PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Badan Riset dan Inovasi Negara (BRIN) dan Dinas Ketahanan Pangan (DKP), Rabu (12/11/2025) menggelar Focuss Group Discussion (FGD) terkait 'Urban Farming: Model Pengembangan Pertanian Perkotaan Berbasis IPTEK Dalam Rangka Mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan khususnya di Kota Pekanbaru''.
FGD ini membedah hasil riset yang dilaksanakan BRIN dan BRIDA terhadap geliat Urban Farming yang dilaksanakan baik oleh pelaku usaha maupun kelompok masyarakat/ komunitas.
Sejumlah peneliti BRIN dan BRIDA ikut hadir dalam FGD yang juga menghadirkan kalangan akademisi, pelaku usaha urban farming, pengembang perumahan, petugas penyuluh pertanian, Balitbang Kota Pekanbaru, Dinas Koperasi UMKM, Dias Pertanian dan sejumlah stake holder terkait lainnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Pekanbaru, Dr.H.Muhammad Jamil, dalam sambutannya mengungkapkan sangat mengapresiasi pelaksanaan FGD terkait urban farming di Kota Pekanbaru.
Dijelaskan Jamil, meski pun di Kota Pekanbaru, akses masyarakat dalam melaksanakan aktivitas bercocok tanam terbatas, namun, minat dalam melaksanakan usaha pertanian dengan pola ini cukup besar. Dan saat ini, bahkan, sudah ada masyarakat yang menggarap pertanian dengan pola urban farming ini secara profesional dengan usaha yang terus berkembang.
Salah satunya adalah, dengan melakukan aktivitas pertanian secara hidroponik. Selain itu juga ada kelompok ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani yang secara jumlah perannya cukup signifikan.

Peneliti BRIN, Dr. Rachmiwati Yusuf menjelaskan, tujuan dari FGD.
Dia berharap dengan FGD ini, akan mampu menggali lebih jauh lagi, peran-peran dari masyarakat dalam mendukung ketahanan pangan, khususnya di perkotaan.
Sementara itu, peneliti BRIN, Dr. Rachmiwati Yusuf menjelaskan, tujuan dari FGD ini merupakan upaya untuk mendapatkan umpan balik dari beberapa stake holder untuk dapat memberikan rekomendasi dalam pengembangan keberlanjutan urban farming ke depan di Kota Pekanbaru.
Dalam penelitian yang dilakukan, pihaknya menggunakan lima dimensi untuk melihat peran dari urban farmin dalam mendukung ketahanan pangan ini.
Lima dimensi itu, sebut Rachmi, melihat urban farming dari perspektif keberlanjutan, yakni, ekologi, ekonomi, teknologi, sosial dan kelembagaan.

Suasana FGD dipandu Dr.Aswandi
Dia berharap, dari variabel yang dihadirkan, akan bisa mendapatkan gambaran lebih jauh tentang aktivitas urban farming ini sendiri di Kota Pekanbaru.
Dia juga meihat pentingnya upaya kolaborsi yang dilakukan dalam mendukung pengembangan urban farming di Kota Pekanbaru dengan melibatkan perangkat pemerintah setempat seperti RT, RW, pemuda, anak-anak muda bahkan komunitas media sosial.
''Dari FGD ini kita berharap bisa memberikan rekomendasi kepada pemerintah dan stakeholder terkait yang mendukung pada pengembangan urban farming,'' kata dia.
Misalnya, sebut dia, adalah, kepada developer, bagaimana supaya pihak pengembang perumahan bisa menyediakan lahan yang bisa digunakan untuk melaksanakan kegiatan usaha tani.
Begitu juga dengan pengembang ruko, dengan ikon 'Kota Seribu Ruko', bagaimana supaya pengembangan ruko ke depan mengaplikasikan konsep bangunan hijau, seperti di atas ruko dengan membuat ruang hijau.
''Selain bisa mengurangi panas, menambah keindahan kota dan ruang hijau yang bisa mendukung pada paru-paru kota,'' kata dia.
Dari pelaksanaan FGD, ada dua arus besar aktivitas urban farming, masing-masing adalah pelaku usaha murni dan urban farming berbasis sosial kemasyarakatan.
Dalam diskusi yang dipandu oleh Peneliti Utama dari Pusat Riset Botani Hayati dan Lingkungan BRIN, DR. Aswandi, Plt itu tampak hadir Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau, Wiwik Suryati juga sejumlah peneliti utama BRIN, akademisi, Bappeda. DI forum ini juga dibahas tentang peran dari teknologi dalam mendukung pengembangan urban farming.
Pada kesempatan itu, juga dilakukan diskusi tentang peluang pengembangan dan tantangan usaha urban farming dengan melibatkan pelaku usaha dan komunitas hidroponik.(R04)