PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih (Saber) Harga Pangan Kota Pekanbaru melakukan inspeksi mendadak ke gudang distributor minyak goreng Minyakita di Pergudangan Avian Pekanbaru, Kamis (30/4/2026).
Ada tiga gudang yang dilakukan inspeksi oleh tim yang terdiri dari Pemerintah Kota Pekanbaru (Dinas ketahanan Pangan, Dinas Perindag, DPMPTSP dan Inspenktorat), Tipidter Polresta Pekanbaru dan Kejaksaan Negeri Pekanbaru di kawasan pergudangan yang terletak di Jalan Siak II Pekanbaru itu.
Kegiatan inspeksi dipimpin oleh Staf Ahli Wali Kota Pekanbaru, Dr. Abdul Jamal. Ada tiga lokasi pergudangan yang ditinjau, masing-masing milik CV Bintang Terang dan CV. Suka Karya Bersama.
Dari temuan di lapangan, di kedua perusahaan distributor ini, tidak lagi tersedia stok Minyakita. Seluruhnya sudah habis didistribusikan.
Mereka mendapatkan pasokan dari Grup Wilmar.
Baik Bintang Terang maupun Suka Karya Bersama pada kesempatan tersebut mengaku kalau terakhir mereka menerima pasokan pada pertengahan April 2026 lalu. Adapun setelah itu, mereka belum menerima pasokan.
Pada kesempatan itu, tampak mendampingi sidak Satgas Saber Harga Pangan Manager Bintang Terang, Ari dan Hendra.
Hanya saja, memang ada beberapa hal yang menjadi catatan bagi Tim Satgas, dimana, pasokan Minyakita yang dikelola oleh distributor tingkat 2 tersebut ternyata tidak dipasok di pergudangan perusahaan di Pekanbaru, melainkan disebutkan disimpan di gudang di Kota Duri, Kabupaten Bengkalis.
Padahal, berdasarkan aplikasi Simirah Kementerian Perdagangan, alamat tujuan tertera untuk gudang penyimpanan Minyakita untuk perusahaan tersebut beralamatkan di Pergudangan Avian Pekanbaru.
''Untuk Minyakita, gudang kita di Duri, Penanggung jawabnya Pak Siahaan yang tadi ibu Telpon,'' ungkap Ari.
Dia pun menjelaskan kalau minyakita yang mereka terima berasal dari Wilmar dan diambil dari pergudangan perusahaan di wilayah Dumai.
Hanya saja, lanjut dia, saat ini, untuk minyak goreng Minyakita memang tidaka da di pergudangan milik perusahaannya di Pekanbaru.
Dari pantauan riausky.com, memang ada kejanggalan dalam posisi gudang dan stok. Di mana, hanya Minyakita saja yang tidak ada di gudang tersebut, sementara untuk Minyak goreng non subsidi produksi Wilmar lainnya, bermerek Sovia tertumpuk penuh di gudang tersebut.
Selanjutnya bergerak ke pergudangan distributor Minyakita milik CV Suka Karya Bersama.
Di CV Suka Karya Bersama, ternyata kondisinya juga tidak jauh berbeda. Karena alamat pergudangan tidak sesuai dengan yang tertera di aplikasi Simirah.
Karena ternyata gudang untuk Minyakita milik perusahaan tersebut tidak berada di Pergudangan Avian, melainkan di Pergudangan Platinum. Adapun di Pergudangan Avian, ternyata hanya ada kantor Suka Karya Bersama yang menjual aneka makanan dan minuman seperti kue-kue dan bir.
Direktur Suka Karya Bersama, Tommy yang menemui Tim Saber Harga Pangan mengungkapkan kalau awalnya memang pergudangan mereka ada di Avian, namun kemudian dipindahkan ke Platinum.
Namun begitu, Tommy juga menjelaskan kalau saat ini mereka sudah tidak memiliki pasokan untuk Minyak goreng Minyakita. Dan terakhir menerima alokasi dari Wilmar pada pertengahan 15 April lalu dengan alokasi sebanyak 19.800 liter.
Tommy yang saat itu juga didampingi staf Adminnya Eka mengungkapkan kalau alokasi tersebut sesuai dengan perjanjian dengan Wilmar tidak mutlak harus didistribusikan di wilayah Pekanbaru. Melainkan untuk wilayah Riau daratan.
''Sesuai kesepakatan dengan Wilmar, alokasi yang kami terima untuk Riau daratan, jadi bukan sepenuhnya di Pekanbaru,'' ungkap dia.
