10 Tahun Memimpin, Firdaus-Ayat Sukses Wujudkan Kota Pekanbaru Smart City Madani

Senin, 28 Maret 2022 | 15:02:30 WIB
Firdaus-Ayat Cahyadi semasa kampanye periode kedua.

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Hampir genap 10 tahun kepemimpinan Dr Firdaus MT-Ayat Cahyadi SSi menjadi wali kota dan Wakil Wali Kota Pekanbaru. 

Banyak hal yang berubah. Namun, pastinya, Pekanbaru terus bergerak maju. Dari sebuah kota besar, kini Pekanbaru bertumbuh menjadi kota metropolitan. 

Dari sebuah kota Metropolitan Madani, Pekanbaru bergerak menjadi Kota Smart City Madani. 

Jalan panjang yang dilalui dalam dua periode kepemimpinan tersebut bukan sebatas mengejar program, tapi pencapaian visi dari sebuah kota kebanggaan di jantung Sumatera. 

Seperti apa geliat pembangunan Kota Pekanbaru dalam 2 periode kepemimpinan pria berjuluk 'Sang Visioner' itu? 

Perjalanan Awal

Pasangan Firdaus-Ayat Cahyadi mulai memimpin Kota Pekanbaru pada tahun 2012. 

Di awal kepemimpinan tersebut, Pekanbaru sudah tumbuh sebagai salah satu kota besar di Provinsi Riau. 

Saat itu, penduduk Kota Pekanbaru baru sekitar 700-an ribu jiwa. 

Hal tersebutlah yang kemudian melatari visi pembangunan Kota Pekanbaru  untuk 5 tahun pertama pasangan birokrat-tekhnokrat dan politisi ini yakni Membangun Kota Metropolitan yang Madani.

Dijelaskan Firdaus, visi tersebut diambil dari Undang Undang Dasar 1945 dan lagu Indonesia Raya, ''Bangunlah Jiwanya, Bagunlah Badannya''.

Bangunlah jiwanya sendiri, dijelaskan Firdaus adalah membangun sumber daya manusianya. Menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas adalah ruhnya. 

Kemudian ''Bangunlah Badannya'' adalah membangun wilayahnya, teritorialnya dengan infrastruktur yang akan memperkuat daya saing daerah.  

''Saat tahun 2012 pertama sekali kami memimpin, jumlah penduduk Pekabaru baru berkisar 700-an ribu jiwa. Namun, menjelang akhir 2016 atau akhir kepemimpinan periode pertama, jumlah penduduk Pekanbaru sudah di atas 1 juta jiwa,'' ungkap Firdaus.

Dari indikator jumlah penduduk itu, Pekanbaru telah berhasil mencapai visi sebagai sebuah kota Metropolitan. 

Kantor Wali Kota Pekanbaru di Bandar Raya Tenayan

Namun, sebut Firdaus, keberhasilan mencapai Kota Metropolitan itu bukan semata sebuah pembangunan di wilayah administrasi saja. Melainkan merupakan satu kawasan.

Seperti halnya DKI Jakarta didukung dengan kota-kota lain di sekitarnya yakni Jabodetabek Punjur (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang Bekasi Puncak dan Cianjur), Pekanbaru pun mengembangkan kerja sama kawasan metropolitan yang kemudian disebut sebagai Pekansikawan.

Saat ini, sebut Firdaus, Pekansikawan ini telah menjadi salah satu dari 21 kawasan metropolitan di Indonesia dan Metropolitan Pekansikawan ada di urutan 17.

Lantas bagaimana dengan visi ''Masyarakat yang Madani''? 

Firdaus menjelaskan kalau masyarakat madani tersebut ditandai dengan sejumlah indikator utama. Yakni, pertama: sehat jasmani dan rohani, berpendidikan dan menguasai pertanian, teknologi dan peradaban.

Indikator kedua adalah berakhlak mulia dan cinta kepada budaya bangsa.

Kunci dari keberhasilan dari masyarakat Madani itu, dalam indikator sehat jasmani dan rohani adalah disiplin, hubungan dengan sesama baik, hubungan dengan alam baik juga hablumminallah (hubungan dengan Allah SWT) juga harus baik. 

Tak hanya itu, secara teori civil society, ditandai dengan ekonomi yang tumbuh lebih baik. 

