
PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Tak ada yang menyangka kehadiran sarana telekomunikasi akan mengubah pola pikir masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Konon lagi di sebuah kelurahan kecil bernama Sorek Satu yang terletak di Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, Riau yang sebagian besar ruas jalannya hanya beralaskan tanah.
Debu beterbangan menghinggapi pintu- pintu rumah warga, itu hal keseharian yang ditemui bila anda berkunjung ke sana. Setiap satu jam sekali, akan ada truk tangki bermuatan air yang akan menyirami agar debu-debu tersebut tak sampai terlalu mengotori dan menjadi sumber polusi udara bagi warga.
Truk pengangkut buah dan minyak kelapa sawit atau truk kayu dari areal hutan yang dikelola oleh perusahaan hampir tiada hentinya melintas di depan rumah mereka. Tapi, hampir tak menggugah keinginan masyarakatnya untuk menyekolahkan anak-anak mereka setinggi-tingginya.
Tamat SMP atau SMA cukuplah bagi mereka. Itu pun baru terbangun sekitar empat atau lima tahun terakhir. Sebelumnya, tamat sekolah dasar (SD) saja itu sudah cukup untuk memberikan kesempatan pada anak-anak di desa tersebut mengenyam pendidikan.
Kala itu, bagi mereka, pendidikan bukanlah hal yang dianggap menentukan untuk masa depan. Pendidikan hanyalah syarat untuk status sosial agar sang anak atau anggota keluarga bisa membaca atau menulis atau agar tak dibilang keluarga miskin yang tak mampu menyekolahkan anak-anak mereka.
Selebihnya, dunia pencerdasan ini tidak lebih dianggap sebagai hal yang sia-sia.
''Ya, untuk apa, sekolah tinggi-tinggi pun nanti balik juga ke kampung. Tamat SMA atau sarjana, tak juga bisa memberikan gaji yang memuaskan. Lebih besar lagi penghasilan kami di kampung ini dari pada orang-orang sekolah tinggi itu,'' kata Rahman, salah seorang tetua setempat.
Ada juga, orang-orang tua di Sorek Satu tersebut yang menyekolahkan anaknya sampai menembus jenjang perkuliahan. Namun, bukannya membawa kabar gembira dengan pulang menjadi sarjana, banyak di antara mereka yang disekolahkan tersebut pulang dengan tangan hampa.
Putus kuliah di tengah jalan, adalah pemandangan lazim saja di tengah masyarakat Sorek Satu. Namun, bagi para orang tua, itu jauh lebih baik dari pada anak-anak mereka menjadi pengangguran di kota atau terlibat tindak kriminal terjerembab dalam pergaulan bebas atau penggunaan obat-obatan terlarang.
Pilihan agar anak-anak mereka kembali ke kampung dianggap sebagai keputusan yang jauh lebih baik. Karena, dengan demikian, para orang tua juga bisa memastikan kalau keadaan anak-anak mereka baik-baik saja dan tentu saja, bisa membantu perekonomian keluarga dengan bertani kelapa sawit atau karet.
Namun, seiring perkembangan waktu, fenomena apatis terhadap dunia pendidikan pun berubah. Para orang tua pun dengan bangga dan senang hati menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi.
Mereka tidak dibuat khawatir lagi dengan pemikiran bagaimana kondisi anak-anak mereka di rantau selama mengenyam pendidikan. Bahkan, optimisme bahwa pendidikan akan membawa perubahan terhadap pola hidup dan perilaku umum masyarakat setempat pun menjadi semangat baru bagi para orang tua.
Kekhawatiran mereka seolah sirna. Penetrasi teknologi digital yang dihadirkan Telkomsel melalui layanan 3G maupun 4G mampu menjadi solusi.
Jarak yang jauh, kesulitan dalam berkomunikasi verbal dan visual yang selama ini menjadi jurang kekhawatiran terhadap aktivitas anak-anak mereka pun sirna.
Kini, kapan pun, dimana pun, para orang tua bisa memantau anak-anak mereka yang sedang mengenyam pendidikan tanpa diliputi rasa cemas, khawatir akan hal-hal yang tidak diinginkan.