Staf Ahli Wali Kota Pekanbaru, Dr. Abdul Jamal Kabid Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Kota Pekanbaru, Dinal Husna selepas Sidak mengungkapkan kalau pengecekan oleh Satgas Saber Harga Pangan di sejumlah distributor ini untuk memastikan penyebab naiknya harga minyak goreng Minyakita di Kota Pekanbaru.
Sebagaimana diketahui, harga Minyakita di Pekanbaru melonjak dari HET Rp15.700 dan kini rata-rata berkisar Rp20.000 di pasaran.
Dia menjelaskan, minyak goreng sebenarnya tidak langka di Pekanbaru, karena untuk merek lain tetap ada. Hanya saja, untuk Minyakita memang ada kenaikan harga, yang oleh sebab itulah, dalam Rapat Inflasi beberapa hari lalu, disepakati untuk menelusuri penyebab kenaikan harga tersebut.
''Kita sudah bertemu beberapa grup pabrikan seperti Wilmar Nabati dan Musim Mas untuk memastikan penyebab kenaikan harga. Dan dari pabrikan, disebutkan harga sesuai dengan ketentuan,''ungkap Jamal.
Dari pabrikan, pengecekan dilakukan ke Distributor di Pekanbaru.
''Di Pekanbaru, sesuai Aplikasi Simirah, ada beberapa distributor tingkat 2, dan hari ini kita lakukan pengecekan dengan mengambil sampel 2 distributor saja hari ini,''timpal Dinal Husna.
Dari kedua distributor D2 ini, diketahui memang stok digudang sedang kosong. Dan diakui kalau saat ini mereka belum mendapatkan alokasi dari Wilmar, karena memang produsen minyak goreng ini sedang fokus untuk memenuhi kebututuhan penyaluran bantuan pangan.
Wilmar sendiri sebelumnya memang sempat mengkonfirmasi kalau saat ini mereka fokus mengalokasikan Minyakita untuk Kebutuhan Perum Bulog. Bahkan untuk bulan April ini, Wilmar mengaku mengalokasikan 100 persen produksinya untuk Bulog.
Bulog sendiri diketahui menjadi pelaksana penyaluran bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng periode Februari - Maret 2026.
Adapun untuk periode ini, jumlah penerima bantuan melonjak lebih dari tiga kali lipat dari periode tahun 2025.
Di Pekanbaru sendiri, sebelumnya hanya terdata sebanyak 18.986 penerima bantuan pada tahun 2025, dan pada 2026 melonjak menjadi 63.243 penerima.
Dinal menjelaskan, dengan kondisi kekosongan di tingkat distributor saat ini, pihaknya akan menyurati Kementerian Perdagangan dan pihak terkait lainnya untuk memastikan distribusi di tingkat masyarakat tidak sampai terganggu.
''Kita menindaklanjuti masukan dari masyarakat karena harga Minyakita tinggi dan kita menemukan kondisinya bahwa memang stok di distributor kosong. Di sisi lain, kita juga mengetahui, meski pun Bulog memiliki stok yang cukup, namun, juga dipersiapkan untuk mendukung program pemerintah untuk bantuan pangan,''ungkap Dinal.
Sedianya, sebut dia, kondisi ini tidak boleh terjadi. Karena, bagaimana pun kebutuhan minyakita di masyarakat di luar penerima bantuan juga cukup tinggi.
''Tugas kita untuk memastikan apakah kondisi memang disebab stok yang terbatas. Ketika faktanya sperti itu, kita akan berkoordinasi dan menyurati kementerian supaya pasokan di masyarakat juga tercukupi. Jadi kita akan surati kementerian terkait melalui Disperindag, supaya untuk di Kota Pekanbaru ditambah alokasi Minyakita,'' jelas Dinal.
Dia juga mengajak para pengecer untuk juga mematuhi ketentuan yang berlaku oleh pemerintah, dimana harga eceran tertinggi untuk Minyakita adalah Rp15.700 per liter.
''Jadi imbauan kita, walaupun pedagang dapatnya sedikit, tetaplah menjual sesuai dengan HET,'' kata dia.
Satgas Saber harga pangan sendiri rencananya tidak berhenti hingga ke tingkat distributor. Pihaknya juga akan turun melakukan pengecekan hingga ke toko-toko pengecer untuk memastikan kepatuhan dalam penjualan Minyakita sesuai dengan regulasi yang sudah ditentukan pemerintah. (R04)