''Bila itu tercapai, itulah yang disebut dengan masyarakat yang berkualitas yang kita sebut sebagai masyarakat madani'',ungkap Firdaus.

Apakah itu sudah terwujud? Firdaus menyebutkan masyarakat madani ini adalah sebuah proses. Jadi dia terus berkelanjutan.

Namun, secara fisik, pemerintah Kota terus membangun apa yang menjadi daya dukung untuk mencapai masyarakat madani tersebut. 

Hal tersebut ditandai dengan pembangunan, Jalan, sarana pendidikan, pelayanan publik, sarana keagamaan, termasuk di antaranya adalah pembinaan masjid paripurna, perhatian insentif guru MDTA yang juga terlaksana dengan baik.

Bahkan, Pekanbaru termasuk salah satu daerah yang memberikan insentif untuk  guru-guru MDTA.

Pada Periode kedua (2017-2022), visi yang diusung Firdaus-Ayat yakni mewujudkan Pekanbaru Smart city Madani. 

Visi ini kembali sukses dijalankan.

Banyak indikator yang berhasil terlihat dan bisa diukur bersama ketika berbicara kebutuhan dasar masyarakat. 

JALITA (Jalan, listrik, Air Transportasi dan Telekomunikasi) bisa kita ukur bersama. 

Di bidang pembangunan jalan, begitu banyak pembangunan jalan yang sudah tercapai di Pekanbaru,  Baik pembukaan jalan baru, peningkatan jalan, bahkan juga sudah dibangun jalan outer ring road.

Manajemen Penyediaan Air bersih juga berjalan dengan baik di Kota Pekanbaru melalui skema KPBU SPAM.

Dalam bidang kelistrikan, dijelaskan, kalau dulu Pekanbaru sering mengalami mati listrik bergilir di Pekanbaru. 

Namun, sejak dibangun pembangkit listrik PLTU / PLTG. maka  sudah jarang terdengar listrik di Pekanbaru mengalami mati lisrik bergilir seperti dulunya.

Begitu pun dari sisi pembangunan di bidang transportasi. 

Dalam catatan Kementerian Perhubungan, disebutkan Firdaus,  bahwa pengelolaan sistem pengelolaan transportasi di kota Pekanbaru adalah salah satu yang terbaik di Indonesia.

Hal tersebut salah satunya ditunjukkan dengan dukungan besar Kementerian Perhubungan terhadap prasarana dan moda transportasi di Kota Pekanbaru.

Sebelum tahun 2012, jumlah armada Trans Metro Pekanbaru hanya berjumlah 20 unit. Namun, saat ini, jumlah armada Transmetro yang dikelola Pemko Pekanbaru  berjumlah sekitar 100 unit lebih dan telah menjangkau belasan koridor, tak terkecuali wi kawasan Pekansikawan.

Islamic Center Pekanbaru di Bandar Raya Tenayan

Sementara itu, dari pengembangan prasarana telekomunikasi,  sampai hari ini sistem telekomunikasi di Pekanbaru sudah menyeluruh/ universal yang ditandai dengan tidak adanya blank spot/ kosong jaringan yang menandakan pelayanan bidang Telekomunikasi sudah terlaksana dengan baik.

Saat ini, dari ujung ke ujung Kota Pekanbaru sudah terjangkau oleh jaringan telekomunikasi. 

Keberhasilan lain dapat dilihat dari indikator pendidikan.

Saat ini, dalam 10 tahun masa kepemimpinannya,  dijelaskan Firdaus,  sudah berdiri ratusan fasilitas pendidikan/gedung sekolah di Pekanbaru. 

Memang, sebut dia, tidak semuanya dibangun oleh pemerintah. Namun, dengan daya dukung yang diberikan baik dalam bentuk perizinan dan kemudahan lainnya, di banyak sektor investasi tumbuh, termasuk di bidang pendidikan.

Baik yang dibangun pemerintah, swasta, baik tingkat SD, SMP, SMA bahkan perguruan tinggi selama 10 tahun terakhir. 

Perhatian kepada Guru MDTA. Menurut catatan Kemenag, Pekanbaru adalah Kota yang menaruh perhatian tinggi terhadap insentif guru MDTA.

Di bidang kesehatan, sudah banyak berdiri Rumah Sakit di Pekanbaru, klinik-klinik, baik dibangun pemerintah seperti RS madani dimana sebelumnya belum ada rumah sakit rujukan milih Pemerintah Kota Pekanbaru.

