Gara-gara Gerindra, Jokowi Tambah Pusing Susunan Mentri Kabinet, Satu Parpol Bisa Ketendang

Sabtu, 05 Oktober 2019 | 00:50:31 WIB
Puan Maharani ajak Megawati dan Prabowo berswafoto dalam Kongres V PDIP di Hotel Grand Inna Bali Beach, Sanur, Bali, Kamis (8/8/2019). foto net

JAKARTA (RIAUSKY.COM) – Pemilihan Pimpinan DPR, DPD dan MPR RI telah tuntas. Dari sekian kursi, tak satupun didapat Partai Gerindra.

Terkhir, adalah kursi Ketua MPR RI yang akhirnya jatuh ke tangan Partai Golkar yang mengutus Bambang Soesatyo.

Gagalnya hasrat Partai Gerindra merebut kursi Ketua MPR RI pun dinilai banyak pihak memberikan dampak pada komposisi dan susunan menteri Jokowi.

Hingga kini, susunan menteri Kabinet Indonesia Kerja Jilid II itu masih misterius.

Padahal, Jokowi-Ma’ruf akan dilantik pada 20 Oktober 2019 mendatang.

Diyakini, aalah satu penyebabnya adalah masuknya Partai Gerindra ke dalam koalisi pendukung pemerintah.

Kabarnya, partai berlambang kepala burung Garuda itu bakal mendapat jatah kursi menteri setelah ‘mengalah’ dalam perebutan Ketua MPR RI.

Jika benar hal itu yang terjadi, maka kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang dinilai cukup dipusingkan Jokowi.

Demikian disampaikan analis politik dari Indonesia Political Opinion, Dedi Kurnia Syah dikutip PojokSatu.id dari RMOL, Jumat (4/10/2019).

“Bisa saja ini pilihan sulit bagi Jokowi karena tentu pertentangan internal koalisi petahana juga menguat,” ungkap Dedi.

Dengan masuknya partai besutan Prabowo Subianto itu, tentu saja membuat kesepakatan menjadi lebih sulit.

“Bisa saja, karena tentu proses kesepakatan lebih lama dengan masuknya parpol di luar mitra koalisi,” tambahnya.

Menurut Dedi, masuknya Gerindra akan berdampak buruk bagi keharmonisan partai koalisi Jokowi.

Hal itu sudah terbukti dengan hubungan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Ketua Umum Nasdem Surya Paloh.

Sangat dimungkinkan, masuknya Gerindra itu bakal membuat salah satu parpol koalisi pemerintahan bakal angkat kaki.

“Masuknya Gerindra akan bertukar dengan keluarnya salah satu mitra koalisi Jokowi,” katanya.

“Atau paling tidak kondisinya mempengaruhi keharmonian koalisi,” pungkasnya.

Sementara, ‘mengalahnya’ Gerindra terhadap Golkar dalam perebutan kursi Ketua MPR RI itu diyakini tidak gratis.

pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komaruddin menyebut, bisa jadi ada deal-deal politik tertentu atas terpilihnya kader Partai Golkar tersebut.

Salah satu yang cukup dimungkinkan adalah pembagian kursi menteri di kabinet Jokowi-Ma’ruf untuk Gerindra.

Apalagi, isu tersebut pernah mengemuka saat Partai Gerindra dan PDIP makin memperlihatkan kemesraan kepada publik.

Isu yang berkembang, Gerindra bakal mendapat tiga kursi menteri dari sebelumnya yang hanya mendapat jatah dua kursi.

Sementara jatah kursi menteri untuk Golkar, bisa jadi menjadi dua dari sebelumnya tiga kursi.

Ujang pun menilai, deal-deal politik dimaksud adalah hal yang lumrah dan biasa terjadi dalam politik.

“Di politik itu ada asas proporsional dan rasional,” ujarnya.

Sumber: Pojoksatu.id

Terkini