Sensasi Salak Sidempuan: Manisnya untuk Beberapa Generasi

Sabtu, 04 April 2026 | 09:35:27 WIB

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Salak adalah salah satu jenis buah yang banyak digemari masyarakat Indonesia.

Rasanya yang manis, teksturnya yang minim air membuat salak menjadi pilihan masyarakat saat berbelanja buah-buahan.

Ada beberapa jenis buah salak yang lazim dikenal oleh masyarakat Indonesia, di antaranya adalah salak pondoh, salak sidempuan dan salak bali.

Nama-nama ini lazimnya disebut sesuai dengan daerah asalnya.

Beberapa waktu lalu, riausky.com berkesempatan berkunjung ke salah satu desa penghasil salak, tepatnya di Kota Sidempuan, Sumatera Utara.

Di Sumatera Utara, salak sidempuan sudah menjadi ikon tersendiri. menyebutkan buah ini akan langsung membawa penikmatnya pada sensasi rasa yang khas yang tidak dimiliki oleh buah-buah salak lainnya, yakni manis, asam dan kelat atau sepat.

Ya, tiga rasa itu merupakan kekhasan salak sidempuan yang tidak didapatkan ketika mengkonsumsi salak lainnya.

Bila anda beruntung, tentunya anda akan mendapatkan sensasi manis yang lebih kuat dibandingkan asam dan kelatnya.

Sensasi Manisnya salak sidempuan tak membuat kamu eneg, atau bosan. Bahkan, cenderung akan membuat kamu nagih dan tak mau berhenti mengunyah.

Dan dari sanalah sensasi perjalanan kami mendapatkan salak sidempuan terbaik dengan rasa manis yang lebih dominan bermula.

Nazaruddin, salah seorang petani salak sidempuan  mengungkapkan, memang sulit untuk bisa memastikan bisa mendapatkan salak sidempuan yang manis. Bahkan, petani pun harus memilih dan melihat satu per satu buah untuk bisa memastikan buah yang dipilih benar-benar sudah cukup matang dan manis.

Saat kami berkunjung ke kebun miliknya di Desa Sialogo, Lembah Lubuk Raya, Kabupaten Tapanuli Selatan, Nazaruddin menyempatkan diri untuk mengajak berkeliling menikmati sensasi memetik buah salak sidempuan.

Daerah yang hampir seluruh hamparannya merupakan perkebunan, umumnya salak ini, sebut Nazar, semenjak beberapa generasi lalu sudah menjadi sentra penghasil salak sidempuan.

Buahnya tidak hanya dipasarkan di kota-kota sekitar, namun sudah melanglangbuana hingga ke banyak provinsi di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri.

Mereka tidak mamasarkan langsung, namun ada pengepul yang membeli ke para petani.

Kebun salak sidempuan tumbuh sangat alami, tidak layaknya salak pondoh yang ditanam dengan banyak proses perawatan,  dengan menggunakan jarak tanam, atau buah sawit yang ditanam dengan rentang tanam tertentu. Salak sidempuan ditanam terkesan sekenanya saja.

Jarak tumbuh pohonnya juga tidak beraturan, ada yang berjarak 1 meter, 1,5 meter, dua meter, tidak ada patokan yang pasti.

''Ya ditanam, tumbuh begitu saja,'' kata dia.

Bila jenis tanaman lain harus diberi pupuk untuk bisa menghasilkan buah maksimal, Salak sidempuan miliknya malah nyaris tak pernah diberi pupuk.

''Tidak ada pupuknya, tanaman yang ada ini pun bukan baru ditanam, tapi sudah puluhan tahun,'' jelas dia.

Dijelaskan Salman, Adik dari Nazar, salak yang mereka miliki ini sudah berumur puluhan bahkan hampir 100 tahun. ''Jadi salak ini sudah ada semenjak zaman kakek nenek dan orang tua kami. Sekarang dikelola oleh abang saya ini,''ungkap dia sambil menunjuk beberapa makam di tengah hamparan kebun salak yang sedang kami panen.

Disebutkan dia, salak sidempuan khususnya yang mereka miliki memang memiliki kelebihan, karena rasanya lebih manis.

Sembari memilih dan mempersilakan kami menikmati salak-salak sidempuan yang sudah dipetik, Salman menjelaskan bisa jadi hal tersebut dikarenakan salak di tempat ini tumbuh di daerah yang relatif tinggi dan dan dingin.

''Tanah di sini subur, karena tidak panas, jadi tetap lembab,'' kata dia.

Sembari memilih, Salman juga menjelaskan, kalau salak ini kebanyakan tidak ditanam ulang. tapu tumbuh dengan sendirinya dari tunas baru.

''Jadi, kita jarang menanam baru, seperti ini (sembari menunjuk batang salak sidempuan yang sudah hampir mati,red), tunas barunya sudah tumbuh dan ini yang akan menjadi pohon salak baru,'' papar dia lagi.

Lantas berapa lama usia dari pohon salak sidempuan ini?

Salman menjelaskan, usianya sangat panjang, bisa sampai 100 tahun. ''Yang ada di sini  ini sudah hampir 100 tahun,'' kata dia.

Dijelaskan Salman, mereka tidak hanya memiliki kebun salak sidempuan di tempat ini, namun juga ada di beberapa hamparan lainnya.

Dari sinilah, kehidupan ekonomi keluarga masyarakat setempat tumbuh. Untuk biaya hidup, untuk menyekolahkan dan mengkuliahkan anak, juga untuk kebutuhan lainnya.

Nazar menambahkan,  setidaknya mereka melakukan panen per 2 minggu untuk  satu hamparan lahan.

''Sekitar 2 minggu sekali kita panen,''ungkap dia.

Untuk luas lahan yang dipanen saat ini, setiap kali panennya bisa mencapai 300- 400 kilogram. Dan itu nantinya sudah ada pembelinya.

Soal harga, dia mengaku kalau membeli di kebun itu lebih murah. Namun, sifatnya membeli untuk jangka panjang. ''Kan jarang-jarang juga orang datang langsung membeli salak ke kebunnya, jadi biasa sudah ada yang membeli,'' kata Nazar.

Membayangkan berkunjung ke Sidempuan untuk membeli salak saja tentunya tidak sebanding dengan lelah yang akan didapatkan. Apalagi mengingkat lokasi kebun salak kebanyakan terdapat di jalan menuju luar kota, seperti ke arah Sibolga dan majuk ke dalam perkempungan. 

Syukurnya, jalan menuju kebun salak sidempuan milik keluarga Nazar dan Salman ini sangat baik dan rapi. Seluruh badan jalan sudah diaspal, sehingga sangat membantu untuk kendaraan yang hendak melintas.

Sensasi berkunjung dan membeli salak sidempuan dari pokoknya ini akan bisa dinikmati satu paket dengan perjalanan wisata menuju Masjid Agung Syahrun Nur Sipirok atau air terjun dan pemandian alam Aek Sijorni di Aek Libung Tapanuli Selatan.

Meski jaraknya cukup jauh, tapi setidaknya bisa memberikan sensasi baru berliburan bagi keluarga.

Di sepanjang jalan menuju lokasi-lokasi wisata ini, kamu tentunya bisa singgah di lapak-lapak dan kedai warga yang menjual salak juga dodol khas Sidempuan juga aneka oleh-oleh khas lainnya.(R02)

 

Terkini