Kagama Riau Serukan Evaluasi Tata Air Gambut Mencegah Karhutla Berulang

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:32:00 WIB

PEKANBARU (RIAUSKY.COM) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap kembali menjadi persoalan serius di Provinsi Riau. Dampaknya tidak hanya terhadap lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat, pendidikan, pertanian, aktivitas ekonomi, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat Riau.

Pengurus Daerah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Pengda KAGAMA) Riau, dengan mempertimbangkan masukan alumni dan pakar di bidang gambut, kesehatan, pendidikan, pertanian, kehutanan, serta bidang terkait lainnya, memandang bahwa kondisi saat ini membutuhkan respons cepat sekaligus penyelesaian akar persoalan secara berkelanjutan.

Ketua Pengda Kagama Riau Dr Arifudin mengatakan, kualitas udara di Provinsi Riau telah mengalami penurunan hingga mencapai kategori Sangat Tidak Sehat hingga Berbahaya, sehingga diperlukan langkah perlindungan kesehatan masyarakat dan penyesuaiankegiatan pendidikan.

“Kondisi kemarau yang diperkuat oleh El Niño meningkatkan risiko karhutla. Pada ekosistem gambut, kondisi yang sangat kering menyebabkan api mudah berkembang dan dapat terus menyala di bawah permukaan meskipun secara kasatmata terlihat telah padam,” katanya.

Dilanjutkannya, karhutla di Riau sangat berkaitan dengan kondisi ekosistem gambut. Oleh karena itu, penanganan tidakcukup hanya melalui pemadaman, tetapi perlumenyentuh akar persoalan berupa gambut yang terdegradasi dan kehilangan air.

“Restorasi gambut melalui pembasahan kembali (rewetting), pemulihan vegetasi (revegetation), dan revitalisasi sumber penghidupan masyarakat(revitalization) perlu diperkuat dan diperluas sebagai strategi jangka panjang. Restorasi harus berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat agar menjaga gambut juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi,” ujarnya.

Atas dasar tersebut, pihaknya mengeluarkan rekomendasi yakni Pemerintah perlu memperkuat tim lapangan agar setiap titik panas dapat segera diverifikasi dan ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran. Khusus pada gambut, pemadaman harus dilakukan secara tuntas melalui pembasahan yang memadai karena api dapat tetap menyala di bawah permukaan.

“Perlu diperkuat personal pemadam kebakaran melalui pengerahan sumberdaya manusia terlatih dan natura untuk logistik petugas lapangan, optimalisasi pemanfaatan sumber air terdekat dengan lokasi kebakaran gambut, dan dukungan alat berat untuk membuka akses menuju lokasi kebakaran,” sebutnya.

Selanjutnya, Informasi kualitas udara disampaikan secara terbuka, berkala, dan mudah dipahami masyarakat, disertai panduan aktivitas sesuai tingkat kualitas udara. Masyarakat, khususnya anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit pernapasan, dan kelompok rentan lainnya, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Masyarakat menggunakan masker yang sesuai dan terpasang dengan baik ketika harus beraktivitas di luar ruangan, serta menjaga kecukupan cairan dan kondisi kesehatan. Pemerintah memastikan kesiapsiagaan Puskesmas, rumah sakit, tenaga kesehatan, obat-obatan, dan layanan kesehatan untuk mengantisipasipeningkatan gangguan kesehatan akibat kabut asap.

Sekolah dan perguruan tinggi menyesuaikan kegiatan belajar, olahraga, dan aktivitas luar ruang berdasarkan kondisi kualitas udara dan pertimbangan kesehatan, dengan memprioritaskan keselamatan peserta didik.

“Pemerintah bersama fasilitas kesehatan memperkuat edukasi mengenai gejala yang perlu diwaspadai, serta mendorong masyarakat segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, gangguan pernapasan yang memburuk, atau keluhan kesehatan serius lainnya,” ujarnya. 

Selain itu, Pemerintah perlu memperkuat dan memperluas restorasi gambut, terutama pada wilayah terdegradasi dan rawan terbakar. Pengelolaan tata air dan pembasahan kembali gambut harus menjadi bagian utama strategi pencegahan, bukan hanya mengandalkan pemadaman ketika kebakaran telah terjadi.

“Masyarakat perlu ditempatkan sebagai pelaku utama melalui pengembangan pertanian tanpa bakar, paludikultur, agroforestri, penguatan kelembagaan masyarakat, serta usaha dan mata pencaharian yang sesuai dengan karakteristik gambut. Menjaga gambut harus memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” sebutnya. 

Terkini