LAMR Bengkalis Terima Kunjungan Mahasiswa MKWK Polbeng

Sabtu, 06 Juni 2026 | 15:31:22 WIB

BENGKALIS (RIAUSKY.COM) – Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Bengkalis menerima kunjungan mahasiswa yang tergabung dalam Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Politeknik Negeri Bengkalis (Polbeng) dalam rangka melakukan kajian budaya terkait permainan rakyat Melayu, bertempat di Balai Adat LAMR Kabupaten Bengkalis.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) yang bertujuan memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap nilai-nilai budaya lokal, khususnya permainan tradisional yang menjadi warisan kearifan masyarakat Melayu.

Rombongan mahasiswa diterima langsung oleh jajaran pengurus LAMR Bengkalis, di antaranya Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR Bengkalis, Dt. Defitri Akbar, Sekretaris Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Bengkalis, Dt. Khairul Saleh, Bidang Pelestarian dan Pembinaan Seni Melayu Dt. Irmanyah, serta Bidang Pelestarian Adat dan Nilai Budaya Dt. Ariyansyah Putra.

Ketua kelompok mahasiswa MKWK, Almin dari Program Studi Teknik Mesin Produksi dan Perawatan, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bertujuan untuk menggali informasi secara mendalam mengenai filosofi dan nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai permainan rakyat yang pernah hidup dan berkembang di tengah masyarakat Bengkalis.

“Kami ingin mengetahui lebih jauh makna, nilai edukatif, sosial, dan kebersamaan yang terkandung dalam permainan rakyat. Setelah memperoleh gambaran yang lebih jelas, kami berencana mengadakan kegiatan untuk memperkenalkan kembali permainan-permainan tradisional kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.

Sementara itu, Dosen Pembimbing MKWK, Dt. Khairul Saleh, menjelaskan bahwa model pembelajaran MKWK saat ini lebih menekankan pada pendekatan interaktif dan berbasis proyek yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk menyelesaikan persoalan sosial di tengah masyarakat.

Menurutnya, pada semester sebelumnya program MKWK berfokus pada isu lingkungan hidup, sedangkan semester ini diarahkan pada penguatan adat dan budaya melalui empat tema utama, yakni digitalisasi UMKM dan destinasi wisata Pulau Bengkalis, Podcast “Akademika Bicara”, Parade Budaya Nusantara, serta Exhibition Permainan Rakyat dan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Ketua MKA LAMR Bengkalis, Dt. Defitri Akbar, menyambut baik kegiatan tersebut dan memberikan apresiasi kepada mahasiswa Polbeng yang dinilai turut berkontribusi dalam upaya pelestarian budaya daerah.

Ia menegaskan pentingnya dokumentasi dan revitalisasi permainan rakyat sebagai bagian dari identitas budaya Melayu yang harus terus dijaga di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi.

“LAMR berharap hasil kajian dan diskusi yang dilakukan mahasiswa dapat menjadi bahan edukasi bagi generasi muda serta dikembangkan dalam bentuk publikasi, dokumentasi digital maupun kegiatan pelestarian budaya di masyarakat,” ungkapnya.

Dalam sesi diskusi, mahasiswa juga aktif mengajukan berbagai pertanyaan yang dijawab langsung oleh dua narasumber, yakni Dt. Ariyansyah Putra dan Dt. Irmanyah.

Dt. Ariyansyah Putra menjelaskan bahwa masyarakat Melayu pesisir, termasuk di Bengkalis, memiliki beragam permainan rakyat yang dahulu sangat akrab dengan kehidupan anak-anak di kampung. 

Permainan tersebut tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga media pembentukan karakter dan kebersamaan.

Beberapa permainan yang diperkenalkan antara lain gasing, engklek, galah panjang, congkak, dan benteng. Menurutnya, permainan-permainan tersebut mengandung nilai strategi, ketangkasan, kerja sama, kesabaran, hingga sportivitas.

Sementara itu, Dt. Irmanyah menjelaskan tentang permainan layang-layang yang sangat populer di wilayah pesisir seperti Bengkalis karena didukung kondisi angin laut yang baik. Selain itu, terdapat pula permainan sorok-sorokan atau petak umpet yang dahulu banyak dimainkan anak-anak di lingkungan kampung.

Menurutnya, permainan rakyat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran sosial yang mampu melatih kerja sama, keterampilan, serta interaksi antar sesama tanpa bergantung pada teknologi.

Melalui kunjungan tersebut, diharapkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal semakin meningkat. Permainan rakyat sebagai bagian dari identitas budaya Melayu di Kabupaten Bengkalis juga diharapkan tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang melalui berbagai program edukasi dan pelestarian budaya.

Terkini