Dilanda Resesi Seks, Pemerintah Jepang Sampai Turun Tangan Jodohkan Warganya dengan Cara Ini...

Rabu, 22 Februari 2023 | 06:47:00 WIB
ilustrasi pasangan kekasih di Jepang./ Sumber Foto: unsplash/ https://www.wannihongo.com

TOKYO (RIAUSKY.COM)- Resesi seks benar-benar membuat khawatir pemerintah Jepang.

Mereka pun berupaya untuk mencegah situasi tersebut dengan berbagai langkah. Apalagi situasi itu berkaitan dengan rendah dan menurunnya angka kelahiran penduduk.

Tak sedikit dari warga Jepang bahkan tak mau menjalin hubungan romantis.

Karena itulah, saat ini, pemerintah di Negeri Sakura ini harus campur tangan untuk bisa menjodohkan warganya.

Belum lama ini, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengatakan, negaranya hampir tidak dapat berfungsi sebagai masyarakat karena tingkat kelahiran yang menurun. 

"Jepang berada di ambang apakah kita dapat terus berfungsi sebagai masyarakat," kata Kishida kepada anggota parlemen.

Dikutip detik.com dari CBS, berbagai upaya pun coba dilakukan. Salah satunya pemerintah di perfektur Miyagi, di mana warga bisa menemukan pasangan melalui layanan kecerdasan buatan dari pemerintah untuk menjodohkan.

Di Ehime, pemerintah lokal menawarkan sistem perjodohan berbasis big data. Kemudian di di Miyazaki caranya lebih tradisional, pemerintah memfasilitasi perjodohan di mana calon pasangan berkirim surat terlebih dahulu.

Masih ada jenis usaha lain agar warga mau mencari pasangan hidup. Bahkan di Tokyo, ada pelatihan kencan dasar, misalnya bagaimana memulai obrolan dengan lawan jenis.

Ya, belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah, di mana pemerintah Jepang begitu bersemangat menjodohkan warga.

Memang pertaruhannya besar, yaitu masa depan dan kelangsungan negara.

Survei dari National Institute of Population dan Social Security Research menemukan bahwa hampir seperlima pria Jepang dan 15% wanita tidak tertarik menikah, angka tertinggi sejak 1982.

Hampir sepertiga pria dan seperlima wanita Jepang di usia 50-an tak pernah menikah.

Menurut pakar, usaha yang efektif misalnya adalah menyeimbangkan antara waktu kerja dan keluarga.

"Negara pasca industri seperti Swedia menunjukkan adalah mungkin menyeimbangkan antara kerja dan keluarga sehingga tidak ada penurunan besar kelahiran," kata pakar dari Harvard, Mary Brinton.(R02)

Sumber Berita: detik.com

 

Terkini