PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Pekanbaru H. Maisisco mengaku kalau kualitas pangan olahan asli Pekanbaru tidak kalah dibandingkan dengan pangan olahan dari daerah lain di Tanah Air.
Bahkan, sebagai sebagai bagian dari kearifan lokal, pada beberapa jenis pangan olahan, memiliki kekhasan yang bisa dikembangkan.
Hanya saja, memang masih dibutuhkan beberapa sentuhan untuk bisa menjadikan pangan olahan tersebut bisa sejajar dibandingkan dengan komoditas lain yang selama ini kita ketahui.
Hal tersebut diungkapkan H. Maisisco saat menjadi narasumber dalam program Dialog Pekanbaru Pagi Ini yang dilaksanakan RRI Pekanbaru Pro 1, Rabu (12/6/2024) yang mengambil tema Penganekaragaman Pangan Lokal, Kurangi Ketergantungan Impor.
Hal tersebut juga, dijelaskan Maisisco yang menjadi alasan mengapa Dinas Ketahanan Pangan membuat sejumlah langkah untuk mendukung bagaimana pangan olahan berbahan sumber daya lokal ini bisa diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas.
Salah satunya, dijelaskan Maisisco adalah melalui Pekan Pangan Lokal yang diluncurkan oleh Pj. Wali Kota Pekanbaru kemarin.
''Dengan kegiatan ini, kita harapkan akan muncul aneka kreativitas mengolah pangan dari bahan baku lokal oleh dari kampung-kampung pangan yang kita bina,'' jelas Maisisco.
Dia mencontohkan, pada saat meninjau stand-stand pameran yang ada, Pj. Wali Kota Pekanbaru Risnandar Mahiwa sempat menyebutkan salah satu produk olahan yang ternyata memiliki nilai jual mahal di Jakarta.
''Pak Pj. Sempat bilang pada saya, kalau kripik dari daun ubi itu enak dan di jakarta, di bila dijual harganya bisa mahal, apalagi bila kemasannya dibuat bagus, pasti juga bisa bersaing,'' ungkap Maisisco.
Hal-hal seperti inilah, lanjut dia, yang mendasari Dinas Pangan Pekanbaru terus mengajak 18 kampung pangan binaan untuk terus berbuat.
''Bahkan, kalau perlu memang kita lombakan dan yang terbaik, enak rasanya, banyak permintaannya, itu kita akan bantu mulai dari packaging, pemasarannya, termasuk dengan mem-branding melalui pasar-pasa digital seperti Shoppy,'' jelas Maisisco.
''Ada juga produk pangan olahan yang enak, tapi pola penjualannya masih dilakukan secara tradisional, sehingga belum mampu mengangkat nilai ekonomis dari penjualannya. Dengan pembinaan yang kita lakukan, kita akan bantu usaha-usaha kecil menengah dari kampung pangan ini naik kelas,'' jelasnya.
''Karena itulah, saat ini, kita memang memasan khusus juga kepada kampung pangan, untuk menghasilkan produk pangan yang benar-benar enak untuk semua lidah. Enak bukan saja oleh pedagangnya, oleh kita saja, tapi dia akan enak untuk semua kita. Kalau sudah seperti itu, pasti bisa naik kelas,'' ungkap dia.
Dalam kesempatan itu, Maisisco juga mengajak seluruh masyarakat untuk mngubah mind set.
''Sering kali kita ini kan, setiap pergi ke daerah lain menyempatkan diri untuk berbelanja pangan olahan khas. Misalnya, jika ke Sumbar, sadar atau tidak sadar, kita selalu singgah untuk membeli kerupuk sanjai. Padahal, kita tidak sadar, bahan baku untuk kerupuk sanjai itu didatangkan dari daerah kita. Nah, andai saja kita melakukan hal yang sama dengan produk pangan olahan yang dibuat oleh ibu-ibu kampung pangan kita di Pekanbaru, pastilah ini akan menjadi motor besar untuk membangkitkan ekonomi bukan saja bagi kampung pangan, tapi juga Pekanbaru,'' ajak dia pada acara yang dibawakan oleh host, Tuti Fitri dan juga menghadirkan pengelola usaha pangan olahan Elvia Nora dari Kampung Pangan Kelurahan Wonorejo.
Elvia Nora, yang akrab disapa Nora mengaku dia sudah bergerak dalam mengolah pangan lokal semenjak tahun 1015 lalu. Dan seiring dengan perkembangan waktu, saat ini, dia sudah menghasilkan sebanyak 49 jenis pangan olahan lokal Pekanbaru.
Seluruh jenis pangan olahan tersebut, disebutkan Nora, sepenuhnya saat ini sudah bisa didapatkan di pasar-pasar di Pekanbaru.
Bahkan, dia mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru lewat kerja sama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) binaan DKP Pekanbaru yang menghasilkan komoditas sayuran dan buah.
''Dulu saya berpikir pangan itu yang tepung terigu, tapioka saja, ternyata, dengan bertambahnya pergaulan dan wawasan dari pelatihan yang diikuti, sekarang kresi pangan olahan lokal bisa memanfaatkan buah, sayuran yang berasal dari pekarangan dan tanaman dari ibu-ibu wanita tani Pekanbaru,'' jelas dia.
Nora juga mengaku kalau dia menjadi salah satu dari UMKM yang ikut dibina oleh DKP Pekanbaru pada awal-awal tahun 2018 lalu.
Dan dia mengaku sangat bersyukur dan berterima kasih karena sampai hari ini, tetap mendapatkan perhatian untuk mengembangkan usaha baik lewat program pelatihan mengolah pangan lokal maupun bantuan peralatan, sarana pengolah pangan.(*)