KAMPAR (RIAUSKY.COM) - Helly Minarti selaku Fasilitator sangat menyambut baik dilaksanakannya Program Indonesia Bertutur 2023 khususnya Temu Seni Tari yang pada tahun ini dilaksanakan di Kampar dan puncaknya akan dihelat di Kota Pekanbaru.
Baginya ini adalah bentuk perhatian dari pemerintah dalam hal ini Kemendikbudristek Dikti terhadap kesenian nusantara.
"Kita harus apresiasi, karena untuk menggelar kagiatan besar seperti ini, menghadirkan orang dari berbagai daerah, dengan logistik yang tidak sedikit, hanya pemerintah yang bisa melakukan itu, saya senang negara mau mendengarkan suara seniman," ucapnya.
Bagi Helly, ini adalah kali kedua terlibat dalam iven itu setelah sebelumnya dilaksanakan di Bali dan tahun ini diadakan di Kampar, Riau, memang tidak ada perubahan yang signifikan baik dari sisi peserta maupun materi yang diberikan, namun baginya pada tahun ini dia berharap akan lebih banyak ruang dan waktu bagi peserta untuk bertemu, berdiskudi dan berkolaborasi.
Meskipun pada akhirnya target dari kegiatan ini adalah ada produk atau karya yang harus dihasilkan, namun baginya yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana kita melihat proses dari itu semua, karena untuk menghasilkan prdok atau karya yang baik, maka juga butuh proses yang tidak sebentar karena kita juga harus memperhitungkan energi peserta.
"Tapi terlepas dari itu semua, bagi kami, iven ini adalah cara kita mengenal Indonesia, mungkin dengan format yang berbeda bagaimana kita mengenal Bali sebelumnya dan hari ini kita mengenal Kampar," ujar Melly.
Sementara itu, salah satu peserta yang berasal dari Papua, Frans Junias Jugganza mengaku terkejut tak menyangka bisa terpilih untuk mengikuti kegiatan Temu Seni Tari ini.
"Gak menyangka bisa terpilih, ini pertama kali ikut dan pertama kali juga datang ke tanah Sumatera," ujarnya senang.
Frans tak menjelaskan detil seperti apa proses yang dia lalui hingga kemudian bisa menjadi salah satu peserta, namun yang pasti dirinya ditelpon pihak kementerian untuk mengikuti kegiatan ini.
Bagaimana pun prosesnya, menurut Frans yang terpenting adalah ini kesempatan baik baginya untuk belajar dan mengembangkan diri lebih baik lagi, dan kesempatan ini tak dimiliki semua seniman tari. Apalagi peserta yang hadir juga koreografer terpilih dari berbagai daerah.
Frans mengaku awalnya tak mendapat dukungan dari keluarga karena memilih untum menekuni seni tari, karena sampai saat ini menurut dia masih ada sebagian orang memandang seniman dengan sebelah mata.
Frans mengaku kalau mendalami seni tari sejak SMP bahkan kini dia mampu menjadi seorang guru tari di SMA 1 Jayapura. Segudang prestasi dan penampilan pun telah diukirnya, tak hanya tingkat lokal dan nasional, tapi juga internasional. Bahkan saat pelaksaan PON di Papua beberapa waktu lalu, dirinya terkibat sebagai asisten koreografer.
"Harapan saya, semoga akan semakin banyak iven seperti ini karena aka membuka banyak kesempatan bagi peserta lain untuk berpartisipasi dan mendalami ilmunya.
Selain Frans, ada Leu Wijee, Siska Aprisia, Kinanti Sekar Rahina, Ruki Daryudi, Winda Karina, Faizal Andri, M. Safrizal, Ni Putu Arista Dewi, Dani S. Budiman, Ari Ersandi, Densiel Prisma Y. Lebang, Ferry Alberto Lesar, Abib Igal, Melynda Adriani, Try Anggara, Annastasya Verina Aryanti yang jadi peserta dalam kegiatan ini. (*)