PEKANBARU (RIAUSKY.COM) - Tari Zapin bukan sekadar tarian tradisional bagi masyarakat Melayu. Di setiap hentakan kaki dan ayunan tangan penarinya, tersimpan jejak sejarah panjang tentang identitas, nilai, serta peradaban yang tumbuh bersama masyarakat Nusantara.
Di Riau, zapin telah menjelma menjadi simbol kebanggaan yang tak terpisahkan dari denyut budaya Melayu. Pengakuan tari zapin Riau sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, semakin mempertegas posisinya sebagai ikon identitas daerah.
Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf, mengatakan pengakuan ini juga menjadi tanggung jawab besar untuk menjaga kelestariannya. Menurutnya, zapin tidak hidup hanya di satu wilayah. Tarian ini berkembang luas, mulai dari Riau, Kepulauan Riau, hingga Sumatra Utara dan kawasan Melayu lainnya.
"Persebaran itu menunjukkan bahwa zapin telah menjadi identitas bersama masyarakat Melayu Nusantara, yang melampaui batas administratif dan generasi. Tari zapin Riau telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, yang semakin menegaskan posisinya sebagai simbol identitas Melayu Riau," kata Datuk Seri Raja Marjohan di Pekanbaru, Jumat (09/01/2026).
Di balik keindahan geraknya, zapin juga memikul peran sosial yang kuat. Ia menjelaskan bahwa zapin bukan sekadar media ekspresi seni, melainkan sarana penguatan nilai-nilai sosial di tengah masyarakat. Sebab melalui tarian ini, generasi muda diperkenalkan pada akar budaya mereka sendiri.
"Nilai edukatif menjadi salah satu kekuatan utama zapin. Tarian ini mengajarkan sejarah, tradisi, serta tata krama Melayu secara halus namun membekas. Setiap penampilannya bukan hanya hiburan, tetapi juga ruang belajar yang menyenangkan bagi masyarakat," jelasnya.
Diungkapkan, keistimewaan zapin semakin terasa karena kandungan nilai-nilai Islam yang melekat di dalamnya. Tarian ini tumbuh seiring dengan proses penyebaran Islam di Nusantara, jejak itu masih tampak jelas dalam pola gerak dan irama yang mengedepankan kesantunan.
"Gerakan zapin yang sopan dan beradab mencerminkan karakter masyarakat Melayu yang menjunjung tinggi adab dan etika. Dimulai dari gerakan Alif, Sut, hingga Wainab. Kalau kita perhatikan zapin Riau ini tak ada yang mengangkat tangan terlalu tinggi, karena itulah menjaga betul tata kramanya," ungkapnya.
Sementara itu, Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAM Riau, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, menerangkan bahwa pelestarian Zapin telah menjadi perhatian serius pihaknya. Satu diantara jalur utama yang ditempuh adalah melalui dunia pendidikan, bekerja sama dengan dinas-dinas terkait.
"Kami telah memberikan masukan kebudayaan di kurikulum pendidikan, sebagaimana diatur dalam peraturan daerah. Tari Zapin menjadi salah satu unsur budaya yang terus didorong masuk dalam muatan lokal di sekolah-sekolah," terangnya.
Dituturkan, langkah ini diyakini mampu menanamkan kecintaan terhadap Zapin sejak dini. Generasi muda tidak hanya mengenal tarian ini sebagai tontonan, tetapi juga bagian dari identitas diri mereka sebagai generasi Melayu.
"Jadi didalam tari zapin itu sudah rangkum banyak budaya Melayu Riau. Seperti dari alat musik melayu, baju kebaya labuh kekek dan cekak musang, hingga gerak tarian itu sendiri. Sehingga, anak-anak zaman sekarang bisa belajar dan mengetahuinya mulai dari sekolahan." tuturnya.