Mengenang 20 Tahun Tsunami Aceh; Memori Seorang Jurnalis

Sabtu, 28 Desember 2024 | 10:21:45 WIB

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Saya mungkin termasuk salah seorang jurnalis di Provinsi Riau yang mendapat kesempatan pertama untuk mendarat di Provinsi Aceh pasca tsunami 2004 lalu.

Saat itu, bila saya tak salah ingat, adalah hari kedua setelah musibah gempa dan tsunami memporak porandakan provinsi Aceh yang kini disebut dengan Nanggroe Aceh Darussalam.

Pemerintah Provinsi Riau di pimpin Gubernur Riau HM Rusli Zainal membawa bantuan makanan dan obat-obatan dari masyarakat Riau untuk diserahkan kepada masyarakat Aceh yang sedang diselimuti duka.

Kondisi Aceh yang porak poranda, mayat berserakan di sejauh mata memandang, dan bau busuk mayat yang sudah mulai tercium setelah dua hari bencana yang merenggut begitu banyak nyawa.

Saya pun tidak menyangka kalau bencana tsunami di Aceh bisa separah itu. Karena, pada hari kedua pasca bencana itu, belum banyak informasi yang diperoleh terkait kondisi di Provinsi Aceh.

Hanya laporan dari Metro TV yang kala itu menjadi satu-satunya referensi tentang kondisi kota-kota di Aceh pasca tsunami.

Karena itu, kami begitu kaget, begitu pesawat Riau Airlines (RAL) yang kami tumpangi mendarat di Bandara di Kota Banda Aceh, kondisi provinsi di ujung Sumatera itu sudah porak poranda.

Bahkan, saya masih mengingat kala hendak mendarat, pihak maskapai masih mendapat sejumlah informasi terkait kelayakan kondisi bandara untuk dilandasi.

Alhamdulillah, kami bisa mendarat dengan selamat, dan saat itu, hanya tampak sejumlah pesawat militer serta sejumlah helikopter milik TNI yang berada di sekitar landasan pacu.

Baru pada siang harinya, sejumlah armada militer pembawa bantuan kemanusiaan dari berbagai negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, juga beberapa pesawat asing lainnya tiba di Banda Aceh.

Saya masih ingat kami dibawa menggunakan sebuah bus dan di sepanjang jalan dari bandara itulah, kami melihat bagaimana dahsyatnya tsunami memporak porandakan Aceh.

Hampir tidak ada yang tersisa, kecuali bangunan-bangunan kokoh yang jumlahnya tidaklah seberapa di Kota Banda Aceh kala itu.

Di kanan kiri jalan yang telah lebih dahulu dibersihkan oleh satuan tugas, karena pada hari itu juga, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang kala itu memimpin Republik Indonesia juga sedang berada di Kota Banda Aceh untuk mematau proses penanganan korban bencana maha dahsyat di abad ini.

Di antara puing-puing yang berserakan itu, kami masih bisa melihat satu dua mayat-mayat yang dalam kondisi sudah mulai membusuk.

Upaya pencarian korban memang masih menjadi prioritas utama pada saat itu. Namun, masih banyak mayat-mayat yang belum berhasil dievakuasi dikarenakan keterbatasan peralatan kala itu.

Kami juga masih melihat bagaimana mayat-mayat bergelimpangan, ada yang tersangkut di atas kabel distrik, ada juga yang  tergeletak di atas papan - papan dan atap rumah.

Di sana juga kami melihat tumpukan mayat yang telah dievakuasi dan dikumpulkan dan hendak dimakamkan secara massal.

Benar-benar pemandangan yang perih dan memilukan. Tumpukan mayat-mayat yang menjadi korban bencana itu warnanya pun telah memucat, keputihan dan nyaris hijau membiru dan ada yang sudah mulai membengkak.

Mengapa pengebumian menjadi salah satu prioritas kala itu, karena dikhawatirkan  bila berlangsung lebih lama, akan rawan membusuk dan membawa permasalahan baru, yakni infeksi penyakit.

Karena itulah, pada hari pertama kami tiba di Banda Aceh, proses pemakaman secara massal dilakukan.

