Edy Natar Heran, Cabai Bisa Jadi Penyumbang Inflasi 7 Persen di Riau, ASN Provinsi Saja Bisa Hasilkan 45 Ton...

Jumat, 08 Desember 2023 | 07:06:19 WIB
Gubernur Riau Edy Natar saat membuka Rakor Akselerasi Penyediaan Pangan Provinsi Riau, Kamis (7/12/2023).

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Gubernur Riau Edy Natar Nasution mengaku heran bahwa cabai merah bisa menjadi penyumbang inflasi hingga 7 persen di Provinsi Riau beberapa waktu lalu.

Menurut dia, hal tersebut seharusnya tidak perlu terjadi, bila mana pemerintah memiliki konsep yang utuh dalam memberikan solusi terhadap permasalahan apa yang terjadi dan butuh untuk dicarikan jalan keluarnya.

Hal tersebut disampaikan Edy Natar saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Akselerasi Penyediaan Pangan Provinsi Riau yang dilaksanakan DInas Pangan, Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Riau yang dilaksanakan di Prima Park Hotel Pekanbaru, Kamis (7/12/2023) yang dihadiri seluruh stake holder kabupaten kota terkait pertanian dan tanaman pangan.

Terkait persoalan cabai ini, Edy mengungkapkan kalau dia pernah bertanya kepada Kepala Dinas Pertanian tentang berapa batang cabai yang dibutuhkan untuk bisa menghasilkan 1 kilogram cabai.

''Waktu itu, saya pernah tanyakan kepada Kepala Dinas Pertanian, berapa batang cabai yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kilogram cabai. Waktu itu pak Kepala Dinas mengatakan cuma 3 batang pohon cabai saja,'' kenang Edy Natar.

Dia menyinggung, andai saja, setiap ASN di Riau disuruh untuk menanam cabai di rumah, dia yakin, cabai tak perlu menjadi penyumbang inflasi terbesar di Riau.

''Kita tak usah bicara ASN di kabupaten dan kota. Cukup ASN di lingkungan Pemprov Riau, jumlahnya berkisar 15.000-an orang. Bila setiap mereka menanam di rumah, maka dalam rentang 4 bulan ke depan, Riau bisa menghasilkan 45 ton cabai. Nah, kira-kira, logis tidak dengan kondisi seperti itu, kita bisa mengalami inflasi?'' tanya Edy Natar.

Begitu juga dengan kebutuhan daging. Edy mengungkapkan, harusnya diperhitungkan, berapa banyak daging yang bisa dipersiapkan secara mandiri dihadapkan jumlah penduduk Riau sebanyak 6,7 juta jiwa.

''Berapa mampu kita menyiapkan daging sapi, berapa mampu kita menyiapkan daging kambing. Harusnya itu menjadi pemikiran kita semua secara bersama-sama,'' ungkap dia.

Pemerintah, jelas mantan Danrem Wirabima ini, harus bisa bersinergi, harus bisa juga berkolaborasi supaya, apa yang menjadi kebutuhan utama di tengah masyarakat bisa tercukupi.

''Kalau tidak, kita akan begitu-begitu saja, tidak akan bisa keluar dari kondisi yang sudah bertahun-tahun seperti ini,'' tegas dia.

Dijelaskan dia, persoalan-persoalan  itu sebenarnya sederhana, tapi sering kali, pemerintah mengabaikan langkah-langkah seperti itu.

Pada kesempatan itu, Edy juga menyinggung perihal banyaknya keengganan dari petani untuk bercocok tanam pertanian dikarenakan tidak ada jaminan dari pasar untuk komoditas yang dihasilkan.

Dijelaskan Edy, hal tersebut bisa diatasi dengan menghadirkan BUMD yang fokus bisa membeli pangan yang dihasilkan.

''Itu adalah tugas pemerintah untuk bisa memastikan bahwa komoditas yang dihasilkan petani bisa diserap oleh pasar. Tidak pun dibeli oleh pasar, tapi ada yang menampung apa yang mereka hasilkan. Perlu kita pikirkan ada BUMD untuk menampung hasil pertanian itu, sehingga tidak ada keraguan untuk mau menanam itu,'' kata dia.

Kalau itu, dilakukan, lanjut Edy, dia yakin, Riau bisa keluar dari jebakan ketersediaan pangan ini. Dia yakin kalau Riau juga bisa memproduksi pertanian apa yang memang menjadi kebutuhan masyarakatnya tanpa harus selalu tergantung dari daerah lain.(R02)

Terkini