PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi di tengah masyarakat membuat peran perpustakaan pun harus mampu bertransformasi.
Dari semula hanya diketahui sebagai gudang buku, tempat masyarakat mendapatkan ilmu yang hendak dibaca, menjadi perpustakaan yang berfungsi sebagai wadah, sarana untuk mendukung masyarakat untuk mendapatkan informasi secara positif dan menunjang pada upaya pencerdasan, juga peran pemberdayaan.
''Peran perpustakaan saat ini bergeser menjadi pusat pengetahuan, pusat kegiatan masyarakat dan juga harus mampu berfungsi sebagai pusat kemajuan kebudayaan, yang memungkinkan masyarakat dapat berbagi pengalaman,'' ungkap
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Pekanbaru, Hj Erna Juita SH, MSi saat membuka Sosialisasi Trasformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial tahun 2024 yang dilaksanakan di Hotel Resti Menara Pekanbaru, Rabu (6/3/2024).
Dijelaskan Hj Erna Juita, perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah perpustakaan yang memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya dengan memperhatikan berbagai aspek yang berkembang, seperti keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, serta menawarkan kesempatan berusaha, melindungi dan memperjuangkan sisi budaya.
''Diharapkan dengan hal tersebut akan mampu menciptakan kesadaran masyarakat untuk berkembang dengan keswadayaan dan meningkatkan kesejahteraan mereka,'' kata Hj.Erna Juita.

Peserta menyanyikan lagu Indonesia raya sebelum memulai acara.
Perpustakaan, Jelas Erna, harus mampu berperan memfasilitasi masyarakat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Itulah, yang dimaksud dengan transformasi perpustakaan sebagai bagian dari inklusi sosial.
Hal tersebut juga, yang diungkapkan Erna menjadi concern dari Dispusip di Kota Pekanbaru saat ini.
Memang, lanjut Erna, situasi ini banyak menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat, bahkan tak jarang juga yang mengatakan program Dispusip itu sudah melenceng dari tujuan dan fungsinya. Padahal, situasi ini adalah merupakan salah satu langkah yang harus dilakukan Dispusip untuk bisa mentransformasikan perannya di tengah masyarakat.
Mungkin selama ini banyak yang beranggapan kalau peran Dispusip ini juga sudah bergeser, terkadang aktif menyosialisasikan kegiatan di facebook, instagram, bersosialisasi dengan publik di media sosial, lantas dianggap tidak sesuai tugas dan fungsi.
''Ada yang tanya kenapa kegiatan Dispusip ini memasak, menganyam, melakukan pelatihan, Semua pertanyaan itu memang muncul. Tapi itulah, bukti dari komitmen Perpustakaan bertransformasi sebagai bagian dari inklusi sosial,'' jelas dia.
Itulah, lanjut Erna lagi yang menjelaskan bahwa perpustakaan saat ini hanya menjadi wadah, media bagi masyarakat untuk mengembangkan ilmunya dalam melakukan kerja-kerja masyarakat.

Suasana pem bukaan sosialisasi Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di Hotel Resti Menara Pekanbaru, Rabu (6/3/2024).
Berkaitan dengan kegiatan Sosialisasi Program Transflorasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TP BIS) yang dilaksanakan hari ini, Erna menjelaskan, tidak semua kelurahan bisa diundang.
''Kita mengundang secara bertahap, dan untuk saat ini, diikutsertakan sosialisasi ini adalah Lurah Kampung Bandar, Kelurahan Pesisir, Lurah Kampung Tengah, Lurah Sukaramai, Lurah Sri Meranti, Lurah Tangkerang Barat, Kelurahan Maharatu, Kelurahan Wonorejo, Sukamulya, Sail juga Kampung Melayu,''jelas dia.

Plt Kabid P4KM Syahyarwan Zam, M.Si saat membei sambutan terkait kegiatan sosialisasi.
Pada kesempatan itu, Erna juga menjelaskan, Perpusnas sejak tahun 2018 lalu sudah menggaungkan transformasi Perpustakaan berbasis inklusi sosial (TP BIS) ini, dan mungkin sampai hari ini,masih ada yang belum memahaminya.
Dalam RKPD program ini selalu menjadi perhatian, untuk memperkuat tujuan dan fungsi perpustakaan.
TP BIS ini secara nasional ditujukan untuk memperkuat peran dan fungsi perpustakaan.
Secara nasional, sampai tahun 2023, jelas Erna, saat ini sudah ada 33 Perpustakaan tingkat provinsi, 261 perpustakaan kabupaten kota dan 1.696 perpustakaan kelurahan desa menjadi mitra komperatif TP BIS.
Sampai 2023, TP BIS telah direplikasi di 1.205 desa kelurahan di 26 provinsi dengan menggunakan sumber anggaran pada APBD atau sumber lain.
Sedangkan penerimaan tahun 2024 sebanyak 450 desa kelurahan, termasuk kita 4 kelurahan di Pekanbaru yang dibantu Perpusnas untuk transformasi menjadi TP BIS.
Dia berharap sosialisasi program yang dilaksanakan saat ini bisa memberikan manfaat dalam pengembangan peran perpustakaan kelurahan sebagai transformasi Perpustakaan berbasis inklusi sosial (TP BIS) ke depannya.
Hadir sebagai pembicara pada kegiatan sosialisasi yang akan dilaksanakan sehari ini, Master trainer Anita SS dengan tema bahasan membangun literasi masyarakat melalui transformasi perpustakaan, materi inklusi sosial dan trnasformasi perpustakaan dengan pembicara Dr Suryani SAG, MSi, Ir.Hj Nelfiyonna MSi serta pembentukan dan pengembangan perpustakaan dengan menghadirkan narasumber H. Ahyar S.Kom, SIP,M.Kom.(Advertorial)