***
Sorek Satu adalah salah satu dari 17 kelurahan dan desa yang ada di wilayah Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan.
Karena pertumbuhannya yang relatif cepat, maka Sorek Satu menjadi satu-satunya daerah yang kemudian dinaikkan statusnya dari desa menjadi menjadi kelurahan di Pangkalan Kuras.
Pertimbangan tersebut, dikatakan Camat pangkalan Kuras, Drs H Dahnil tidak terlepas dari kondisi dimana Kelurahan Sorek Satu merupakan daerah yang terletak pada garis terdepan pusat pemerintahan kecamatan Pangkalan Kuras, yakni Sorek.
Secara infrastruktur, dalam beberapa tahun terakhir, Sorek Satu sangat cepat berkembang. Ditandai dengan ketersediaan akses jalan beraspal mulai dari bibir Jalan Lintas Timur Sumatera- Sorek hingga Kilometer 2, serta sisanya jalan sirtu yang tembus hingga ke Desa Betung.
Secara perekonomian pun, Sorek Satu termasuk daerah dengan tingkat kesejahteraan di atas rata-rata desa lainnya di Pangkalan Kuras.
Daerah ini dikategorikan sejahtera karena hampir sebagian besar warganya hidup secara berkecukupan dan mempunyai tingkat penghidupan yang layak.
Mayoritas warganya hidup dari sektor pertanian yakni sebagai petani kelapa sawit dan karet tradisional dan berladang.
Dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dilaporkan bahwa mayoritas masyarakat di Sorek Satu beraktivitas pada sektor pertanian dengan total mencapai 70 persen, sedangkan sisanya sekitar 9,75 persen terlibat dalam aktivitas perniagaan dan jasa.
Walau baru sekitar 24 persen ruas infrastruktur jalannya adalah tanah, namun, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kemampuan masyarakatnya dari sisi perekonomian.
Mayoritas masyarakatnya hidup dengan perekonomian yang layak, tempat tinggal yang memadai dan setiap rumah memiliki sarana penunjang transportasi dan telekomunikasi yang memadai.
Tak heran bila saat ini, di sekitar Sorek muncul banyak sarana pendukung perekonomian seperti perbankan yang jumlahnya mencapai 5 unit bank, 11 koperasi, 3 pasar dan ratusan usaha retail berskala menengah.
Begitu pun toko-toko yang menjual perangkat handphone canggih dan android. Beberadaannya pun seolah tumbuh sejalan dengan ketersediaan sarana telekomunikasi yang disediakan oleh provider dan operator telekomunikasi.
Daya beli masyarakat untuk membeli perangkat telekomunikasi juga tinggi. Hal tersebut ditandai dengan munculnya banyak toko-toko besar yang khusus menjual perangkat android dan smart phone (ponsel pintar) serta kios-kios dan toko reseller penjualan perangkat telekomunikasi.
Layanan Telkomsel adalah fasilitas telekomunikasi yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di wilayah Pangkalan Kuras, khususnya di wilayah Sorek Satu.
Pertimbangannya tentu saja fakta bahwa Telkomsel satu-satunya operator telekomunikasi yang sudah menjangkau hingga ke ceruk atau pedalaman perkampungan yang ada di wilayah Pangkalan Kuras.
''Karena posisinya dekat ibu kota Pangkalan Kuras, Sorek Satu ini umumnya dihuni oleh warga yang berpindah. Sebagian besar keluarga asli masyarakatnya masih menetap di desa-desa dan dusun yang jaraknya mencapai puluhan kilometer dari Sorek Satu. Karena itulah, dibutuhkan perangkat yang bisa menjangkau ke semua desa itu. Sejauh ini, baru Telkomsel yang bisa diakses sampai ke desa-desa tersebut,'' ungkap Sofyan, Staf di Kelurahan Sorek Satu saat ditemui.
Sebenarnya, dikatakan dia, ada banyak layanan telekomunikasi lain berdiri di sekitar Sorek Satu, namun, situasinya sering tidak memuaskan masyarakat dalam berkomunikasi. ''Yah, bahasanya, kalau di Kota Sorek saja ya bisa, tapi kalau sudah ke kampung, mulailah tak bisa,'' ungkap dia.
