PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Sejumlah pengurus UMKM yang bergabung di dalam Forum Pekanbaru Kota Bertuah melakukan audiensi ke Kantor Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Pekanbaru, Senin (1/7/2024) pagi tadi.
Maksud dari audiensi ini selain bersilaturahmi, juga mendapatkan informasi dan sinergi program yang bisa dilakukan dalam upaya menciptakan UMKM Pekanbaru 'naik kelas'.
Hadir pada kesempatan tersebut Pembina UMKM Forum Pekanbaru Kota Bertuah, Masril dan sejumlah pengurus UMKM.
Sementara itu, rombongan diterima lengkap pejabat eselon dipimpin Kepala DKP Pekanbaru H. Maisisco juga sekretaris Adi Lesmana.
Masril, pada kesempatan itu menjelaskan bahwa UMKM di Forum Pekanbaru Kota Bertuah ini memiliki lebih kurang 300 anggota.
Mereka juga aktif untuk mengikuti aneka kegiatan yang dilaksanakan dalam upaya memperkenalkan, memasarkan produk olahan dari UMKM melalui iven-iven yang dilaksanakan baik secara mandiri maupun oleh pemerintah.
Kehadiran mereka adalah demi mendapatkan informasi lebih terkait dengan pengembangan UMKM, bersinergi pada program-program yang dikelola pemerintah demi komitmen UMKM Pekanbaru bisa naik kelas.
Harapan tersebut mendapat sambutan positif dari jajaran DKP Pekanbaru. Itu setidaknya disampaikan oleh Kepala DKP H. Maisisco.
Maisisco menjelaskan sejumlah program yang dikelola oleh DKP dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan.
Dia menjelaskan bahwa Pekanbaru baru mampu memenuhi 23 persen total kebutuhan pangan secara lokal.
Disamping itu, Pekanbaru juga masih belum memiliki ikon yang bisa dijadikan brand terhadap produk pangan olahan unggulan yang bisa ditawarkan kepada orang-orang yang berkunjung ke Pekanbaru.
''Kita sebut kita punya bolu kemojo, tapi apakah benar itu hanya khas Pekanbaru. Kita juga punya pisang kipas, tapi apakah benar itu hanya ada pada kita?'' tanya Maisisco.
Dia juga tidak menafikan, ada banyak sekali UMKM yang mengolah pangan, namun masih dikelola secara tradisional, belum digarap secara profesional. Akibatnya, usaha pangan yang dikelola begitu-begitu saja, tidak berkembang dan lantas hilang.
Pelaku UMKM, sebut Maisisco harus mengubah mindset. ''Biarlah tidak banyak jenis pangannya, tapi yang menggarapnya banyak dan dikelola secara profesional melalui perusahaan, kalau perlu berupa Perseroan Terbatas (PT),'' jelas Maisisco.
Dengan dikelola secara profesional, dan modalnya dikumpulkan bersama-sama dari para UMKM, pihaknya yakin produk UMKM akan bisa lebih maju.
''Biarlah UMKM ini menjadi unit produksinya, yang memasarkan dan mencarikan celah pasar, promosinya adalah perusahaan bentukan itu,'' jelas dia.
Maisisco mencontohkan bagaimana petani bawang di Brebes bisa menggarap pertanian bawang bukan sebagai komoditas pertanian biasa, melainkan dikelola oleh perusahaan.
Dia juga mencontohkan bagaimana KFC, yang awalnya hanya memperkenalkan ayam goreng, namun kemudian berkembang menjadi perusahaan berskala internasional yang produknya kini laku di seluruh dunia.
Maisisco juga berharap para UMKM yang ada juga mampu mengembangkan potensi pangan lokal yang ada sehingga bisa menjadi tuan di negeri sendiri.
''Kita punya produksi yang tinggi untuk ubi kayu, kenapa kita tidak manfaatkan kelebihan ini untuk dikembangkan menjadi komoditas pangan olahan yang bisa dikenal. Kan kurang pas, kalau kita setiap singgah ke toko sanjai di Sumbar, membeli keripik ubi, tapi kita tak tahu kalau ubinya ternyata didatangkan dari Pekanbaru,'' ungkap Maisisco.
Pertemuan yang dilakukan berlangsung cukup hangat dan panjang. Namun, para UMKM Forum Pekanbaru Kota Bertuah mengaku senang bisa mendapatkan banyak masukan dan saran dalam upaya meningkatkan produktivitas dan peran UMKM yang ada.(R06)