PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho memiliki keprihatinan tersendiri terhadap kondisi anak stunting di Kota Pekanbaru.
Meski jumlah yang terdata melalui Posyandu maupun puskesmas relatif kecil, namun, dia yakin jumlah tersebut masih relatif kecil dibandingkan dengan kondisi riilnya di tengah masyarakat.
Karena itulah, dia menyerukan kepada seluruh stake holder terkait baik itu kader posyandu, Dinas Kesehatan, Kelurahan dan Kecamatan untuk melakukan sweeping dari rumah ke rumah terhadap potensi anak dengan kondisi kurang gizi, gizi buruk maupun stunting.
Itu disampaikan Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho saat memimpin Rapat Koordinasi bersama sejumlah OPD terkait juga TP PKK Pekanbaru.
Agung pada saat itu sempat menanyakan perihal jumlah anak dengan kondisi stunting di Kota Pekanbaru.
''Saya yakin jumlah tersebut baru jumlah yang terdata melalui Posyandu. Tapi riil nya, saya yakin jumlahnya bisa lebih banyak. Karena itulah, dalam rapat ini kita perlu rumuskan, apakah kita siap untuk mengambil tindakan dan melakukan aksi-aksi di lapangan,'' tanya Agung kepada sejumlah kepala OPD yang hadir, di antaranya, Kadisdalduk KB Muhammad Amin, Kadis Ketahanan Pangan H Maisisco, Kadis Kesehatan, juga Ketua TP PKK dan beberapa OPD terkait lainnya dalam rapat di ruang Ruang Rapat Kantor Wali Kota di Tenayan Raya, Selasa (30/7/2025) sore.
Agung menyebutkan, kalau perihak anggaran, dia akan sama-sama berjuang untuk membantu anak-anak Pekanbaru bisa terlepas dari stunting.
''Yang saya ingin dapatkan kejelasannya, apakah bila setelah terdata nanti, kita mampu tidak mengatasinya, mengambil langkah-langkah di lapangan secara berkelanjutan, sampai anak-anak ini benar-benar lepas dari kondisi stunting ini,'' tantang Agung.
Agung pada kesempatan tersebut juga menyebutkan, langkah intervensi yang dilakukan pemerintah harus benar-benas sampai kepada anak-anak dalam kondisi stunting tersebut, sehingga mereka bisa keluar dari kondisi gizi buruk.
Dan Agung menyampaikan sepakat untuk pemberian makan bergizi tambahan langsung kepada anak dalam kondisi gizi buruk.
Dengan memberikan asupan makanan dan gizi yang baik kepada masing-masing anak, dia harapkan kondisi mereka bisa kembali membaik.
Agung juga menyinggung tentang perlunya dukungan dari kalangan swasta dalam penanganana masalah stunting ini.
Dia juga menyebutkan akan berkoordinasi dengan sejumlah kalangan swasta untuk bersama-sama mengatasi stunting dan gizi buruk di Kota Pekanbaru.
Dari pantauan Riausky.com di lapangan, permasalahan stunting dan giizi buruk di Kota Pekanbaru umumnya terjadi pada anak pada keluarga dengan kondisi ekonomi yang tidak baik.
Himpitan ekonomi menyebabkan orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan asupan gizi pada anak.
Selain permasalahan ekonomi, minimnya pengetahuan orang tua dan keluarga dalam pola asuh dan pemberian gizi pada anak juga ikut memperparah situasi.
Selain itu, banyak juga orang tua yang terkesan menutupi kondisi pada anak dengan tidak pernah memeriksakan kondisi kesehatan anak khususnya balita ke Posyandu maupun pusat kesehatan terdekat.
Sementara pada umumnya, kondisi anak dengan kondisi gizi buruk maupun stunting terpantau ketika orang tua membawakan anak ke Posyandu.
Agung juga mengajak seluruh OPD terkait untuk bersinergi bersama dalam mengatasi gizi buruk dan stunting di Kota Pekanbaru. ''Jadi cara penanganannya harus berkolaborasi, tidak bisa jalan sendiri-sendiri,''ungkap Agung.
Sebelumnya, Ketua TP PKK Pekanbaru Hj Sulastri secara rutin dalam beberapa pekan terakhir turun ke tengah masyarakat melakukan pemantauan terhadap anak-anak dengan kondisi stunting di Pekanbaru. Didampingi Dinas Ketahanan Pangan, para tenaga pendamping dan penyuluh, Hj Sulastri menyerahkan bantuan kepada keluarga anak terdampak stunting dan gizi buruk.
Sulastri mengaku sangat prihatin dengan kondisi dari anak-anak stunting, dan berharap langkah-langkah kolaboratif yang dilakukan akan mampu menekan angka stunting di Kota Pekanbaru.
Dia juga mengapresiasi upaya pemberian makan tambahan juga bantuan makanan bergizi dari Dinas Ketahanan Pangan Kota Pekanbaru kepada keluarga anak terdampak. Dengan harapan pasca menerima bantuan, pemantauan oleh tenaga penyuluh dan penggerak juga pemeriksaan kesehatan secara berkala, anak bisa keluar dari kondisi stunting ini. (R04)