Itu belum lagi kaitannya dengan kondisi jaringan yang kadang tidak stabil, sering mati, towernya tidak berfungsi. ''Kalau sesekali, mungkin bisa dipahami, tapi kalau sampai berhari-hari, kan jadi masalah,'' imbuhnya.
Karena itulah, sebut Sofyan, masyarakat memilih menggunakan layanan yang pasti. Bisa menjangkau sampai ke dusun-dusun dan kualitas jaringannya baik. ''Soal tarif, atau pulsa, masyarakat di sini tak terlalu mempersoalkan, karena secara perekonomian mayoritasnya mereka mampu,'' kata dia lugas.
Sejak Ada 3G dan 4G, Video Call dan WhatsApp Jadi Pilihan

Salah seorang ibu rumah tangga sambil bersantai menggunakan jaringan data Telkomsel.
Dengan kemampuan ekonominya, masyarakat Sorek Satu mampu membeli sarana pendukung telekomunikasi terbaik dan terkini. Tak hanya 3G, kini, masyarakat pun telah terbiasa menggunakan layanan 4G.
Bagi mereka, perangkat telekomunikasi ini bukan sekedar untuk gagah-gagahan atau gaya-gayaan. Melainkan digunakan sebagai sarana untuk bisa terus memantau aktivitas keseharian keluarga, khususnya anak-anak yang sedang berada di luar rumah atau mengenyam pendidikan di luar daerah.
''Ya, saya sendiri awalnya hanya menggunakan ponsel biasa, cukup bisa bicara atau kirim SMS saja. Tapi, semenjak ada 3G dan 4G, saya menggunakan layanan yang lebih bagus lagi. Terutama yang bisa digunakan untuk video call,'' sebut Sumarni salah seorang ibu rumah tangga.
Dikatakan dia, kadang, dirinya ragu kondisi anak kalau mendengar suara. ''Kadang kan bisa bohong. Dibilang sedang belajar, eeh...tak tahunya dia sedang main-main sama teman-temannya. Dibilang sedang kuliah, ternyata sedang jalan-jalan. Karena itulah, kepada anak yang sedang kuliah, disediakan satu perangkat handphone yang bisa 3G atau 4G, di rumah disediakan satu untuk saya, satu untuk suami, jadi bisa langsung terawasi. Kalau ragu, kadang saya minta video call,'' papar ibu tiga anak yang cuma tamat SMP tersebut.
''Alhamdulillah, semenjak bisa berkomunikasi menggunakan video call, keraguan kita berkurang. Kapan rindu mau bicara sama anak, langsung divideokan saja, apalagi kalau pulsa (kuota,red) masih banyak, pasti video. Tak jarang juga menggunakan fasilitas WhatsApp dan sangat jarang sekali melakukan panggilan langsung melalui nomor seluler,'' imbuh wanita yang kesehariannya menggunakan kartu SimPATI ini.
''Sebenarnya, kalau sekarang ini, paket untuk layanan 3G atau pun 4G itu kan lebih murah. Habis paket, kita tinggal isi ulang atau beli nomor baru. Tarifnya juga bisa disesuaikan dengan kuota yang diperlukan,'' ungkap dia.
Untuk layanan penjualan Telkomsel, diakui Sumarni juga mudah untuk didapatkan. ''Tak harus ke Pasar Sorek, di kios atau toko-toko di depan rumah juga banyak,'' jelasnya lagi.
Tapi, dibalik itu semua dalam perkembangannya, diakui Sumarni, penggunaan sarana telekomunikasi berbasis digital tersebut seperti menjadi tren di tengah masyarakat khususnya di Sorek Satu.
''Sekarang mungkin kebanyakan ibu-ibu di sini sudah menggunakan handphone pintar. Soalnya rata-rata rumah sudah pakai yang seperti ini,'' ungkap Sumarni sembari menunjukkan ponsel Samsung Galaxy J5 yang digunakannya.