Disamping itu 28 puskesmas ditingkatkan layanan nya dari Puskesmas Rawat Jalan menjadi puskesmas rawat inap serta ada puskesmas wisata. Juga berdirinya klinik-klinik oleh pelaku usaha dan Rumah Sakit.

Disebutkan Firdaus, selama kepemimpinannya, total ada 13 rumah sakit berdiri di Pekanbaru. Dari 13 itu, hanya 1 yakni Rumah Sakit Madani yang sumber biaya pembangunannya berasal dari Pemko, sisanya adalah swasta. 

Selain itu, Pemko membangun 3 buah puskesmas. Tapi, di Pekanbaru juga mencul sekitar 300-an klinik pengobatan. 

Semua itu adalah bukti Pemko membuka luas peran investasi untuk hadir di Pekanbaru, termasuk di bidang pelayanan kesehatan

Di masa kepemimpinan Firdaus-Ayat kita bisa lihat Pembangunan jalan, jembatan dan flyover di Pekanbaru, dan investasi yang cukup banyak di Pekanbaru. 

Kantor Wali Kota Pekanbaru di Sudirman disulap menjadi Kantor Mal Pelayanan Publik Pekanbaru.

Ketika orang berbicara itu bukan Firdaus-Ayat/ dana APBD yang membangun, Betul, karena Pemerintah menyesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah hanya 10 persen untuk membangun kota. 

Lantas, dimana bentuk peran pemerintah dalam membangun fasilitas-fasilitas tersebut?

Firdaus pun kembali mengungkapkan kalau investasi memegang peranan penting dalam menunjang pelaksanaan pembangunan di satu daerah. 

Ketenangan, kenyamanan berinvestasi  serta kemudahan yang diberikan lewat pelayanan menjadi daya tarik yang paling kuat  dalam mempercepat masuknya arus investasi di Kota Pekanbaru. 

Pelaku usaha itu hanya akan datang ke daerah berpotensi besar, kepemimpinan yg sejuk, aman, daerah nyaman, untuk berinvestasi di Pekanbaru. 

Maka Kepemimpinan Firdaus-Ayat dipandang sangat aman, nyaman oleh investor. 

Disanping itu, Firdaus-Ayat juga sering dan aktif Melakukan lobi-lobi berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun tingkat Asia.

KIT (Kawasan Industri Tenayan) juga sedang dibangun sebagai salah satu proyek strategis nasional. Yang akan mendatangkan investor nasional dan internasional. 

Salah satu bentuk dari realisasi pengembangan kawasan KIT tersebut adalah, KIT Tenayan  masuk sebagai salah satu dari 16 kawasan industri yang masuk daftar proyek strategis nasional. 

Selain itu, saat ini, juga sudah berdiri pembangkit listrik yang menjadi penyuplai energi untuk seluruh wilayah Pekanbaru, tak terkecuali di KIT. 

Pemerintah Kota sendiri mempunyai visi besar dalam pengembangan kawasan Tenayan, bukan hanya sebagai pusat perkantoran Pemko Pekanbaru yang baru, namun juga untuk kawasan pertumbuhan baru.

''Perkantoran itu hanya lokomotif. Dengan luas berkisar 10.000 hektare, Perkantoran tenayan atau yang disebut dengan Bandarraya Tenayan juga akan dilengkapi banyak gerbong, salah satunya adalah KIT. Disini akan berdiri pusat pengeolahan minyak kelapa sawit dari hulu ke hilir yang diharapkan bisa menampung sebanyak 165.000 lapangan pekerjaan untuk warga Pekanbaru dan sekitarnya,'' ungkap Wali Kota. 

Selain kawasan industri, di Bandarraya Tenayan ini juga akan dibangun kawasan wisata alam berupa danau dengan luas 17 hektare. 

Selain akan berfungsi sebagai sarana wisata alam, nantinya danau ini juga disiapkan untuk waduk penampungan air baku bagi warga di sekitar Tenayan Raya.

Sektor Keagamaan 

Pasangan Firdaus-Ayat juga sangat concern dengan upaya pembinaan aktivitas keagamaan. 

Salah satu bentuk dukungan pada pengembangan peran serta keagamaan dalam membangun Pekanbaru ditandai dengan berdirinya masjid-masjid paripurna di Kota Pekanbaru. 

