INNALILLAHI...Kakek Padli Tewas Diserang Babi Hutan, Cucunya Luka-luka

Kamis, 19 Juli 2018 | 11:51:16 WIB
Ilustrasi

RIAUSKY.COM - Malang betul nasib yang dialami Padli (55), ia tewas usai diseruduk dan digigit babi hutan di depan rumahnya di Kampung Cimapag RT07/RW05, Desa Cikarae Thoyyibah, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi.

Kakek yang sehari-harinya mengajar ngaji itu tewas akibat sejumlah luka di tubuhnya.

Sang cucu Fahra (2,5) yang tengah bersama Padli di depan rumah juga terkena gigitan hewan liar tersebut. Beruntung balita malang itu berhasil diselamatkan dan mendapat penanganan medis.

Kapolsek Cikidang, AKP Kuswandar peristiwa itu terjadi sekitar pada Rabu (18/7/2018) sekitar pukul 09.30 WIB. Saat itu Padli, Ibah (45) mendengar suara gaduh dari depan rumahnya.

"Istri korban mendengar suara gaduh di depan rumah, saat diperiksa ternyata dia melihat suaminya sedang digigit babi hutan di bagian betis kiri dan kanan bergantian," jelas Kuswandar kepada detikcom.

Tidak jauh dari tempat suaminya tergeletak, kata dia, cucunya juga dalam keadaan tersungkur akibat serangan hewan liar tersebut.

"Tangan cucunya terluka digigit juga," jelas dia seperti dikutip dari Detikcom.

Akibat luka yang diderita, nyawa Padli tidak berhasil diselamatkan. Korban menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Palabuhanratu, Sukabumi.

"Korban yang berprofesi sebagai guru ngaji itu meninggal dunia di diperjalanan, sementara cucunya saat ini telah mendapat penanganan medis di rumah sakit," tutur dia.

Dihubungi terpisah, Ketua Forum Koordinasi SAR Daerah (FKSD) Okih Fajri mengaku warga sempat melakukan pengejaran terhadap babi hutan tersebut.

"Warga yang melihat kejadian itu sempat mencoba membantu dan memburu babi berwarna hitam itu dengan mengerahkan anjing pemburu. Personel kami yang juga anggota Perbakin akhirnya berhasil membunuh seekor babi dengan cara ditembak yang diduga menyerang korban," kata Okih kepada wartawan.

Menurutnya kehadiran babi hutan di pemukiman warga dipicu oleh musim kemarau. Babi hutan turun gunung untuk mencari sumber air.

"Di sekitar lokasi kejadian memang masih terdapat hutan dan perkebunan yang berbukit. Pada musim kemarau ini biasanya sumber air kering sehingga babi dan hewan liar lainnya mencari air hingga ke permukiman warga," ujar Okih. (*)

Terkini