Mendagri Imbau Pemda Waspadai Potensi Kenaikan Harga Pangan

Senin, 09 Februari 2026 | 15:28:33 WIB

JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Tito Karnavian mengimbai seluruh pemerintah  daerah untuk memantau dan mewaspadai kecenderungan pergerakan harga komoditas pangan.

Meski saat ini, tren harga komoditas pangan relatif stabil dan terkendali, namun, dia mengingatkan pentingnya dilakukan langkah-langkah antisipatif  dengan melakukan penguatan pangan daerah.

Itu disampaikan Mendagri Tito saat memimpin Rapat Koordinasi pengendalian Inflasi dan Evaluasi Dukungan Pemerintah Daerah Dalam mewujudkan Program Pembangunan Tiga juta Rumah, Senin (9/2/2026) pagi menjelang siang tadi yang dilaksanakan secara daring melibatkan seluruh stake holder pemerintah baik pusat dan daerah.

Tito mengungkapkan, belajar dari pengalaman Sumbar, Sumut  dan Aceh, seluruh daerah perlu mewaspadai potensi gangguan yang disebabkan kendala infrastruktur.

Memang, kata Tito, ada banyak daerah yang tidak terkena bencana saat musibah di Aceh, Sumut dan Sumbar. Namun, ada sejumlah daerah yang terdampak disebabkan terputusnya akses transportasi  menuju ke daerah tersebut dikarenakan kondisi kebencanaan.

“Belajar dari pengalaman ini, daerah-daerah yang rawan logistiknya kalau ada apa-apa harus memiliki ketahanan logistik, baik secara mandiri maupun stok. Yang mandiri itu maksudnya menanam sendiri, memproduksi sendiri, minimal (untuk) tiga bulan,” ungkap Tito.

Pada kesempatan itu, Mendagri Tito juga menjelaskan, sepanjang Januari 2026 ini, berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), angka inflasi secara year on year mengalami kenaikan mencapai 3,55 persen.

Angka ini, Jelas Tito, berada di atas target pemerintah untuk 2,5 plus minus 1.

Perumahan, air dan listrik  juga bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang utama inflasi yakni sebesar 11,83 persen serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 15,22 persen.

Sementara itu secara mounth to mounth, BPS merilis bahwa pada periode januari 2026, terjadi deflasi sebesar 0,15 persen dibandingkan periode Desember 2025.

Selain makanan dan minuman juga tembakau, harga emas juga menyumbang inflasi pada periode ini.

Namun begitu, Tito menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu cemas, karena sejatinya, situasi ini tidak berpengaruh pada terjadinya kenaikan harga barang dan jasa.

Hal ini juga menggambarkan, secara riil, dibandingkan dengan periode Desember 2025 lalu, ada penurunan yang signifikan terhadap harga sejumlah komoditas, khususnya pangan.

Sebagaimana diketahui, komoditas makanan, minuman dan tembakau mengalami penurunan sebesar -1,03 (deflasi).

Secara umum, hanya ada satu  komoditas pangan yang mengalami lonjakan kenaikan harga diatas harga acuan pemerintah, yakni cabai rawit yang harganya mencapai Rp50.000 per kilogram.

Sementara untuk komoditas bawang merah, cabai merah, ayam ras, masih relatif stabil.

Tito pada kesempatan tersebut juga menjelaskan kecenderungan terjadinya kenaikan harga emas akhir-akhir ini disebabkan oleh sentimen negatif masyarakat terhadap kebijakan fiskal Amerika Serikat yang menyebabkan publik (dunia) tidak membeli dolar dan beralih ke komoditas emas yang dinilai relatif stabil dan aman.

Di Pekanbaru sendiri, Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi sendiri diikuti sejumlah stake holder terkait di Ruang Rapat Wali Kota Pekanbaru di Perkantoran Tenayan Raya.

Tampak memimpin rapat tersebut, Staf Ahli Wali Kota, Yulianis, dihadiri sejumlah pimpinan OPD diantaranya Sekretaris Dinas Pangan Pekanbaru Adrizal, Kabid Distribusi dan Cadangan Pangan Dinal Husna.

Pada pertemuan itu juga dilakukan pembahasan terkait pembentukan Satgas Sapu bersih Harga Pangan Kota Pekanbaru bersama Satreskrimsus Polresta Pekanbaru.

Satgas ini merupakan kolaborasi dari jajaran Pemko pekanbaru terdiri dari Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Perindag dan Dinas Pertanian  juga Bagian Perekonomian. Selain itu juga ada perwakilan kepolisian, TNI juga Perum Bulog.(R04)

 

 

Terkini