Kisah Tengku Mansyur Chalid, Panglima Kerajaan Siak di Masa Revolusi Kemerdekaan RI

Selasa, 11 Agustus 2026 | 17:39:10 WIB

SIAK (RIAUSKY.COM) — Nama Tengku Mansyur Chalid kembali mengemuka dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di Kabupaten Siak. Bangsawan Kesultanan Siak Sri Indrapura bergelar Tengku Panglima Dalam itu, tercatat sebagai pimpinan utama organisasi perjuangan Pemuda Republik Indonesia (PRI), Badan Keamanan Rakyat (BKR), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Siak setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Tengku Mansyur Chalid lahir di Siak pada 13 Desember 1912 dan meninggal dunia pada 21 Maret 1991. Ia merupakan putra Tengku Endut Said Chalid dan Tengku Long Badariah serta berasal dari lingkungan bangsawan Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, Tengku Mansyur Chalid telah dipercaya memegang kedudukan penting di lingkungan kesultanan. Berdasarkan Surat Angkatan Nomor 218 tertanggal 1 Agustus 1940 atau 27 Jumadil Akhir 1359 Hijriah, Sultan Syarif Kasim II menganugerahkan kepadanya gelar Tengku Panglima Dalam.

Penghormatan terhadap Tengku Mansyur Chalid semakin menguat setelah namanya 

diusulkan sebagai tokoh dan Pejuang Daerah Kabupaten Siak tahun 2026. Untuk ditetapkan sebagai pahlawan daerah oleh Pemerintah Provinsi Riau.

Setelah namanya di susun dan diusulkan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kabupaten Siak dengan mengacu pada sejumlah sumber sejarah, termasuk arsip Kesultanan Siak, catatan perjuangan, serta dokumen yang dihimpun keluarga dan ahli waris.

Tokoh asal Siak ini, Tengku Mansyur Chalid  di ganjar penghargaan secara anumerta oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau dalam rangka Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau pada Rapat Paripurna DPRD Provinsi Riau di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, pada Minggu (9/8).

Penghargaan diserahkan Pelaksana Tugas Gubernur Riau, SF Hariyanto, bersama Ketua DPRD Provinsi Riau, Kaderismanto, dan diterima salah seorang ahli waris Tengku Hamdan.

Atas penghargaan itu, Bupati Siak Afni Zulkifli menilai jejak perjuangan tokoh-tokoh lokal seperti Tengku Mansyur Chalid penting untuk terus dikenalkan kepada masyarakat dan generasi muda. 

Menurut Afni, sejarah perjuangan di Siak merupakan bagian tidak terpisahkan dari perjalanan Riau dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

“Alhamdulillah, tahniah atas penghargaan yang diberikan Plt. Gubernur Riau kepada Almarhum datuk Tengku Mansur Chalid sebagai pejuang daerah asal Siak. Diwakilkan ahli waris bapak Tengku Hamdan anak dari almarhum bapak Tengku Mansur Chalid," kata Afni, di Siak, Selasa (11/8/2026).

Afni berpesan, dengan diberikannya penghargaan ini kepada tokoh Siak, diharapkan jasa almarhum menjadi tauladan bagi generasi muda dalam membangun Siak yang Hebat dan Bermartabat.

"Tengku Mansur Chalid salah satu tokoh yang berjuang di era revolusi kemerdekaan, masih banyak lagi tokoh dan pejuang daerah setelah kita merdeka yang menerima penghargaan dari Gubernur," singkat Afni.

Gelar tersebut bukan sekadar penghormatan adat. Kedudukannya menunjukkan kepercayaan Kesultanan Siak terhadap kapasitas kepemimpinan dan pengabdian Tengku Mansyur Chalid dalam lingkungan kerajaan.

Peran itu kemudian berkembang menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan, ketika kabar Proklamasi sampai ke Siak Sri Indrapura. Pada masa tersebut, situasi daerah belum sepenuhnya stabil. Kekuasaan Jepang telah berakhir, sementara ancaman kembalinya pemerintahan kolonial Belanda bersama pasukan Sekutu mulai membayangi berbagai daerah di Indonesia.

