TAMBUSAI UTARA (RIAUSKY.COM)- Warga di Rawa Seribu Desa Mahato, Camatan Tambusai Utara, Rokan Hulu dibuat heboh. Pasalnya, saat ini, ada dua unit alat berat yang bekerja di areal rawa yang selama ini dikenal sebagai habitat alami ikan arwana di Rokan Hulu tersebut.
Dua unit Ekskavator jenis Hitachi berwarna orange tersebut sudah dua hari terakhir bekerja di kawasan yang rencananya juga memang akan dijadikan oleh pemerintah sebagai tempat konservasi Arwana jenis golden red.
Warga mempertanyakan status 2 alat berat di kawasan Rawa Seribu di Mahato tersebut. Apakah memang tengah mengerjakan program pemerintah, atau milik pengusaha atau oknum yang sengaja menggarap kawasan dilindungi negara.
"Kami bingung. Kalau memang program pemerintah kenapa tidak ada petugas yang mengawasi," ujar warga Mahato berinisial SPM dan lainnya kepada wartawan, Selasa, 28 juni 2016 seperti dilansir dari Spiritriau.
SPM mengungkapkan, 1 dari 2 alat berat tersebut baru masuk, Selasa pagi tadi. "Kabarnya ini punya warga Mahato," jelas mereka
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Rohul, Sri Hardono, juga membenarkan adanya alat berat yang tengah mengerjai kawasan Rawa Seribu Mahato.
"Itu orang Desa Mahato, sepertinya dia memang mancing-mancing kerusuhan," jelasnya.
Sri Hardono mengakui pihaknya juga sudah mendapat kabar dari Polsek Tambusai Utara tentang keberadaan alat berat yang tengah mengerjakan kawasan yang rencananya akan dipakai sebagai kawasan ikan arwana jenis golden red.
"Sudah kita awasi. Polsek pun (Tambusai Utara) sudah melapor. Mereka ini sekedar memancing reaksi," terangnya.
Sri Hardono menjelaskan pihak Kementrian Kehutanan (Kemenhut) sudah turun ke kawasan Rawa Seribu. Saat ini, kawasan yang rencananya akan dijadikan kawasan konservasi ikan arwana tengah diproses oleh Kemenhut.
"Setelah keluar SK, tergantung kemampuan pengelola bagaimana mengelolanya nanti," tandas Sri Hardono.
Dulunya, kawasan Rawa Seribu Mahato merupakan habitat ikan arwana jenis golden red, ikan hias mahal kualitas nomor dua di dunia.
Namun, semakin maraknya aksi perambahan dilakukan oknum masyarakat dan perusahaan, kawasan yang awalnya rawa kini menjadi daratan dan dijadikan kebun kelapa sawit oleh oknum. (R03/sr)