PASIR PENGARAIAN (RIAUSKY.COM)-Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu, melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), terus mencari strategi efektif dalam penanggulangan kemiskinan di Negeri Seribu Suluk.
Salah satunya melakukan kajian komprehensif dalam rangka penguatan data serta merumuskan strategi penanggulangan kemiskinan dengan menggandeng Akademisi dan Profesional.
Kajian kemiskinan tersebut dilakukan para Akademisi Universitas Riau yakni Dr. Dahlan Tampubolon, SE, M.Si (Ahli Sosial Ekonomi) Dr. Sri Endang Kornita, SE, M.Si (Ahli Sosial Kependudukan),Bunga Chintia Utami, S.Sos, ME, (Ahli Perencanaan Wilayah dan Pedesaan) dan Misdawita, S.Si, ME, (Ahli Statistik Sosial).
Kajian dilakukan dengan melakukan identifikasi faktor-faktor multidimensi yang berpengaruh atau menjadi determinan berdasarkan data acuan data primer dari Badan Pusat Statistik (BPS) seperti Pengangguran Terbuka Turun dari 5.40 Persen pada tahun 2018 menjadi 4.42 Persen pada tahun 2019.
Kemudian, Indeks Pembangunan Manusia meningkat dari 69.38 persen pada tahun 2020 menjadi 69.67 persen tahun 2021.
Laju implisit PDRB pada tahun 2020 tumbuh 4.92 persen dan tahun 2021 tumbuh 11.35 Persen.
Dan Penduduk Miskin di tahun 2021 sebesar 1.88 persen.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Drs.Yusmar M. Si mengatakan kepada Riausky.com, Kamis (06/10), bahwa kajian ini dimaksudkan untuk mendapatkan data aktual masyarakat miskin serta bahan pertimbangan dalam merumuskan strategi penanggulangan kemiskinan yang lebih efektif dan efisien.
Dari hasil paparan tim kajian, lanjut Yusmar, ada beberapa hal menarik yang ditemukan diantaranya klasifikasi masyarakat miskin di kabupaten Rokan hulu yang cenderung berkelompok berdasarkan profesi atau bidang usaha yang digeluti sebagai sumber pemasukan utama.
"Dari hasil kajian diketahui, salah satu faktor kemiskinan kelompok ini disebabkan faktor homogenitas mata pencaharian penduduk baik di perkotaan maupun di pedesaan, sehingga ketika terjadi gejolak di sektor tersebut maka berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat di daerah itu" ungkap Yusmar
Kemiskinan kelompok ini juga tergambar dari adanya fenomena pergeseran angka kemiskinan dari pedesaan ke perkotaan disaat Pemkab Rohul Fokus melakukan pembangunan infrastruktur baik pendidikan dan kesehatan di pedesaan.
" Kecamatan Tambusai Utara yang masyarakatnya umumnya petani sawit misalnya, di tahun 2008 menjadi kecamatan dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Rohul namun sekarang dengan gencarnya pembangunan infrastruktur jalan, kesehatan dan pendidikan serta membaik nya harga komoditi sawit daerah itu kini menjadi kecamatan dengan tingkat keluarga sejahtera tertinggi di rohul". Jelasnya.(R19)