Gara-gara SMS Masuk, Santriwati Manis Ini Dihabisi Pacarnya dengan Sadis

Selasa, 11 April 2017 | 19:59:05 WIB
Pekau (kiri) dan korban (kanan) semasa hidup
MAJENANG (RIAUSKY.COM) - Ahmad Nurofik (22) tega menganiaya tunangannya sendiri, Nafsul Mutmainah (16). Korban dianiya hingga meninggal dunia. Gara-garanya sepele. Pelaku curiga dengan pesan singkat yang masuk ke ponsel kekasihnya.
 
Ahmad Nurofik adalah warga Kutasari Kecamatan Cipari, Cilacap. Dia juga salah satu mahasiswa perguruan tinggi di Majenang. Sementara korban adalah siswa kelas 10 di Madrasah Aliyah (MA) Pesantren Pembangunan.
 
Terungkapnya kasus pembunuhan ini berawal dari laporan penemuan mayat di hutan pinus di Desa Cilopadang, Minggu (9/4) siang. 
 
Kapolsek Majenang AKP Fuad, menuturkan, saksi mata pertama kali melihat mayat itu saat hendak mencari rumput. Polisi mendatangi lokasi penemuan mayat dan mengidentifikasi kondisi korban. Polisi meneliti data laporan orang hilang yang diterima. 
 
Dari sana diketahui ada laporan anak hilang pada Sabtu (2/4) lalu. Polisi kemudian menghubungi keluarga korban untuk membantu proses indentifikasi. Keluarga lalu memastikan korban adalah Nafsul Mutmainah. 
 
Keluarga juga menceritakan, korban terakhir kali pergi bersama tunangannya pada Jumat (1/4/2017) lalu. Sedangkan jenasah korban pada Minggu malam dievakuasi oleh Polsek Majenang dibantu Polres Cilacap. 
 
Polres juga menerjunkan tim INAFIS untuk mendukung penyelidikan. Jenasah korban kemudian dibawa ke RSUD Margono Sukarjo guna kepentingan otopsi. Berdasarkan keterangan yang didapat dari keluarga korban, pada Minggu malam, polisi langsung mendatangi rumah Ahmad Nurofik di Kecamatan Cipari. 
 
Polisi langsung mengamankan Ahmad Nurofik dan membawanya ke Mapolsek Majenang guna pemeriksaan lebih lanjut. “Di hadapan petugas inilah, dia mengakui seluruh perbuatannya menghabisinya nyawa kekasihnya,” kata AKP Fuad, Senin (10/4). 
 
Di hadapan petugas, pelaku menceritakan peristiwa pada Jumat pekan lalu. Dia bersama Nafsul terlebih dahulu bertemu di Taman Kota Majenang. Setelah itu keduanya pergi ke hutan pinus. Saat berdua inilah, korban menerima pesan singkat. Pelaku kemudian menanyakan pengirim pesan itu namun tidak dijawab korban. 
 
Ahmaf Nurofik kemudian marah dan mencekik korban hingga tidak berdaya. Dia dengan teganya lantas menginjak korban di bagian kepala hingga meninggal dunia. Pelaku lalu menyembunyikan jenasah korban diantara rerimbunan rumput liar di bawah pohon pinus. AKP Fuad mengatakan, motif pemunuhan ini karena pelaku merasa cemburu. “Motifnya jelas karena cemburu,” kata dia. 
 
Identitas mayat yang ditemukan warga di hutan pinus milik Perhutani di Dusun Cipabeasan, Desa Cilopadang, dikenali dari pakain seragam pramuka dan sepatu korban. Barang yang masih melekat dan nampak utuh itu dikenali keluarga korban. 
 
Sementara itu, kondisi fisik korban sudah sulit untuk dikenali. Petugas baru bisa memastikan kalau jenasah itu adalah Nafsul Mutmainah (16) setelah keluarganya ikut mendatangi lokasi. Keluarga bisa memastikan setelah melihat sepatu yang masih dikenakan korban. 
 
“Keluarga kita datangkan saat identifikasi di lokasi. Mereka hafal dengan sepatu korban,” ujar Kapolsek Majenang, AKP Fuad.
 
Korban diketahui sempat membeli sepatu dengan salah satu saudara kandung. Sepatu milik keduanya ini sama persis hingga mudah diingat oleh keluarga korban. Beberapa informasi bahkan menyebut sepatu ini punya merk yang sama. 
 
“Sepatunya sama dengan milik saudara dan belinya juga sama,” ujar salah satu tetangga korban, Nasirudin. 
 
Kepergian Nafsul membuat kaget semua pihak yang mengenalnya. Mulai dari kerabat, tetangga, teman hingga para guru di MA PP Desa Cibeunying. Seluruh orang yang mengenalnya tahu persis kalau anak ini sangat pendiam. Bahkan ada juga yang mengatakan dia merupakan tipe anak rumahan. 
 
Orang tua Nafsul Mutmainah, Edi Muryadin dikenal sebagai orang yang taat menjalankan ibadah. Ini terlihat dari letak rumah tersebut yang berdampingan dengan mushola kecil. Edi bahkan kerap menjadi imam mushala. 
 
“Anak ini pendiam sekali dan tidak banyak bertingkah,” ujar Muhammad Yasir Amri, guru Bimbingan dan Konsultasi (BK) MA PP Cibeunying, kemarin. 
 
Hingga hari terakhirnya bersekolah, belum sekalipun Nafsul dipanggil ke ruang BK karena bermasalah. Ditambahkannya, Nafsul Mutmainah bukanlah anak yang menonjol dalam bidang akademik ataupun non akademik. Para guru lebih mengingatnya sebagai anak pendiam dan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda keganjilan. 
 
Termasuk beberapa hari sebelum dia dilaporkan hilang oleh kelurganya pada 2 April lalu. “Dia tidak menunjukkan tanda-tanda yang aneh. Masuk sekolah seperti biasa dan tetap sebagai anak pendiam,” katanya. 
 
Sementara itu, proses penyerahan jenasah dari petugas kepada keluarga dihujani isak tangis para pelayat. Mereka merupakan tetangga dan teman sekolah korban di MA PP Cibeunying. Suara isak tangis ini terus terdengar sesaat sebelum jenasah diberangkatkan ke pemakaman umum. Ratusan warga nampak mengantarnya ke liang lahat tempat peristirahatan terakhir. (R01/Jpg)

Terkini