PEKANBARU (RIAUSKY.COM)– Tangis orang tua mana yang tak akan pecah. Ketika niat ingin berbagi kebahagiaan dengan buah hatinya berujung maut.
Seorang bayi berusia 3 tahun, bernama Akbar harus meregang nyawa setelah menelan sebutir bakso yang sedang disantap. Bayi malang tersebut diduga mengalami hipoksia, atau kesulitan bernafas karena buah tersebut menyumbat tenggorokannya.
Peristiwa tersebut terjadi Kamis, 10 Nopember 2016 pagi, ketika Akbar sedang menyantap bakso, dia langsung menelan sehingga tersedak.
Pihak keluarga yang mengetahui peristiwa itu berusaha memberikan bantuan agar bocah malang itu bisa kembali bernafas. Namun, upaya manual itu tak berhasil, sehingga korban dilarikan ke RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru.
Namun, untung tak dapat diraih, Akbar dilaporkan pihak rumah sakit sudah tidak bernafas saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Suasana penuh haru pun langsung mewarnai Ruang IGD RSUD Arifin Achmad itui.
Bahkan isak tangis pecah menyusul pernyataan dokter yang memastikan Akbar meninggal dunia.
“Ya Allah, kembalikan anak kami. Kami sayang sama dia,” ratap pria yang diketahui bernama Darwis, ayah Akbar.
Informasi yang berkembang di lapangan menyebutkan, awalnya bocah berusia 3 tahun itu makan makanan berikut….
bayi tersebut makan bakso di rumahnya di Kulim, Kamis, 10 Nopember 2016 pukul 08.30 WIB lalu. Tiba-tiba saja dia tersedak hingga sulit bernafas.

Orang tua bayi malang yang tersedak menangis meratapi kepergian buah hati mereka.
Mengetahui hal itu, pihak keluarga membawa si balita ke Klinik Taman Sari, Kulim. Bakso yang nyangkut di ternggorokan, sulit untuk dikeluarkan. Selanjutnya Akbar dibawa di rujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad Pekanbaru.
“Setelah diperiksa, ternyata Akbar sudah tak bernyawa lagi. Mungkin saja meninggal di perjalanan,” sebut dr Fitri Suryani, dokter umum yang bertugas di IGD kala itu.
Akbar dinyatakan meninggal dunia pukul 10.30 WIB. Sontak, tangis pihak keluarga pun pecah setelah mengetahui kenyataan itu.
Jangan Panik
Kasus bakso tertelan bulat-bulat banyak terjadi. Tersumbatnya saluran napas karena tersedak bakso yang belum dikunyah bisa memicu
kematian jika pertolongan yang diberikan lambat.
Jangan panik, sebatang pulpen bisa menyelamatkan nyawa asal tahu cara memanfaatkannya.
Bakso bisa tertelan dalam kondisi utuh jika tidak hati-hati, misalnya saat makan sambil bicara atau bercanda. Jika tertelan dan nyangkut di percabangan saluran cerna dengan saluran napas, bulatan kenyal sebesar bola ping-pong tersebut bisa mengancam keselamatan.
CARA MENANGANI
Saat seseorang tidak bisa bernapas, dalam beberapa detik wajahnya akan berubah menjadi kebiruan. Kondisi yang disebut hipoksia ini menunjukkan bahwa suplai oksigen menipis dan jika tidak segera diatasi maka beberapa saat kemudian otak bisa berhenti bekerja.
Kekurangan oksigen juga bisa berdampak pada organ lain, termasuk membuat otot jadi tidak berdaya. Jika otot jantung ikut terkena dampaknya, maka akibatnya bisa sangat mematikan apalagi jika otaknya juga sudah tidak berfungsi.
“Biasanya waktu wajahnya membiru, orang panik. Kalau saya, ambil saja pulpen, buka isinya kemudian tusuk baksonya,” ungkap Ketua Bidang Transfusi Darah PMI dr Farid Husain SpBd seperti dilansir dari Pekanbarumx.
Tujuan menusuk bakso dengan pulpen adalah menariknya keluar dari pangkal tenggorokan. Namun hal ini biasanya sulit dilakukan, sebab
ukuran bakso yang besar membuat posisinya terjepit erat oleh dinding tenggorokan.
Oleh karena itu digunakanlah pulpen, yang memiliki lubang di tengahnya. Asal sudah ditusuk, bakso dengan pulpen menancap di tengah-tengahnya akan membentuk lubang yang bisa dilewati udara pernapasan sehingga tidak terjadi hipoksia.
Jika jalan napas sudah tidak tersumbat, maka waktu yang dibutuhkan untuk menunggu datangnya bantuan atau ambulan menjadi lebih longgar. Yang terpenting, suplai oksigen tidak terhambat dan pasien sudah bisa bernapas.
“Urusan infeksi kalau pulpennya tidak bersih, itu nanti di rumah sakit saja. Namanya juga darurat. Lebih penting menyelamatkan nyawanya dulu kan, daripada memikirkan risiko infeksinya?” pungkas dr Farid