Hidup harus berjuang. Itu adalah kalimat pamungkas yang selalu diungkapkannya.
Bukan tak percaya pada takdir, namun, takdir itu akan terbentuk dan mempunyai keterkaitan dengan sekeras apa perjuangan yang dilakukan untuk bisa mewujudkannya.
Setelah bekerja dan berusaha, maka, jangan pernah lupa untuk berdoa, menyerahkan kembali segala sesuatunya kepada Allah Subhanahu wataala.
----------
Sebagai seorang pemudi, pandangan Kasmawati memang sangat dinamis. Ketika banyak anak-anak seusianya di kampung dahulu tak hendak merantau meninggalkan kampung halaman, tanah kelahirannya, Sorek, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kasmawati memutuskan pergi.
Ketika banyak remaja seusianya tidak berniat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dia memutuskan untuk berlari mengejar mimpi menjadi seorang sarjana.
Ketika banyak pemudi seusianya memutuskan untuk segera berkeluarga, Kasmawati memutuskan untuk mengejar dulu cita-citanya.
Semua itu, disebutkan Kasmawati, bermula dari sebuah perjalanan panjang seorang anak perempuan desa yang sempat merasakan perihnya hidup tanpa pendidikan, tanpa ilmu pengetahuan, sementara lingkungan di sekitarnya terus bergerak, berubah seiring waktu.
Lama, Kasmawati mengenang, sembari meneteskan air mata, dia mengenang saat-saat dimana harus berjalan kaki di tengah rerimbunan hutan guna pergi ke sekolah.
Dia juga kembali terkenang, mana kala harus berteriak, sembari meminta tolong kepada setiap sopir truk yang melintas untuk bisa diantarkan ke sekolah.
Dia juga masih sempat merasakan bagaimana harus berjalan kaki di tengah sore menjelang senja, di tengah hutan untuk bisa segera kembali ke rumah.''Kadang sampai di rumah itu jalan sudah gelap, di tengah hutan, sepi, saya sendiri juga takut, tapi semua itu menempa keberanian,'' imbuhnya.
''Alhamdulillah, anak-anak seusia saya kala itu terselamatkan oleh banyak orang-orang baik, orang orang yang peduli. Saya tidak mengenal siapa mereka, tapi, setiap kali mereka melintas dan melihat kami berdiri di tepi jalan, selalu saja mereka berhenti dan menaikkan serta mengantarkan saya untuk tiba di sekolah,'' kenang Kasmawati.
Situasi hidup di Sorek saat itu, tentulah belum seperti gambaran yang ada saat ini. Sebuah kota kecil yang maju, tumbuh oleh sebuah proses pembangunan.
Sorek saat itu, hanyalah sebuah kampung. Belum ada jalan beraspal, banyak orang tua belum punya sepeda motor apalagi mobil.
Hanya ada pekerja-pekerja kayu balak yang keluar masuk hutan, masih banyak hutan dan anak-anak sungai di sepanjang jalan. Namun, situasi itu demikian cepat berubah.
''Kami, sangat berterima kasih, kepada pemerintah Kabupaten Pelalawan yang selama ini terus menggesa percepatan terhadap pembangunan di Pangkalan Kuras dan Sorek khususnya. Alhamdulillah, saat ini, daerah ini sudah tumbuh dan berkembang demikian pesat, sehingga berubah menjadi sebuah kota kecil yang membanggakan,'' imbuhnya.
Namun, tentu saja, hidup tidak akan berhenti sampai disana. Pertumbuhan daerah, tanpa diiringi perbaikan kualitas sumber daya manusia tentunya akan menjadi petaka. Terutama, bagi pemuda-pemudi, setempat.
Hal tersebut juga yang kemudian membuat Kasmawati terus berlari, mengejar cita-cita.
''Awalnya, saya hanya bercita-cita ingin menjadi guru. Saya berpikir suatu saat bisa mengajar di sekolah-sekolah di sekitar rumah, mendidik anak-anak, sehingga, mereka bisa membangun kampung halaman,'' ujar dia.
Namun, siapa sangka, cita-cita tersebut berubah menjadi langkah lebih maju lagi, menjadi perempuan muda yang aktif dalam berbagai tempaan kncah perpolitikan.
''Ya, tak ada yang bisa menduga, seperti apa garis hidup manusia. Jalan boleh berbelok, tapi, tujuan tak boleh sirna,'' ungkap dia.
Dalam beberapa dekade, Kasmawati tumbuh menjadi sosok politisi wanita muda yang diperhitungkan. Tempaan ilmu pengetahuan, keinginan untuk belajar dan motivasi dari banyak tokoh-tokoh besar yng dikenalnya selepas menekuni jenjang perkuliahan membuat Kasmawati kemudian mantap memutuskan terjun ke dunia politik dan wira usaha.
''Kalau kita ingin berbuat untuk masyarakat, kita harus mandiri terlebih dahulu. Tak mungkin kita berbuat tanpa bisa membuktikan apapun, dimulai dari diri sendiri. Alhamdulillah, kami melalui itu, hingga kemudian mantap memutuskan maju pada bursa pemilihan calon legislatif pada tahun 2019 ini,'' ungkap Kasmawati.
Disebutkan dia, memperjuangkan apa yang menjadi cita-cita bisa dilakukan dengan banyak cara, termasuk melalui jalur politik.
Hal tersebut beberapa kali sempat disampaikan kepada pemudi yang lama ditempa oleh tokoh-tokoh besar di Provinsi Riau seperti Herman Abdullah (mantan wali kota Pekanbaru dua priode), Dr Firdasu MT (Walikota Pekanbaru 2 periode) ini.
Beberapa kali tawaran untuk menjadi pegawai negeri sipil diberikan kepadanya sebagai bentuk perhatian para petinggi negeri, namun, Kasmawati mengaku kalau hal tersebut bukanlah tujuannya.
''Sudah sering, bahkan berkali-kali ditanyakan kepada saya, mau jdi PNS, mau jadi pegawai BUMN, tapi saya selalu berpikir, itu bukan tujuan saya. Kalau saya jadi PNS, mungkin hidup saya akan baik, menerima gaji setiap bulan dan akan hidup lebih tenang. Tapi, hati saya tidak disana, saya ingin bebas, bisa berkarya, berbuat untuk masyarakat saya, dengan berjuang,'' papar dia.
Karena itulah, ketika tawaran politik untuk bergabung bersama Partai Amanat Nasional (PAN) datang, dia langsung menerimanya.
''Mungkin karena saya belajar dan melihat dari tokoh-tokoh politik, tokoh pemerintahan, maka saya menerima ajakan untuk berpolitik. Alhamdulillah, ini sebuah amanah ketika saya dipercaya untuk menjadi salah seorang calon legislatif untuk kampung halaman menjadi wakil untuk Pangkalan Kuras dan Pangkalan Lesung,'' ungkap Kasmawati.
Mudah-mudahan, dengan izin Allah, dukungan semua pihak, dirinya yakin akan berjuang untuk amanah tersebut.
''Kita hanya berusaha, bila Allah ridha, maka, itu adalah sebuah langkah awal untuk berbuat untuk kampung halaman ini,'' ungkap lajang berusia 29 tahun ini.
Menurut Kasmawati, dirinya tidak neko-neko, ingin bagaimana. Namun, dengan niat ikhlas, ingin berbuat, memajukan Pangkalan Kuras, Pangkalan Lesung dan Pelalawan pada umumnya, kasmawati mengucapkan bismillah.***