Saat ini, tercatat ada sebanyak 100 masjid paripurna di Kota Pekanbaru. Masjid ini dibina bukan saja sebagai sarana peribadatan, pengelola atau imam masjidnya diberikan gaji atau honor, namun juga pengembangan peran sertanya dalam mendukung kemajuan masyarakat, salah satunya ekonomi umat.

Sisi  Pelayanan Publik

Wali Kota Pekanbaru memaparkan program pembangunan yang dilakukan Pemko.

Inti dari peran pemerintah bukan semata direalisasikan dalam bentuk fisik, namun juga sistem pelayanan publik yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Selama 10 tahun kepemimpinan Firdaus-Ayat Cahyadi, Pekanbaru berhasil memberikan pelayanan publik terbaik kepada masyarakat. 

Hal tersebut ditandai dengan berdirinya Mal Pelayanan Publik Pekanbaru yang berawal dari DPMPTSP. 

MPP Pekanbaru bahkan setiap tahunnya menjadi yang terbaik dalam pelayanan publik se Indonesia. Karena itulah, dalam beberapa tahun terakhir, MPP Pekanbaru menjadi role model untuk pelayanan publik se Indonesia. 

Bahkan, karena keberhasilan itu juga, Wali Kota Pekanbaru diganjar penghargaan sebagai Bapak Pelayanan Publik.

MPP Pekanbaru tak hanya memberikan pelayanan terbaik dalam bidang perizinan, namun juga non perizinan yang dikelola Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.

Bahkan, dalam 3 tahun terakhir, pelayanan Dukcapil Pekanbaru juga berhasil menjadi salah satu yang terbaik di Tanah Air. 

Bagaimana dengan Visi Smart City?

Wali Kota Firdaus juga mengungkapkan menjadikan Pekanbaru Smart City adalah sebuah visi menjadikan Pekanbaru sebagai Kota Cerdas.

Yang menandai kota cerdas, di antaranya adalah, perilaku dan sistem pelayanan kemasyarakat yang terus bergerak kepada penerapan teknologi, digitalisasi dan penerapan masyarakat 4.0.

Dijelaskan Wali Kota, dalam lima tahun kedua kepemimpinannya, upaya menciptakan kota Smart City ditandai dengan sejumlah perubahan dalam sistem pelayanan dan dukungan yang diberikan pemeintah dalam menciptakan ekosistem digital yang juga baik.

Dari sisi layanan publik misalnya, saat ini, masyarakat tidak lagi harus antre datang ke MPP atau ke Disdukcapil, namun bisa melakukan transaksi pelayanan secara online, lebih cepat dan hemat dari sisi pembiayaan.

Begitu pun dalam pelayanan pajak yang dikelola Bapenda Pekanbaru saat ini juga sudah tidak lagi wajib datang, namun bisa melakukan pembayaran 11 pajak daerah melalui dompet belanja ataupun melalui platform pembayaran terdekat seperti melalui Indomaret, Alfamart, aplikasi bukalapak, gopay bahkan melalui layanan lainnya. 

Terbaru, dalam sistem perparkiran, saat ini, Pemko juga sudah mulai menerapkan Electronic Data Capture (EDC) dimana warga sudah bisa menggunakan pembayaran melalaui aplikasi non tunai. 

Upaya ini, selain bisa mempermudah masyarakat, juga mencegah terjadinya kebocoran dalam keuangan daerah dari sektor perparkiran.

Begitu pun dengan masyarakat yang ingin membaca buku, tak harus datang ke perpustakaan, namun bisa memanfaatkan Perpustakaan digital pada sejumlah besar literatur yang dibutuhkan. 

Itu baru sebagian kecil dari kemajuan teknologi yang bisa dimanfaatkan publik terkait dengan perubahan sistim pelayanan di era Smart City. 

Sejauh ini, Firdaus pun mengungkapkan apa yang dilakukan Pemko Pekanbaru ini juga mendapat apresiasi dari pemerintah pusat sebagai terobosan besar dalam sistim pelayanan masyarakat. 

Apa yang telah dilakukan Pemko Pekanbaru, sebut Firdaus juga tentunya merupakan sinergi antara pemerintah, stake holder juga masyarakat untuk menuju Pekanbaru sebagai Smart City yang madani.(Advertorial)

Terkini