Di tengah keterbatasan sarana komunikasi, para tokoh Siak melakukan konsolidasi untuk mempertahankan kemerdekaan. Berdasarkan catatan sejarah yang dihimpun Orang Kaya Muhamad Djamil, Tengku Mansyur Chalid berada di posisi nomor satu dalam struktur pimpinan PRI, BKR, dan TKR Siak.

Posisi itu menempatkannya sebagai salah satu tokoh sentral dalam mengorganisasi kekuatan pemuda dan masyarakat menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial.

Tengku Mansyur Chalid tidak bergerak sendiri. Dalam struktur perjuangan tersebut terdapat sejumlah tokoh lain, antara lain Ilyas H. Muhammad, Encik Mohoyan, Wan Amran, Karim Jang, Abdul Manaf Hadi, Umar Yet, dan Anwar Diman.

Salah satu langkah penting yang tercatat dalam dokumen perjuangan adalah pengorganisasian persenjataan yang berada di lingkungan Kesultanan Siak. Senjata yang tersedia, termasuk senjata api dan persenjataan tradisional seperti tombak serta kelewang, kemudian disalurkan kepada para pemuda untuk memperkuat pertahanan daerah.

Langkah itu dilakukan ketika Indonesia masih berada dalam masa revolusi fisik dan berbagai daerah menghadapi ketidakpastian politik serta ancaman kembalinya kolonialisme Belanda.

Namun, perjuangan Tengku Mansyur Chalid tidak berhenti pada bidang pertahanan. Ia juga terlibat dalam pembentukan pemerintahan sipil Republik di Siak.

Dalam struktur Komite Nasional Indonesia (KNI) Siak Sri Indrapura, Tengku Mansyur Chalid tercatat sebagai anggota inti. Pada restrukturisasi KNI Siak Januari 1946, ia berada dalam jajaran bersama M. Nur Madjid sebagai ketua dan O.K. Muhamad Djamil sebagai wakil ketua.

Bagi Siak, peran tersebut menjadi penting karena masa awal kemerdekaan bukan hanya membutuhkan kekuatan bersenjata, tetapi juga membutuhkan tokoh yang mampu menjaga keberlangsungan pemerintahan sipil dan ketertiban masyarakat.

Pengakuan terhadap kiprah Tengku Mansyur Chalid juga telah diberikan negara jauh sebelum pengusulan sebagai Pejuang Daerah. 

Berdasarkan dokumen yang disampaikan pihak keluarga, ia memperoleh Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia berdasarkan Petikan Surat Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Nomor Skep/956/VIII/1981 yang ditetapkan di Jakarta pada 15 Agustus 1981.

Dokumen tersebut mencatat Tengku Mansur Chalid dengan NPV 4003840 dan golongan B. Setelah meninggal dunia pada 1991, Tengku Mansyur Chalid dimakamkan di kawasan Masjid Syahabuddin, Jalan Sultan Ismail, Siak Sri Indrapura. Makamnya berada di kawasan bersejarah yang juga berkaitan dengan sejumlah tokoh penting Kesultanan Siak, termasuk Sultan Syarif Kasim II.

Bupati Siak Afni Zulkifli menempatkan pengusulan Tengku Mansyur Chalid sebagai bagian dari upaya memperkuat ingatan sejarah daerah. Bagi pemerintah daerah, pengakuan terhadap tokoh tersebut tidak semata-mata menjadi penghormatan kepada seorang bangsawan atau mantan pejabat kesultanan, melainkan pengakuan terhadap kontribusi masyarakat Siak dalam mempertahankan kemerdekaan.

Jejak Tengku Mansyur Chalid juga menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan di daerah berlangsung melalui berbagai jalur. Ada yang mengangkat senjata, ada yang membangun pemerintahan, dan ada pula yang menghubungkan keduanya melalui kepemimpinan lokal.

Dengan jejak sebagai Tengku Panglima Dalam, pimpinan utama PRI-BKR-TKR Siak, anggota inti KNI Siak, serta penerima gelar Veteran Pejuang Kemerdekaan RI, Tengku Mansyur Chalid menempati salah satu posisi penting dalam narasi perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Siak Sri Indrapura.

Terkini