Kami masih melihat tumpukan tubuh manusia yang dikumpulkan di beberapa titik.

Pada sisi lainnya, tentu saja tangisan dan rintihan pilu dari anak-anak dan keluarga korban yang tidak tahu entah dimana.

Ada yang terus mencari dengan bertanya, ada pula yang tampak hening dalam kepiluan mengingat saat-saat hantaman banjir yang disebabkan tsunami dan kehilangan anggota keluarga.

Hanya ada beberapa bangunan kokoh yang berdiri, beberapa di antaranya rumah-rumah berukuran besar termasuk masjid Baiturrahman Banda Aceh yang menjadi saksi ketika musibah tsunami itu melanda.

Di atas bangunan-bangunan tersebut kami masih melihat banyak warga yang seolah masih mengalami trauma dan ketakutan sembari mencari-cari anggota keluarga mereka.

Sekitar 3 hari setelah musibah itu terjadi, barulah beberapa rekan-rekan jurnalis di bawah grup Jawa Pos dan Riau Pos Grup, tempat saat itu saya bertugas tiba di Aceh dan menyebar di beberapa daerah yang mengalami kerusakan parah akibat tsunami.

Ada yang turun ke Meulaboh, Banda Aceh, Lamno dan beberapa daerah lainnya.

Selain menurunkan tulisan, tentunya para rekan-rekan jurnalis lainnya juga terlibat dalam upaya-upaya kemanusiaan membantu evakuasi mayat dan korban yang tertimpa musibah.

Tulisan-tulisan yang mereka turunkan pun benar-benar menyentuh bagaimana hancur dan berdukanya masyarakat Aceh disebabkan oleh musibah tak terperi itu.

Ada yang selama 1 bulan berada di Aceh, ada yang sekitar 3 minggu, semua mereka menjadi bagian dari  peran para jurnalis sekaligus tenaga kemanusiaan untuk membantu pemulihan Aceh.

Mereka melaporkan tentang kondisi  di pedalaman Aceh yang selama beberapa minggu  nyaris tanpa listrik dan lampu, juga tanpa makanan.

Bahkan, mereka pun kesulitan untuk berkomunikasi dikarenakan kondisi jaringan telekomunikasi yang masih belum pulih. 

Banyak sekali rekan-rekan  di grup Riau Pos yang menuliskan kondisi tentang satu  dua  kawasan  perkempungan di Aceh yang hilang tersapu ombak tsunami  sehingga hanya menyisakan kesepian  yang memilukan. ikut bersama-sama mengevakuasi mayat-mayat yang ditemukan, di tengah masih adanya kekhawatiran bila saja tsunami kembali datang menerjang. 

Tidak ada lampu, tidak ada arus listrik, semua bersatu dalam sepi dan catatan waktu yang tidak tahu kapan akan berakhir saat itu. 

Namun, dari laporan teman-teman para jurnalis ini jugalah yang kemudian banyak membantu percepatan penanganan musibah tsunami.

Kisah-kisah dan pengalaman di depan mata tersebut tentunya  menjadi cerita yang tak  akan pernah terlupakan, Kenangan sekitar 20 tahun yang lalu itu tentunya masih sangat membekas dalam ingatan saya hingga hari ini.

Setidaknya, pasca bencana tsunami, sudah ada tiga kali saya kembali ke Aceh dan menelusuri jalan-jalan panjang provinsi aceh yang memang berada di pesisir Sumatera tersebut.

Masyarakatnya pun telah kembali  beraktivitas normal. Kota Banda Aceh kini pun telah tumbuh kembali dengan geliat sosial budaya juga perekonomiannya. Kota yang padat dan ramai dengan aktivitas anak-anak mudanya. 

Kota sabang juga telah kembali pulih dengan pariwisatanya. Begitu juga dengan kota-kota lainnya. 

Walau pun gurat kekhawatiran tentang tsunami masih membekas dan melekat pada diri masyarakat di sana. Namun, Aceh terus tumbuh  dan bergeliat maju.

Semoga Nanggroe Aceh Darussalam senantiasa terjaga.(Buddy Syafwan)

 

 

Terkini