TANAH DATAR (RIAUSKY.COM)- Arus deras Sungai Batang Sinamar yang mengalir di Kenagarian Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar menyisakan duka mendalam bagi Steven (33).
Ia adalah seorang pria yang bekerja sebagai dosen di salah satu universitas di Provinsi Riau.
Bencana yang menghantam desa itu telah merenggut nyawa istri dan dua anaknya serta jabang bayinya yang masih berumur 6 bulan.
Seperti dihantam Galodo (Banjir Bandang), hati Steven berkecamuk ketika mendengar kabar mengejutkan dari kampung halamannya pada Kamis 11 Oktober 2018 malam.
Kenapa tidak, hari itu telah jadi hari terakhir Steven bertemu dengan sang istri Rani (33) dan dua buah hatinya Steve (10) dan Anis (2,5).
Sore itu, hujan yang mengguyur Lintau jatuh sangat deras. Saking derasnya, air di Batang Sinama meluap menghantam enam rumah yang ada di pinggiran sungai.
Satu dari enam rumah itu adalah kediaman Steven. Di rumah yang disulap jadi warung kopi itu Rani-istrinya sehari-harinya berusaha sebagai pengelola warung sambil mengasuh Steve dan Anis serta bayi dalam kandungannya.
Sekitar pukul 18:00 WIB, air yang mengalir sungai tersebut mulai meluap, pelan-pelan mengaliri lantai rumah Rani. Selang setengah jam kemudian, Batang Sinama mengamuk hingga merusak dinding-dinding rumah wanita 30 tahun itu.
Rani pun panik, ia pun masuk ke dalam rumah dan menyelamatkan dua buah cintanya bersama sang suami, Steven. Seorang warga, Eriswal yang kala itu tengah menenggak secangkir kopi di warung Rani pun ikutan panik.
Tapi Eriswal tidak bisa apa-apa. Ia hanya bisa mematung di salah sudut ruangan toko sambil berpegangan pada tonggak penyangga bangunan rumah untuk menghindari amukan arus sungai.
"Saya tidak bisa apa-apa karena keterbatasan fisik. Akhirnya saya cuma bisa berpegang tonggak dan tidak melihat Rani yang masuk ke dalam rumah," katanya.
Melihat arus yang deras, Eriswal kebingunan. Sebab, ada tiga nyawa orang lain yang harus ia selamatkan, selain nyawanya sendiri. Karena keterbatasan fisik, ia akhirnya memilih diam hingga tim penyelamat dari BPBD Tanah Datar datang mengevakuasinya sekitar 30 menit kemudian.
"Saat tim datang saya langsung dibawa ke puskemas terdekat. Setelah itu saya tidak begitu ingat apa-apa lagi. Bencana itu mengerikan sekali," ucap Eriswal.
Di balik itu, ternyata nyawa Rani, Steve dan Anis tidak bisa diselamatkan. Mereka terbawa amukan Batang Sinama bersama material lumpur bekas longsoran tanah yang terjadi tidak jauh dari rumah mereka.
Duka di Pucuk Senja
Di sisi lain, Steven yang tengah berada di Kota Pekanbaru, Riau langsung bergegas pulang ke Tanah Datar. Kakaknya yang berada tidak jauh dari rumahnya di Lintau mengabarkan bahwa istri dan anaknya hilang saat bencana itu meluluhlantakkan Tanjung Bonai.
Saat senja berganti dengan malam, Steven tak kuasa lagi menahan air matanya yang jatuh ke pipi.
Sekitar pukul 5 pagi, Jumat 12 Oktober 2018 ia sampai di tanah kelahirannya itu. Genangan lumpur, dan pepohonan tumbang telah menutupi sebagian rumahnya di Tanjung Bonai.
Melihat itu, Steven langsung teringat istri dan dua anaknya. Tidak jauh dari lokasi ia berdiri, ia melihat tubuh Anis terbujur kaku. Anis ditemukan warga dalam kondisi meninggal dunia tidak jauh dari rumahnya sekitar pukul 20:00 WIB, Kamis.
"Steven terpuruk. Ia menangis meratapi jenazah anak bungsunya itu," kata salah seorang rekan Steven, Zainal Abidin.
Selang beberapa jam kemudian, tim penyelamat dari BPBD bersama warga sekitar menemukan jenazah Rani sekitar 1 kilometer dari lokasi rumahnya. Lalu pada pukul 11 siangnya, yang kemudian disusul dengan penemuan jenazah Steve 3 kilometer dari rumah.
Sinama, mereka hanyut terbawa arus sungai yang membelah Tanah Datar dan Kabupaten Limapuluh Kota itu.
Melihat penemuan jenazah tersebut, Steven hanya bisa terdiam, terpaku di antara jenazah keluarganya yang kaku ditutupi kain putih. Zainal Abidin ikut merasakan duka yang diderita sahabatnya tersebut.
"Saya tidak bisa bicara apa-apa lagi. Dia orang baik, saya tidak pernah melihatnya sesedih ini. Sekarang, air matanya lebih deras dari amukan Batang Sinama," tutur pria yang berprofesi sebagai pegawai Dinas Sosial Kabupaten Tanah Datar itu.
Ribuan doa mengiringi kepergian istri, dua anak dan bayi yang masih dalam kandungan dari warga Tanjung Bonai di rumah kakak Steven pada Jumat sore. Ketiganya disemayamkan hari itu juga.
Rani, Steve dan Rani adalah tiga dari 5 korban meninggal dunia akibat banjir bandang yang menghantam Tanjung Bonai. Bencana itu terjadi akibat hujan deras yang mengguyur Sumbar sejak Kamis siang.
Menurut catatan BPBD Sumbar, bencana ini melanda 11 kabupaten dan merusak sebanyak 305 rumah, serta jumlah korban keseluruhan 7 orang.(R03/klikpositif)