Komitmen Besar APRIL Group Selamatkan Ekosistem Gambut di Asia Tenggara (2)

Jumat, 27 Oktober 2023 | 08:23:17 WIB
Communication Manager RER Junior Norris Marpaung saat memberi pemaparan kepada para jurnalis.

Semenanjung Kampar ini saat ini menjadi salah satu ekosistem gambut dalam terluas yang ada di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Ratusan jenis flora dan fauna ditemukan disini.

-----------------------------------------

LUAS  areal yang dikelola oleh Restorasi Ekosistem Riau (RER) berkisar 150.693 hektar dari seluas 344.573 hektare blok hutan yang ada di Semenanjung Kampar.

Areal tersebut saat ini  terlindung jauh dari jamahan para pelaku penebangan liar dikarenakan dikelilingi oleh areal hutan tanaman industri PT RAPP di Estate Meranti.

Dengan luas bentangan yang dikelola ini, diperkirakan ekosistem gambut yang dikelola RER  mampu menyimpan jutaan ton carbon yang bermanfaat besar untuk menekan emisi yang saat ini menjadi concern pemerintah Republik Indonesia, bahkan dunia.

Karena itulah, salah satu peran besar yang dilakukan RER adalah tidak hanya melakukan rehabilitasi, namun juga restorasi.

Upaya restorasi perlu dilakukan dengan melibatkan sebanyak mungkin peran serta masyarakat di sekitar kawasan maupun pelaku usaha dalam mendukung upaya mempertahankan kondisi ekosistem ini.

Junior Norris Marpaung, Communication Manager RER mengungkapkan, ketika RER masuk ke Semenanjung Kampar pada tahun 2015, kondisi lahan yang ada tidak sepenuhnya tidak terjamah.

Banyak ditemukan kanal-kanal yang digunakan untuk mengeluarkan kayu hasil tebangan illegal logging, ada juga beberapa kawasan yang sudah terdegradasi termasuk praktik pembukaan lahan dengan cara bakar.

Total terpantau sebanyak 38 kanal ilegal yang selama ini dibuat untuk mengalirkan kayu dan aktivitas ilegal.

Kanal-kanal liar ini berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem lahan gambut. Karena itulah, secara bertahap, kanal-kanal tersebut ditutup. 
Saat ini, jelas Juno, sudah sebanyak 31 kanal ditutup oleh RER.

Selain itu, untuk mengatur tata kelola permukaan air, RER juga membuat dam-dam di dalam areal kawasan hutan untuk memastikan lahan yang ada tidak mengalami kekeringan.

''Totalnya sudah ada 87 dam dibangun saat ini,'' ungkap dia.

Pada tahun 2015, RER mulai melakukan upaya-upaya restorasi, diantaranya dengan melibatkan Bidara dalam upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang tata cara pemanfaatan lahan yang bisa menjamin keberlangsungan ekosistem dengan tidak mambakar.

''Bersama Bidara, dilakukan upaya edukasi dengan memberikan pemahaman dan mengenalkan pola pertanian yang tetap memelihara keberlangsungan, seperti pertanian organik dan tanpa bakar, juga budidaya ternak,'' jelas Juno.

Sementara bersama Flora Fauna Indonesia (FFI), RER juga melakukan upaya pendataan terhadap potensi flora dan fauna yang ada di Semenanjung Kampar.

Pada tahun 2015,  FFI mulai memasang sebanyak 225 kamera jebak untuk melihat potensi satwa yang ada di kawasan RER.

Pada tahun 2016, pertama sekali, FFI mengeluarkan hasil pemantauan, dimana ter-capture ada sebanyak 524 jenis tumbuhan dan satwa di areal RER.

Jumlah populasi dan jenisnya itu juga terus bertambah, dimana hingga periode Juni 2023 lalu, setidaknya sudah terdata sebanyak 861 jenis tumbuhan dan satwa, atau ada kenaikan sekitar 300 jenis lebih spesies yang ditemukan.

Dalam mendukung upaya rstorasi ini, RER juga melibatkan masyarakat dengan mempekerjakan sebanyak 69 karyawan serta 70 jagawana yang sekitar 80 persen di antaranya adalah masyarakat setempat.

''Jadi Kami ingin tetap berada di masyarakat, bekerja sama dengan masyarakat, jalan bersama masyarakat. Karena itulah, karyawan yang diajak bekerja juga adalah bagian dari masyarakat,'' jelas Juno.

Pola melibatkan masyarakat dalam melakukan restorasi ini, jelas Juno efektif, karena, selain lebih mengenal lingkungan di sekitar areal kelola RER, tentunya lebih memudahkan untuk merangkul dan mengajak masyarakat lainnya untuk bekerja sama melakukan perbaikan ekosistem.

Aktivitas RER juga berada di sekitar Sungai Serkap, yang juga dikenal memiliki potensi perikanan cukup besar.

Di sekitar aktivitasnya, juga banyak sekali nelayan pencari ikan. Tak hanya warga di sekitar areal, namun juga dari luar.

Bila sebelumnya, upaya menangkap ikan dilakukan termasuk dengan cara yang tidak menjamin keberlangsungan ekosistem perairan, maka bersama RER, para nelayan ini dibina menjadi nelayan yang menggunakan pola-pola tangkap ikan yang ramah lingkungan.

Bahtiar, ketua kelompok Nelayan binaan RER yang beranggotakan sekitar 20 melayan mengaku sangat beruntung mendapat binaan terkait pengelolaan tangkap ikan dengan cara berkelanjutan ini.

''Kalau dulu, banyak juga yang menggunakan cara diracun atau bom ikan  Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Hasil perikanan kami juga terus membaik dari waktu ke waktu, karena pola tangkap nelayan yang juga berubah,'' ungkap pria asal Teluk Meranti ini.

Bahkan, saat ini, seiring dengan peraikan kondisi ekosistem perairan di Sungai Serkap, banyak nelayan yang sebelumnya beroperasi mencari ikan di luar areal, malah masuk dan mencari ikan di Sungai Serkap ini.

Namun, dengan pemahaman dan manfaat yang telah didapatkan dari pola tangkap berkelanjutan ini, saat ini, masyarakatlah yang melakukan pembinaan terhadap para pencari ikan tersebut.

''Kalau nelayan dari luar nak cai ikan disiko (mau mencari ikaan disini,red), mereka harus membuat kesepakatan, misalnya tak boleh memutas, tak boleh pakai bom ikan, atau strum listrik,''jelas bahtiar lagi.

Tentunya, tak hanya masyarakat nelayan yang menjadi concern dari upaya pelibatan oleh RER untuk program restorasi ekosistem ini.

Bahkan, masyarakat yang mencari penghidupan dari hasil hutan, seperti pencari madu hutan pun ikut dibina, bagaimana supaya bisa mengambil madu tanpa merusak ekosistem yang menjadi habitat hidup lebah penghasil madunya.(Bersambung.....)

 

Terkini