RIAUSKY.COM - Saksi fakta Hairul Anas Suaidi mengungkapkan adanya temuan hasil suara pasangan calon dengan menggunakan robot terkait kekacauan Situng KPU setelah pencoblosan 17 April 2019.
Hal tersebut disampaikan Hairul Anas saat menjadi saksi di sidang sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konsitusi (MK), Jakarta Pusat, pada Kamis (20/6/2019) dini hari.
"Dari robot itu saya menganalisa datanya (perolehan suara), jadi cukup banyak keganjilan terkait Situng. Kenapa tidak realtime padahal sudah ada teknologi untuk web service yang seharusnya pengumuman dengan sumber data itu bisa langsung. Tapi ini ada jeda lima belas menit, itu saya pertanyakan," kata Hairul Anas di gedung MK.
Keponakan Mahfud MD yang juga penemu robot pemantau situng KPU mengatakan bahwa banyak kesalahan input data form C1 di setiap TPS yang diunggah KPU di Situng miliknya.
"Saya juga menemukan banyak kesalahan input. Saya menyampaikan bahwa ada yang salah dengan C1-nya. Ada yang berbeda dengan C1 dan itu tidak memenuhi kaidah matematis dan itu tidak dibantah juga. Kemudian ditemukan sangat banyak sampai 73 ribu TPS," ujarnya.
Selain itu, saat memberikan keterangan dihadapan majelis hakim MK, Hairul menyatakan bahwa suara Paslon 01 melebihi jumlah DPT yang telah ditentukan.
"Saya temukan lagi yang sifatnya bukan hanya matematis tapi juga tidak logis. Saya menganalisa misalnya jumlah suara 01 melebih jumlah suara DPT. Itu cukup banyak yang saya temukan," tegasnya.
Kuasa hukum pihak terkait dalam hal kuasa hukum Paslon 01 merasa keberatan dengan keterangan saksi Hairul yang membahas soal perolehan suara Jokowi- Ma'ruf Amin yang tidak sesuai dengan DPT.
"Yang Mulia kami keberatan, karena yang ditanyakan itu, apa yang diterangkan saksi ini ketika dia bertindak sebagai ahli. Di sini tidak pada tempatnya apa yang dia terangkan dulu sebagai ahli," ujar Ketua Kuasa Hukum Jokowi-Ma'ruf Yusril Ihza Mahendra di persidangan.
Hairul menambahkan, adanya perolehan suara Paslon 01 dan Paslon 02 di nolkan. Padahal penghitungan suara sudah mencapai 100 persen.
"Contoh kedua misalnya TPS yang perolehannya untuk 01 dan 02 dalam bahasanya dinolkan karena pernah diisi. Kalau dilihat itu di halaman TPS-nya itu sudah 100 persen. Artinya sudah pernah diisi. Tetapi isinya 0-0. Itu sangat banyak," tandasnya.
Selain itu, Hairul Anas melanjutkan bahwa temuan dari robot yang dinamakan "Robot Tidak Ikhlas" tersebut berdasarkan situng KPU dan bukan Daftar Pemilih Tetap.
"Robot saya, saya beri nama Robot Tidak Ikhlas. Ada robot yang sudah bikin nama Robot Ikhlas sebelumnya, sekira dua minggu sebelumnya. Untuk mengcapture data. Sekira 10 hari setelah pencoblosan, ada yang mengcrawling data KPU menggunakan program untuk mendownload data KPU yang dipublish, itu diambil sehari sekali," tuturnya. (R01)
Sumber: Akurat.co