Posyandu Pekanbaru Bertransformasi, 98 Persen Sudah Terapkan Enam SPM

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:55:31 WIB

PEKANBARU (RIAUSKY.COM) - Posyandu di Kota Pekanbaru terus bertransformasi dalam memberikan pelayanan kepada warga. Dari sekitar 650 Posyandu, sebanyak 98 persen dilaporkan telah mampu melaksanakan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Ketua Tim Penggerak (TP) Posyandu Pekanbaru Sulastri saat launching penginputan Posyandu 6 SPM di rumah dinas wali kota, Kamis (1/10/2026), mengatakan, transformasi Posyandu tidak hanya menyangkut pelayanan. Tetapi, transformasi itu juga berkaitan pemanfaatan sistem yang dapat mempermudah kader dalam melaporkan berbagai kebutuhan masyarakat.

"Semua masukan dari warga sesuai dengan SPM. Sekarang, Posyandu sudah bertransformasi menjadi enam SPM. Sistem ini nantinya memudahkan kader dalam melaporkan berbagai masukan dari masyarakat," ujarnya.

Data yang diinput kader akan dapat dipantau oleh para camat dan lurah. Dengan begitu, pemko dapat mengetahui kebutuhan warga secara lebih cepat dan menentukan intervensi yang diperlukan.

"Artinya, dengan sistem ini, kami bisa langsung mengeksekusi setiap laporan yang ada di warga. Data juga bisa terus diperbarui dan dicek," jelas Sulastri.

Sistem tersebut diharapkan dapat membantu Pemko Pekanbaru melakukan pemantauan terhadap seluruh Posyandu. Dari sekitar 650 Posyandu, hampir seluruhnya telah menjalankan enam SPM.

Berdasarkan pembaruan data yang dilakukan TP Posyandu, sekitar 98 persen Posyandu di Pekanbaru telah melaksanakan enam SPM. Namun, capaian tersebut tidak membuat seluruh pihak berpuas diri.

"Kami tidak ingin cepat merasa puas. Kami juga masih ragu apakah pelaksanaannya sudah benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. Karena itu, akan terus kami perbarui dan evaluasi," ucap Sulastri.

Sistem tersebut juga akan disempurnakan dan diintegrasikan dengan aplikasi Pekanbaru Aman. Agar, proses pemantauan dan pelaporan dapat dilakukan secara lebih efektif.

Selain penguatan sistem, TP Posyandu Kota Pekanbaru juga memberikan dukungan berupa sarana pelayanan. Pada kegiatan tersebut, sebanyak 200 paket alat antropometri (alat untuk mengukur ukuran tubuh) diserahkan untuk 200 Posyandu. Bantuan tersebut merupakan tindak lanjut dari monitoring dan evaluasi (monev) yang dilakukan TP Posyandu pada awal tahun untuk mengetahui kebutuhan masing-masing Posyandu.

"Hari ini, kami menyerahkan 200 paket alat antropometri untuk 200 Posyandu. Ini merupakan hasil monev yang kami lakukan di awal tahun untuk mengetahui apa saja kebutuhan Posyandu," sebut Sulastri.

Pemenuhan kebutuhan Posyandu akan terus dilakukan secara bertahap. TP Posyandu, mulai dari tingkat kecamatan hingga kota, akan terus menghimpun masukan dari para kader mengenai sarana dan dukungan yang masih diperlukan.

Selain alat antropometri, sebanyak 300 bibit cabai dari Dinas Ketahanan Pangan juga disalurkan untuk kelompok Dasa Wisma. Bibit tersebut diharapkan dapat dikembangkan sekaligus mendorong aktivitas sekitar 3.000 kelompok Dasa Wisma yang telah dibentuk di Pekanbaru.

"Kami berharap bibit ini bisa dikembangkan. Sehingga, ibu-ibu Dasa Wisma yang sudah kami bentuk bisa semakin aktif," harapnya.

Dalam kegiatan yang sama, Sulastri juga meluncurkan gerakan literasi yang digagas Bunda Literasi Kota Pekanbaru. Gerakan tersebut mengusung tema "Satu Buku Sejuta Harapan untuk Pekanbaru".

Melalui gerakan itu, warga diajak berpartisipasi dalam gerakan sedekah buku. Buku yang disumbangkan akan disimpan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip).

Para camat dan lurah juga diminta ikut menyosialisasikan gerakan tersebut kepada warga di wilayah masing-masing. Gerakan itu diharapkan dapat meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) serta Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Pekanbaru.

"Kami berharap Kota Pekanbaru bisa menjadi salah satu daerah yang unggul dalam budaya literasi dan kegemaran membaca," tuturnya.

Sulastri juga mengungkapkan rencana agar setiap organisasi perangkat daerah (OPD), kecamatan, hingga kelurahan memiliki perpustakaan atau pojok baca. Keberadaan perpustakaan dan pojok baca tersebut menjadi salah satu upaya pemko dalam membangun budaya literasi di lingkungan masyarakat.

"Setiap OPD harus memiliki perpustakaan atau pojok baca. Begitu juga setiap kecamatan dan kelurahan. Ini menjadi bagian dari upaya pemerintah kota untuk membudayakan literasi di daerah masing-masing," katanya lagi.

Sulastri berharap berbagai program yang dilaksanakan secara kolaboratif tersebut dapat memperkuat sinergi antara TP PKK, TP Posyandu, pemerintah daerah, kader, dan warga. Semoga, semua bisa bekerja sama dan terus bersinergi untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi warga. 

Terkini