JAKARTA (RIAUSKY.COM) - Kenapa mesti ada uang logam dan uang kertas?, Analis Eksekutif Kantor Perwakilan BI Provinsi Riau, Asral Mashuri menjawab tuntas pertanyaan ini.
Katanya, memang betul logam ekspektasi lifetime lebih panjang, yaitu +/- 10 tahun. Mengapa ada bahan kertas dan logam? Karena untuk pecahan kecil lebih efisien dibanding kertas.
"Bayangkan kalau pecahan 100, 200, 500 menggunakan kertas, tentu akan repot sekali utk cetak uang setiap tahun karen velocity perputarannya cepat sebagai pengembalian sehingga mudah lusuh," katanya.
Lalu, mengapa pecahan 100, 200, 500 logam, kmudian 2000, 5000, 10.000, 20.000, 50.000, 100.000 kertas? Itu ada perhitungannya dengan teori D-Metric System, termasuk pecahan 1000 adalah borderline ada logam dan kertas bersamaan.
Lalu pecahan kita mengadopsi mazhab Binary Decimal Triplet yaitu 1,2,5. Jadi, 100, 200, 500 balik lagi 1000, 2000, 5000, balik lagi 10,000, 20.000, 50.000, balik lagi 100.000. Kalau ada pecahan yang lebih besar lagi tentunya 200.000 terus 500.000. Warna uang dengan teori skema Munzel, ada warna utama dan turunan. Kalau ada pecahan lebih besar dari 100.000, kemungkinan kuning.
Diseluruh dunia, pasti ada logam dan kertas. Hanya saja, bahan logam itu rawan dilebur kalau menggunakan solid metal.
"Seperti uang 100 logam minangkabau yang tebal, dulu ingat nggak? Itu bahannya solid metal, namanya cupro nickel. Harga logam itu kalau dilebur lebih tinggi dari nominalnya," terang Asral.
Termasuk bahan bimetal yang solid, seperti uang 1000 kelapa sawit, ingat nggak? Itu yg didalam yang gambar kelapa sawit warna kuning bahannya alumunium bronze, yang diluar cincinnya yang putih cupro nikel.
"Kalau dilebur, dapat alumunium, perunggu, tembaga, dan nickel. Nilainya lebih besar dari 1000. Intrinsik lebih tinggi dari nominal. Jadi, teman2 nggak pernah lagi lihat 1000 logam kelapa sawit. Karena pasti hilang, dicetak BI akan lenyap," terangnya.
Dengan berkembangnya teknologi, sekarang kita menggunakan platted steel. Seperti logam 1000. Baik gambar angklung atau i gusti puja, itu menggunakan platted steel. Namanya NPS. Nickel platted steel. Bahan dasarnya baja(steel) dilapisi nickel 20 micton kira2 setebal kulit bawang.
"Kalau dilebur gimana? Nggak dapat apa-apa. Karena nickel hanya 20 micron, paling dapat bajanya itu nilainya kecil. Titik didihnya juga beda, nickelnya menguap duluan. NPS kuat dan cantik, karena shiny. Logam 1000 itu bagus," katanya.
Bagaimana dengan 100, 200, 500? Itu masih solid metal, yaitu alumunium. Tapi, nilai intrinsiknya lebih rendah dari nominal. Jadi, klu dilebur mereka rugi.
Di dunia ini, Indonesia saja yang logamnya masih pakai alumunium. Negara lain sudah pake platted steel. Untuk pecahan logam yang tinggi pake NPS. Kalau yg rendah pakai brass plated steel warnanya kuning, lebih rendah lagi cooper plated steel warna merah. Jadi logamnya warna warni. Logam tertinggi ada yg bimetal tapi tetap plated.
Lalu mengapa inflow logam minim. Tepatnya hanya 32% logam yg dikeluarkan BI dalam bentuk HCS kembali ke bank sentral?
"Ini terkait culture. Logam itu ribet, masuk dompet nggak bisa kalau banyak. Kecuali ibu-ibu ada yang punya dompet kecil khusus logam. Kalau cuma 1 atau 2 keping disimpan di dompet daya belinya rendah. Kalau di kantong risih, berat dan krincing-krincing. Masuk detector di bandara bunyi, iya khan?," tanyanya.
Makanya, masyarakat menelantarkan logam, bahasa melayunya "hoarding". Logam disimpan dimana saja, di laci kantor, di coin box mobil, ada yg ditoples juga. Logam yg ditelantarkan itu, tidak digunakan lagi untuk transaksi bayar, hanya kembalian.
"Dari penelitian kita, uang yang dipegang masyarakat yang tidak kembali dibagi penduduk, rata-rata setiap orang pegang 77 keping setahun. Coba hitung, berapa logam yg kalian pegang sekarang? (R02)