JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Menurut Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Ketua Pusat Studi Anti-Aging Medicine serta Program Magister dan Doktor Kekhususan Anti-Aging Medicine, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, penurunan fungsi fisik dan hormon (khususnya hormon testosteron) pada pria sebenarnya sudah terjadi sejak usia 30-an. Hanya banyak pria yang tidak menyadarinya. Apalagi jika selama ini mereka memiliki gaya hidup yang kurang sehat dan tidak menyadari hidup di lingkungan yang terpapar racun. Mulai dari udara yang dihirup, makanan yang dikonsumsi, orang-orang di sekitar yang membawa energi negatif ke dalam diri mereka.
Di sinilah peran Anda sebagai istri sangat dibutuhkan. Namun sebelum membantu mereka, Anda perlu memahami proses perubahan yang terjadi pada pria seiring usia mereka.
Ketika menginjak kepala 4, baik suami maupun istri mulai ogah-ogahan berhubungan seks. Selain karena memiliki prioritas lain, perubahan hormonal di usia ini memang mengganggu fungsi seksualitas Anda berdua. Banyak pria di usia ini yang mengalami masalah disfungsi ereksi. Mereka juga mulai mengalami gejala-gejala penurunan kadar testosteron yang mengarah pada terjadinya andropause. Faktor psikis seperti kejenuhan akan rutinitas dan stres tinggi juga dapat mengganggu fungsi seksual pria.
Seperti halnya wanita yang memasuki masa menopause, di usia ini pria pun mulai uring-uringan. Rasa percaya diri mereka terganggu karena merasa performa seks mereka tidak sehebat di awal usia 30, terutama saat ereksi. Hanya terkadang mereka tidak menyadarinya. "Biasanya pasangannya yang akan lebih dahulu merasakan perbedaannya. Dulu bisa sekeras 'timun', sekarang kok, menjadi 'sosis'," ujar Wimpie.
Di samping fungsi seksual, kesuburan pria juga menurun. Kuantitas dan kualitas sel spermatozoa juga menurun. Jadi, tidak benar anggapan yang menyatakan bahwa kesuburan pria tak berpengaruh usia. Karena itu dianjurkan pada pasangan suami-istri usia di atas 40-an untuk tidak mempunyai anak lagi.
Aktivitas seksual untuk pria di atas usia 50 tahun mengalami perubahan yang cukup signifikan. Meski testosteron pria sudah mulai menurun di usia 40-an, tetapi di usia ini tanda-tanda penurunannya makin jelas. Kondisi ini jika tidak segera diatasi, dapat memicu munculnya berbagai penyakit degeneratif yang memengaruhi kinerja mereka di kantor maupun di ranjang.
Meski dikatakan pada awal usia 50 pria mulai mengalami gejala andropause, tetapi sebuah penelitian menyebutkan, pada usia 55 tahun pria secara konsisten masih tertarik pada seks dibandingkan wanita yang rata-rata mengalami menopause di usia 51 tahun. Menurut Dr. Stacy Lindau dari University of Chicago, kini proporsi pria berusia 50-60 tahun yang mengatakan masih tertarik pada seks meningkat pesat dibanding pada tahun 1996. Penyebabnya antara lain karena kini sudah ada obat disfungsi ereksi untuk pria.
Begitupun kaum pria di usia ini kerap menyangkal masalah gangguan ereksi yang mereka alami, karena masih ingin terlihat jantan di mata pasangan (seksual) nya. Mungkin ini pula yang menggerakkan mereka untuk membuktikan hal itu, khususnya kepada wanita-wanita muda. Gairah mereka seolah mulai bergejolak lagi seperti di masa puber, sehingga kalau kebablasan bisa memicu perselingkuhan.
Usia 60-an:
Pada masa ini pria mengalami masa andropause, dimana produksi hormon testosteron mengalami penurunan drastis hingga mencapai 50% dan betul-betul habis di usia 80-an. Fase ini makin memicu stres mereka, apalagi jika ditambah dengan masalah disfungsi ereksi atau prostat. Akhirnya mereka jarang mencapai klimaks dalam urusan seks. Namun, jika kondisi kesehatan dan kualitas hubungan Anda tetap terjaga, kehidupan seks masih 'asik-asik' saja (meski hanya sekadar berpelukan).
Pada kebanyakan pria, tampaknya usia ini, seks bukanlah menjadi porsi yang utama, bahkan menjadi kebutuhan yang kesekiannya. Sebab diusia ini, hormon testoreronnya makin berkurang jauh.
Tapi, memang tak bisa disamaratakan semua pria seperti ini. Karena ada kans juga pria yang berusia di atas kepala 6 masih oke saja bila berada di atas ranjang. Bisa jadi, itu juga yang dialami oleh H Soto ketika menginginkan melakukan hubungan intim kepada istrinya, Hj Isa yang sudah berusia 60 tahun. (R05)