Karena demikian booming- nya penggunaan ponsel pintar, dijelaskan Sumarni lagi, bahkan banyak kebiasaan-kebiasan lama yang mulai terhilangkan.
''Di sini kan masih desa, kadang tiap siang atau sore itu, kita, terutama ibu-ibu kan masih ada cerita-cerita, kunjung mengunjungi, apalagi banyak yang diantaranya masih bersaudara sebelah-sebelahan rumah. Tapi semenjak pakai handphone yang bisa WhatsApp atau video call, apa-apa dibahas pakai handphone saja lagi. kadang masak di rumah pun sampai difoto dan ditunjukkan pakai WA atau video,'' ungkap Sumarni sambil tersenyum.
Nah, yang lebih ekstrem, ditambahkan dia adalah, untuk memastikan keberadaan suami, diakui ibu berusia kepala empat itu dia tak jarang meminta komunikasi video.
''Sekali-sekali, kalau sudah malam belum pulang, dari pada khawatir, kadang saya juga suka video call. Kalau masih dapat jaringan seperti di pusat kota Sorek, kan langsung kelihatan sedang ngapain. Apalagi kalau lagi kerja yang tidak betul, ya langsung ketahuan kan?'' imbuhnya sembari tersenyum.
Penetrasi Jaringan 4G Telkomsel
Perangkat Telekomunikasi generasi ketiga (3G) sudah bisa dinikmati oleh masyarakat Sorek, termasuk Sorek I semenjak tiga tahun lalu. Sementara, untuk 4G, sudah mulai bisa diakses semenjak Juni 2017 yang lalu.
Ihsan, General Manager Sales Telkomsel Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng) menyebutkan, hingga paruh pertama 2017, setidaknya Telkomsel telah memperluas jaringan pemanfaatan 4G hingga beberapa kota di Riau, tak terkecuali kawasan di sepanjang Lintas Timur Sumatera seperti Sorek, Air Molek, Teluk Kuantan dan beberapa titik lainnya yang totalnya berjumlah 200 lokasi.
''Ada yang upgrade 3G ke 4G, ada juga berupa penambahan Base Transceiver Station (BTS),'' papar Ihsan.
Untuk regional Sumbagteng, dikatakan dia, Telkomsel sudah menyediakan tak kurang dari 889 BTS dengan jaringan 4G dan akan terus dikembangkan dengan jumlah yang lebih besar lagi. Penambahan dan peningkatan kapasitas jaringan yang dilakukan Telkomsel, dijelaskan Ihsan tidak terlepas dari komitmen Telkomsel untuk memberikan pelayanan terbaik kepada para pelanggan Telkomsel.
Provinsi Riau secara merata merupakan potensi pasar yang masih sangat potensial bagi Telkomsel. Hal tersebut ditandai dengan pertambahan jumlah pelanggan dari tahun-ke tahun yang terus bergerak signifikan. Disamping itu, tentu saja, angka pertumbuhan pengguna layanan data dan digital yang diusung melalui perangkat 3G dan 4G Telkomsel di Riau merupakan salah satu yang tertinggi yang ada di Sumatera.
Karena itulah, sebut dia, adalah kewajiban bagi Telkomsel untuk menyediakan jaringan dan kualitas layanan yang lebih baik.
Kini, layanan 4G Telkomsel di wilayah Riau, menurut Ihsan, tidak hanya bisa dinikmati oleh masyarakat Pekanbaru saja, tetapi juga oleh warga kota besar di kabupaten. Untuk wilayah sumbagteng, terdapat sekitar 1,5 juta pengguna perangkat 4G namun yang sudah menggunakan kartu SIM 4G baru sekitar 70 persen.
Telkomsel terus mengedukasi pelanggan setianya untuk memanfaatkan kualitas layanan terbaik yang dimiliki, khususnya melalui fitur-fitur menarik yang tersedia. ''Selain itu, tentu saja, harus didukung dengan layanan penjualan yang memudahkan masyarakat untuk berkomunikasi,'' ungkap Ihsan.(***)
PENULIS: BUDDY SYAFWAN
MEDIA : WWW.RIAUSKY.COM