TELUKKUANTAN (RIAUSKY.COM)- Pembangunan Kabupaten Kuansing yang berjalan lambat saat ini idealnya membutuhkan kerja sama dan kekompakan. Sayangnya, duet Mursini-Halim mulai didera perpecahan, kenapa?
Kisah suka duka sebelum menjalani biduk sebagai pemimpin daerah antara Mursini-Halim-Zulkifli diungkapkan secara gamblang oleh Halim. Mulai dari persoalan kehabisan uang untuk maju pada Pilkada, menjual kebun lantas terpilih dan terakhir, jalan sendiri-sendiri.
Tak terima dengan perlakuan tersebut, memasuki tahun ke-3 memimpin Kuantan Singingi (Kuansing), Wakil Bupati Halim menuntut Bupati Mursini untuk menjalankan komitmen yang dibuat pada tahun 2015, ketika hendak maju pada Pilkada serentak.
Menurut Halim, sampai saat ini ada komitmen yang tak dijalankan oleh Mursini. Bahkan, ia merasa dirinya mulai ditinggalkan dalam menjalankan roda pemerintahan.
"Ini saya ceritakan fakta sebenarnya ya, 2015 itu kami bertemu bertiga, saya, Pak Zulkifli dan bupati (Mursini). Dalam pertemuan itu, Pak Zulkifli 100 persen mendukung saya sebagai Wabup dan Pak Mursini sebagai bupati. Karena itu, kami berkomitmen Pak Zulkifli sebagai Sekdanya," papar Halim mengingat pertemuan enam mata 'Trio MH-Z'\
Setelah berjalan, lanjut Halim, pasangan Mursini - Halim butuh 7 kursi dan mereka sibuk bergeriliya mencari partai pengusung. Melobi partai sangat banyak, sedangkan keuangan terbatas.
"Dalam mencari partai, dana yang saya siapkan habis. Tak perlulah saya rincikan berapa besaran nilainya," kata Halim, Rabu (31/1/3018) di ruang kerjanya.
Karena dana sudah tidak ada, lanjut Halim, Trio MH-Z kembali duduk bersama membicarakan keuangan. Dalam pertemuan tersebut, solusi yang didapat adalah meminjam ke pihak ketiga.
"Wabup yang jamin. Karena itu, tentu minta pernyataan dari Mursini dan Zulkifli. Terjadilah kontrak itu."
"Dana pinjaman ini, digunakan untuk mengurus partai sampai ke pemenangan dan akan dibayar setelah duduk, dilantik sebagai Bupati Kuansing," tambah Halim.
Halim awalnya tak ingin menyebutkan kepada siapa mereka meminjam dan besaran nilainya. "Sama saudara saya."
"Sementara, sampai hari ini pemerintahan Mursini - Halim tak jelas dengan Wabupnya. Utang ini bagaimana, sementara Pak Zulkifli tak jadi dilantik sebgai Sekda," ujar Halim.
Dikatakan Halim, jika komitmen awal dijalankan, maka utang kepada pihak ketiga akan dibayar secara bersama-sama. "Dana dari mana, terserah kami. Karena Pak Zulkifli tak jadi dilantik, beban sama Mursini - Halim. Kendati demikian, Pak Zulkifli tetap berutang."
"Ini fakta ya, dana kampanye ditanggulangi Wabup. Wabup jual kebun 36 hektare sama adeknya senilai Rp4,5 Miliar. Sedangkan Mursini jual kebun 8 hektare senilai Rp1 Miliar dan memang Wabup yang mengambilnya. Bukan untuk pribadi, tapi untuk kampanye. Apa bisa Pilkada tanpa dana? Apa bisa hanya dengan doa?" beber Halim.
Menurut Halim, dana kampanye tersebut sudah dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mengenai utang ini, dirinya sudah berbicara dengan bupati. "Tapi jawabannya tak jelas," ungkap dia lagi.
Sejak adanya surat pernyataan utang kepada pihak ketiga, Halim terus membayar bunga senilai Rp100 juta per bulan. Menurutnya, ia membayar bunga kepada adiknya dengan cara potong hasil sawit. "Sejak 2015 saya bayar bunga," imbuhnya.
Baru-baru ini, tersiar kabar tentang adanya keluarga bupati yang ingin membayar utang tersebut. Halim mengakui akan hal itu. "Tapi itu hanya sebatas bicara saja. Realisasinya bagaimana?" tantang dia.
"Kalau ada oknum siapa saja yang ingin membayar penuh silahkan. Bukan bicara pinjaman saja ya, tapi penuh dengan biaya pribadi. Kalau sudah, tak perlu, nonjob-nonjobkan saya. Saya siap berhenti," tegas Halim.
Setelah dua tahun mendampingi Mursini, Halim mengaku sulit dalam merekom seseorang. Bahkan, dari tiga kali pelantikan hanya sekali dia dilibatkan.
"Yang terakhir, sama sekali tak diajak berunding. Tak ada kebersamaan dalam menjalankan roda pemerintahan. Terlalu sulit," tutur Halim.
Lantas, bagaimana komunikasi Halim dan Mursini? Menurut Halim, Mursini tak pernah mengangkat telpon dan membalas SMS yang dikirimnya.
"Kalau dia berniay baik, pasti akan menghubungi balik. Tapi, kenyataannya tak ada," pungkas Halim.(R04/goriau)