PELALAWAN (RIAUSKY.COM) - Sebanyak 549 warga Kabupaten Pelalawan, Riau, terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) setelah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda wilayah tersebut. Data Dinas Kesehatan Pelalawan itu tercatat hingga Selasa, 25 Agustus 2026.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Pelalawan, Asril mengatakan peningkatan kasus ISPA mulai terdeteksi sejak kabut asap muncul pada 18 Agustus lalu. Data tersebut dihimpun dari seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari rumah sakit hingga puskesmas di seluruh kecamatan di Pelalawan.
"Kami mulai mendeteksi peningkatan kasus ISPA mulai kabut asap muncul sejak 18 Agustus lalu sampai hari ini," kata Asril, Rabu (26/8/2026).
Dari 549 penderita ISPA, sebanyak 278 orang merupakan laki-laki dan 271 perempuan. Puskesmas Pangkalan Kuras I mencatat jumlah pasien terbanyak, yakni 147 orang.
Berikut rincian kasus ISPA berdasarkan fasilitas kesehatan:
Puskesmas Pangkalan Kerinci I: 60 pasien
Puskesmas Pangkalan Kerinci II: 4 pasien
Puskesmas Bandar Seikijang: 26 pasien
Puskesmas Langgam: 52 pasien
Puskesmas Pangkalan Kuras I: 147 pasien
Puskesmas Pangkalan Kuras II: 28 pasien
Puskesmas Ukui: 70 pasien
Puskesmas Bandar Petalangan: 25 pasien
Puskesmas Kerumutan: 72 pasien
Puskesmas Pelalawan: 27 pasien
Puskesmas Pangkalan Lesung: 11 pasien
Puskesmas Bunut: 10 pasien
Puskesmas Teluk Meranti: 21 pasien
Puskesmas Kuala Kampar: 6 pasien<
Sementara itu, rumah sakit dan sumber fasilitas kesehatan lainnya belum mencatat pasien ISPA akibat kabut asap karhutla.
Asril mengatakan seluruh pasien sejauh ini masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat awal, seperti puskesmas dan melalui bidan desa. Belum ada pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit.
"Sampai saat ini pasien masih bisa ditangani di faskes awal seperti puskesmas maupun bidan desa. Belum ada rujukan ke RS," ujarnya.
Menurut Asril, kualitas udara di Pangkalan Kerinci berada dalam keadaan mulai membaik. berdasarkan informasi dari instansi berwenang. Kondisi tersebut turut meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.
Paparan asap karhutla dapat menyebabkan sejumlah keluhan, seperti batuk, flu, demam, dan sakit tenggorokan. Keluhan tersebut dapat menjadi bagian dari gangguan infeksi saluran pernapasan akut.
Untuk keluhan ringan, Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat memperbanyak konsumsi air putih, mengonsumsi vitamin dan obat sesuai kebutuhan, serta beristirahat di rumah.
Namun, perhatian lebih perlu diberikan kepada kelompok rentan, terutama lanjut usia dan warga yang memiliki penyakit bawaan seperti asma serta gangguan paru-paru.
"Untuk kelompok yang rentan, harus lebih menjaga kesehatan dampak dari asap. Jika kondisinya lebih parah, segera ke puskesmas," kata Asril.
Di tengah kondisi kabut asap, Posko Kesehatan Penanggulangan Bencana Karhutla didirikan di Kecamatan Kerumutan, tepatnya di Desa Bandar Panjang.
Posko tersebut merupakan kolaborasi sejumlah instansi, yakni Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Bid Dokkes) Polda Riau, Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Si Dokkes) Polres Pelalawan, Dinas Kesehatan Pelalawan, dan Puskesmas Kerumutan.
Pendirian posko ditujukan untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah yang terdampak karhutla dan kabut asap.