PEKANBARU (RIAUSKY.COM) - Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan melalui penyelenggaraan International Guest Lecturer yang menghadirkan akademisi dari Universiti Malaysia Perlis (UniMAP), Malaysia, Assoc. Prof. Dr. Nor’izah binti Ahmad. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (15/7/2026) di Auditorium Kampus Utama Umri ini diikuti sekitar 200 mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat dan Program Studi Ilmu Komunikasi.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan Fikom Umri Jayus, SSos MIKom., serta dihadiri Wakil Dekan Johan Faladhin, SIKom MIKom., Ketua Program Studi Hubungan Masyarakat Ulmi Marsya, SIKom MA., Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Khusnul Hanafi, SIKom MIKom., dosen Raja Widya Novchi, MSocSc., Abdul Rahman Sayopi, MIKom., serta jajaran dosen dan tenaga kependidikan Fikom Umri lainnya.
Dalam sambutannya, Jayus menegaskan bahwa penyelenggaraan International Guest Lecturer merupakan bagian dari strategi Fikom Umri untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperluas wawasan mahasiswa melalui perspektif internasional.
“Forum seperti ini sangat penting untuk menambah wawasan dan pengalaman akademik mahasiswa. Mereka tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga memperoleh perspektif serta praktik terbaik dari akademisi internasional. Harapannya, mahasiswa Fikom Umri semakin siap menghadapi tantangan dunia komunikasi yang terus berkembang di era digital,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Assoc. Prof. Dr. Nor’izah binti Ahmad menyampaikan kuliah bertajuk Crisis Communication and Reputation Management in a Digital Society: Strategies for Building Public Trust in an Era of Viral Information. Materi ini mengupas berbagai tantangan komunikasi krisis di tengah masyarakat digital, ketika informasi menyebar dengan sangat cepat melalui media sosial dan dapat memengaruhi reputasi organisasi hanya dalam hitungan menit.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi publik. Saat ini setiap individu dapat berperan sebagai penerbit informasi (everyone is a publisher), penyiar (everyone is a broadcaster), sekaligus pemberi pengaruh (everyone is an influencer). Kondisi tersebut menuntut setiap organisasi untuk mengedepankan kecepatan, transparansi, konsistensi, dan autentisitas dalam merespons krisis guna menjaga kepercayaan publik.
Mahasiswa juga diajak memahami tahapan perkembangan sebuah krisis, mulai dari issue, risk, hingga crisis, serta pentingnya membangun reputasi organisasi jauh sebelum krisis terjadi. Reputasi yang dibangun melalui komunikasi yang konsisten, terbuka, dan berempati akan menjadi modal utama dalam mempertahankan kepercayaan masyarakat ketika organisasi menghadapi situasi yang sulit.
Untuk memperkaya pemahaman peserta, narasumber menghadirkan sejumlah studi kasus komunikasi krisis di kawasan ASEAN, di antaranya tragedi Malaysia Airlines MH370, AirAsia QZ8501, dan tragedi Stadion Kanjuruhan di Indonesia. Dari berbagai kasus tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai pentingnya penyampaian informasi yang cepat, akurat, konsisten, serta berempati dalam proses penanganan krisis.
Tidak hanya membahas teori, kegiatan ini juga menghadirkan simulasi penanganan krisis digital. Mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diminta menyusun strategi komunikasi pada 30 menit pertama setelah munculnya sebuah isu viral di media sosial. Simulasi tersebut meliputi proses verifikasi informasi, penentuan pihak yang harus dihubungi, penyusunan pesan awal kepada publik, hingga strategi menjaga kepercayaan pemangku kepentingan.
Pada sesi penutup, Dr. Nor’izah memperkenalkan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam komunikasi krisis. Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi potensi krisis sejak dini, memantau percakapan publik, menganalisis sentimen masyarakat, hingga membantu menyusun draf respons awal secara cepat. Namun demikian, ia menegaskan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan kepemimpinan, empati, tanggung jawab, dan integritas manusia dalam membangun serta mempertahankan reputasi organisasi.
Melalui penyelenggaraan International Guest Lecturer ini, Fikom Umri berharap mahasiswa memperoleh wawasan global mengenai praktik komunikasi krisis dan manajemen reputasi di era digital, sekaligus memperluas jejaring akademik internasional. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Fikom Umri menghadirkan proses pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, kebutuhan industri komunikasi, serta tantangan global, sehingga mampu melahirkan lulusan yang kompeten, profesional, dan berdaya saing di tingkat internasional.