bunga bangkai. Kalau orang bilang bunga bangkai," kata Slamet. Bunga bangkai ini tingginya sekitar 30 centimeter dengan lebar kelopak 45 cm.
Ketika ditanya apa motivasinya menanam tanaman suweg ini? Dikatakannya, kalau di Jawa banyak tanaman jenis umbi umbian. "Kalau musim paceklik. Nenek-nenek dulu bilang banyak makanan yang sangat berguna atau sekarang dibilang obat herbal alami. Makanya saya menanam ini," katanya. (R10/Skc)