JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Asia Pacific Rayon (APR), produsen terkemuka serat selulosa buatan (MMCFs) yang dibuat secara berkelanjutan, memperkenalkan kain baru, lyocell, ke sektor batik Indonesia.
Inisiatif yang diluncurkan pada acara ‘Samudra Awan’ pada akhir Januari 2026 lalu di Jakarta , memosisikan lyocell sebagai alternatif berkinerja tinggi bagi kain tradisional, yang bertujuan untuk meningkatkan hasil teknis sekaligus nilai komersial dari tekstil batik.
Kerajinan batik sangat bergantung pada interaksi antara pewarna alami dan permukaan kain. Hal ini menjadikan pemilihan bahan sebagai faktor kritis bagi kejelasan dan ketahanan teknik tulis tangan (batik tulis) maupun cap (batik cap) yang rumit. Dan lyocell berfungsi sebagai kanvas yang luar biasa untuk desain-desain tersebut.
“Lyocell secara signifikan meningkatkan siklus produksi, ia menyerap pewarna dengan cepat dan membutuhkan volume yang lebih sedikit untuk mencapai hasil akhir yang cerah dan berkilau tinggi,” ujar Komarudin Kudiya, Pendiri Rumah Batik Komar.
“Kekuatan serat ini dan ...daya rekat malam (lilin) yang sangat baik, baik saat menggunakan canting tulis maupun cap tembaga, memungkinkan para perajin kami bekerja dengan lebih efisien.” ungkap dia.
Kain yang berasal dari serat kayu ini menawarkan keuntungan yang berbeda dibandingkan alternatif tradisional lainnya. Lyocell memiliki tingkat penyerapan kelembapan yang lebih tinggi dibandingkan bahan lain yang umum digunakan untuk batik.
Hal ini memungkinkan penyerapan pewarna yang lebih baik, menghasilkan motif yang lebih tajam dan ketahanan warna yang lebih tinggi, yang berarti desain menjadi lebih tahan lama.
Selain keunggulan lyocell dalam menampilkan desain batik, sirkulasi udara (breathability) kain ini menarik perhatian konsumen yang mencari busana etnik premium yang nyaman dan cocok untuk iklim tropis.
Daya serap kelembapan yang tinggi serta afinitas pewarna pada Lyocell menghasilkan motif yang lebih tajam dan ketahanan warna yang lebih unggul dibandingkan kain lainnya.

Sumber Foto: APR
Kolaborasi ini memadukan serat selulosa buatan modern dengan teknik kuno seperti metode waleran asal Cirebon, memastikan kerajinan tradisional tetap relevan dan berkinerja tinggi untuk pakaian modern.
Keanggunan jatuhnya kain (premium drape) serta sirkulasi udara (breathability) yang baik dari Lyocell membantu memosisikan batik Indonesia untuk memenuhi permintaan global akan busana etnik mewah yang berkelanjutan.
Penggunaan lyocell dalam pembuatan batik mewakili perpaduan antara seni tekstil kuno Indonesia dengan kain berkelanjutan modern yang berasal dari pepohonan.
Batik adalah teknik tradisional Indonesia untuk menciptakan pola berwarna pada kain.
Proses pewarnaan tahan-malam yang kompleks ini telah ada selama lebih dari 2.000 tahun dan diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.
Kini, Asia Pacific Rayon (APR), produsen terkemuka serat selulosa buatan (MMCFs) yang dibuat secara berkelanjutan, memperkenalkan kain baru, lyocell, ke sektor batik Indonesia.
Head of Commercial APR, Sachin Malik pada helat tersebut menyatakan bahwa pengenalan lyocell merupakan langkah strategis untuk menyediakan bahan bagi perajin batik yang dapat meningkatkan nilai estetika dan komersial produk mereka.
Terdapat juga peluang untuk memperkuat rantai pasok lokal dan meningkatkan daya saing global batik Indonesia di pasar mode berkelanjutan internasional.
“Kami ingin menyediakan alternatif kain bagi ekosistem batik yang mampu menangkap detail halus dengan presisi, sembari tetap mempertahankan tekstur lembut dan keanggunan jatuhnya kain (drape) yang dibutuhkan untuk pakaian premium,” ujar Malik.
Memadukan yang Kuno dengan yang Modern
Acara ‘Samudra Awan’ berfokus pada motif Megamendung dari Cirebon, Jawa Barat, yang secara tradisional diproduksi menggunakan teknik Waleran, sebuah sistem gradasi warna dan pembentukan pola yang sangat disiplin.
Penggunaan lyocell sebagai kanvas modern bagi teknik-teknik kuno ini menunjukkan bagaimana MMCFs (serat selulosa buatan) dapat diintegrasikan ke dalam rantai pasok tradisional tanpa mengorbankan integritas tradisi tersebut.
Peluncuran tersebut menghadirkan diskusi panel yang melibatkan tokoh-tokoh kunci industri, termasuk Kudiya, yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), serta Heri Kismo, Ketua Perkumpulan Perajin dan Pengusaha Batik Cirebon (P3BC).
Diskusi tersebut menekankan peran lyocell dalam memodernisasi rantai pasok batik dengan tetap menghormati akar kerajinan tangan tersebut.
Inisiatif ini menerima dukungan institusional tingkat tinggi, dengan kehadiran perwakilan dari Yayasan Batik Indonesia (YBI) serta Direktur Merek dan Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum Indonesia.
Kehadiran mereka menandai pentingnya penetapan resmi Indikasi Geografis (IG) untuk batik tulis waleran. Pengakuan hukum ini melindungi teknik-teknik spesifik dari para perajin Cirebon, memastikan bahwa inovasi tetap terikat pada warisan budaya yang terautentikasi.
Pameran tersebut juga menampilkan bahan batik berbasis lyocell dan koleksi dari label busana Merona, yang mempersembahkan kebaya (busana tradisional Indonesia) yang terbuat dari lyocell.(*)