Riau Kejar Target Inklusi Keuangan, Pelajar Didorong Aktif Menabung Sejak Dini

Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:37:35 WIB

PEKANBARU (RIAUSKY.COM) – Pemerintah Provinsi Riau terus mendorong peningkatan inklusi keuangan melalui perluasan akses layanan keuangan sekaligus penguatan literasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Upaya tersebut diarahkan untuk memastikan masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap produk keuangan, tetapi juga mampu menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab.

Hal tersebut mengemuka dalam Puncak Hari Indonesia Menabung dan Puncak Bulan Literasi Keuangan Tahun 2026 di Ballroom Kantor OJK Provinsi Riau, Kamis (20/8/2026).

Asisten III Sekretariat Daerah Provinsi Riau, M Job Kurniawan mengatakan, capaian inklusi keuangan Riau telah mendekati target yang ditetapkan dalam dokumen perencanaan daerah. Namun, peningkatan akses tersebut harus tetap diiringi dengan penguatan literasi agar masyarakat memahami manfaat, risiko, biaya, hak, dan kewajiban dari layanan keuangan yang digunakan.

“Kita tinggal mengejar sedikit lagi untuk mencapai target inklusi yang telah ditetapkan. Namun, yang lebih penting adalah memastikan peningkatan akses tersebut diikuti pemahaman yang kuat dari masyarakat,” tuturnya.

Menurutnya, masih terdapat tantangan berupa kesenjangan antara masyarakat yang telah menggunakan layanan keuangan dengan masyarakat yang benar-benar memahami produk tersebut. Karena itu, edukasi mengenai pengelolaan keuangan, risiko layanan finansial, hingga perlindungan data pribadi perlu terus diperkuat.

“Jangan sampai masyarakat sudah menggunakan layanan keuangan tetapi belum memahami apa yang digunakan. Akses dan pemahaman harus tumbuh bersama agar layanan keuangan memberikan manfaat, bukan justru menimbulkan persoalan,” jelasnya.

Dalam upaya memperluas inklusi sekaligus membangun kecakapan finansial, Pemprov Riau juga memberikan perhatian khusus kepada pelajar. Menurut M Job, kebiasaan mengelola keuangan yang dibentuk sejak usia sekolah dapat menjadi fondasi penting bagi generasi muda ketika memasuki usia produktif.

Ia mengajak pelajar menjadikan menabung sebagai kebiasaan yang dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika berlangsungnya momentum Hari Indonesia Menabung. Menurutnya, kebiasaan menyisihkan uang dalam jumlah kecil apabila dilakukan secara rutin dapat membentuk kedisiplinan dan kemandirian dalam mengelola keuangan.

“Tidak harus menunggu memiliki uang dalam jumlah besar untuk mulai menabung. Sedikit demi sedikit apabila dilakukan dengan disiplin akan menjadi kebiasaan yang membentuk kemandirian dan kemampuan mengelola keuangan,” ujarnya.

Ia juga meminta sekolah dan guru mengambil peran dalam memberikan pemahaman keuangan secara praktis kepada peserta didik. Materi seperti membedakan kebutuhan dan keinginan, menentukan target tabungan, mengatur uang saku, serta mengenali produk keuangan yang legal dinilai penting dikenalkan sejak dini.

“Literasi keuangan perlu menjadi bagian dari kebiasaan di sekolah. Anak-anak harus belajar bagaimana mengatur uang saku, menentukan prioritas, membuat target tabungan, dan memastikan layanan keuangan yang digunakan memiliki legalitas,” katanya.

M Job menambahkan, penguatan literasi dan inklusi keuangan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, industri jasa keuangan, dunia pendidikan, keluarga, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Sementara itu, Plt Kepala OJK Provinsi Riau, Mohammad Fredly Nasution menyebut capaian literasi dan inklusi keuangan di Riau menunjukkan perkembangan positif. Meski demikian, menurutnya, masih terdapat ruang yang harus diisi melalui edukasi yang lebih luas dan berkelanjutan.

“Capaian yang ada hari ini merupakan hasil kerja bersama, tetapi bukan akhir dari perjalanan. Masih diperlukan penguatan edukasi agar masyarakat di berbagai lapisan semakin memahami layanan keuangan yang mereka gunakan,” katanya.

Ia mengatakan OJK akan terus memperluas kegiatan edukasi keuangan, khususnya kepada generasi muda. Pelajar dinilai menjadi kelompok strategis karena kebiasaan mengelola keuangan yang dibentuk sejak sekolah dapat menjadi bekal ketika mereka memasuki usia produktif.

“Kami ingin pelajar tidak hanya memiliki rekening, tetapi juga aktif menabung dan memahami bagaimana mengelola uang dengan tepat. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten sejak dini dapat menjadi bekal penting untuk masa depan,” ungkapnya.

Fredly menambahkan, pembentukan budaya menabung perlu dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga dan sekolah. Kebiasaan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari keseharian pelajar dan keluarga.

“Menabung merupakan kebiasaan yang harus dilakukan secara konsisten, bukan hanya pada saat momentum Hari Indonesia Menabung. Kami ingin budaya tersebut menjadi bagian dari keseharian pelajar dan keluarga,” tuturnya.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan sekolah dalam berbagai kegiatan edukasi dan kreativitas keuangan, termasuk lomba video Hari Indonesia Menabung 2026. Menurutnya, pendekatan kreatif dapat membuat pesan literasi keuangan lebih mudah diterima sekaligus mendorong pelajar menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah dan keluarga.

“Pelajar bukan hanya penerima edukasi, tetapi juga dapat menjadi penyampai pesan kepada teman dan keluarganya. Dengan cara itu, budaya menabung dan pemahaman keuangan dapat berkembang lebih luas di masyarakat,” tutupnya.

Terkini