WAHHH....Tuak Kini Tidak Memabukkan, Diklaim Bisa Sembuhkan Ginjal dan Gula Darah

Senin, 25 November 2019 | 12:55:31 WIB
Seorang warga memanjat pohon enau yang menjadi penghasil air tuak.

JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Tuak selama ini identik dengan nama minuman memabukkan. 

Namun tidak di Kecamatan Batulayar, Lombok Barat. Minuman ini diklaim sebagai minuman yang sehat dan menyegarkan. 

Bahkan, informasi yang juga tak kalah membuat ramai masyarakat mengkonsumsinya adalah, tuak juga mempunyai khasiat menyembuhkan penyakit gula darah dan ginjal. 

Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid, Ahad (24/11/2019) mengatakan minuman tuak ini berkhasiat menyegarkan tubuh dan mengobati penyakit ginjal.

Meski demikian, kata dia, banyak orang lain tidak mengetahui akan manfaat dari tuak itu. 

Dikatakan dia, "Kami memperkenalkan tuak manis ini dalam festival minum Tuak manis 3000 gelas, diharapkan mampu memperkenalkan lebih luas baik kancah nasional maupun internasional," ujar Bupati.

Melalui acara tersebut, Fauzan ingin mengubah stigma masyarakat yang selama ini menganggap tuak dikenal sebagai minuman yang memabukkan.

"Kita akui, kalau udah ngomong soal tuak di pikiran orang pasti negatif. Tapi inilah khas minuman kita, di Lombok ada tuak yang enak tidak memabukan, dapat mengobati penyakit ginjal," tuturnya.

 

Dilansir dari kompasiana, Tuak merupakan jenis minuman yang terbuat dari pohon Konao atau  pohon Aren atau enau. 

Pohon-pohon aren  ini dapat ditemukan diseluruh dataran wilayah Indonesia. 

Pohon  aren ini batangnya mirip dengan batang pohon kelapa, namun daunnya agak berbeda, warna batangnya juga berbeda serta buahnya juga berbeda.

Buah pohon aren, berukuran kecil kira-kira ukurannya persis seperti ukuran buah langsat. Bahkan buahnya dapat diolah menjadi makanan  yang sering mereka sebut kolang kaling, 

Tangkai tempat menjuntainya  buah  inilah yang diproduksi menjadi tuak. Sageru atau tuak inilah yang sering dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan.

Tuak  sebenarya merupakan minuman yang tidak memabukkan bila dikonsumsi.

Pada awalnya,  rasa dan warna  tuak sama seperti air putih biasa. A adapun rasanya  akan berubah menjadi manis karena sudah dicampur dengan daun boli (bahasa Bugis) yang diiris-iris.

Daun boli ini kemudian dicampur menjadi satu dengan jangka waktu sekitar satu hari. Setelah pencampuran itu selesai maka rasa Tuak atau sageru itu berubah menjadi manis  dan enak di konsumsi.

Namun, karena keinginan manusia yang berlebihanlah, yang menyebabkan tuak itu diolah lagi, supaya dapat memberikan efek memabukkan. 

Agar efek memabukkan itu bisa dikonsumsi Untuk itu dicarilah sesuatu yang mampu memberikan efek memabukkan. Efek memabukkan ini disebabkan oleh pencampuran akar-akar kayu atau kulit-kulit kayu. 

Sebagian pihak  biasa menyebut akar kayu itu dengan  nama akar kayu ular. Akar kayu itu kemudian di rendam bersama air tuak  yang  jernih  hingga rasanya  berubah menjadi pahit dan warnanya menjadi putih.(R04)
 

Terkini