PEKANBARU (RIAUSKY.COM) - Neraca perdagangan Provinsi Riau pada periode Januari hingga Maret 2026 mencatatkan surplus sebesar US$4,36 miliar. Surplus tersebut didorong oleh kinerja positif sektor nonmigas sebesar US$4,23 miliar dan sektor migas sebesar US$132,66 juta.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Riau, Asep Riyadi, menyampaikan bahwa capaian ini menunjukkan struktur perdagangan Riau masih kuat ditopang oleh ekspor nonmigas.
“Secara kumulatif Januari hingga Maret 2026, neraca perdagangan Riau masih mengalami surplus yang cukup besar, terutama berasal dari sektor nonmigas,” ujarnya.
Secara bulanan, pada Maret 2026 neraca perdagangan Riau juga mencatat surplus sebesar US$1,45 miliar. Nilai tersebut berasal dari surplus sektor nonmigas sebesar US$1,35 miliar dan sektor migas sebesar US$96,68 juta.
“Pada Maret 2026, surplus tetap terjaga meskipun terjadi penurunan pada nilai ekspor dibandingkan tahun sebelumnya,” tambah Asep.
Dari sisi ekspor, nilai ekspor Riau selama Januari hingga Maret 2026 mencapai US$5,27 miliar atau naik 1,58 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Kenaikan ini sejalan dengan ekspor nonmigas yang mencapai US$5,09 miliar atau tumbuh 5,80 persen.
Namun, secara bulanan terjadi penurunan. Nilai ekspor Riau pada Maret 2026 tercatat sebesar US$1,59 miliar atau turun 14,21 persen dibandingkan Maret 2025. Ekspor migas turun 29,36 persen menjadi US$101,73 juta, sementara ekspor nonmigas turun 12,93 persen menjadi US$1,49 miliar.
“Penurunan ekspor pada Maret 2026 terjadi baik pada sektor migas maupun nonmigas, namun secara kumulatif triwulan pertama masih menunjukkan pertumbuhan positif,” jelas Asep.
Komoditas unggulan masih menjadi penopang utama ekspor. Dari sepuluh komoditas terbesar, lemak dan minyak hewan/nabati mencatat kenaikan tertinggi sebesar US$285,89 juta atau 10,31 persen. Sebaliknya, komoditas bubur kayu (pulp) mengalami penurunan terbesar sebesar US$83,96 juta atau 17,96 persen.
"Dari sisi tujuan ekspor, Tiongkok menjadi negara tujuan utama dengan nilai US$892,28 juta, diikuti India sebesar US$579,89 juta dan Malaysia sebesar US$400,40 juta. Ketiganya berkontribusi sebesar 36,82 persen terhadap total ekspor nonmigas Riau," jelasnya.
Sementara itu, ekspor ke kawasan ASEAN tercatat sebesar US$900,54 juta dan Uni Eropa sebesar US$557,43 juta. Berdasarkan sektor, ekspor hasil industri pengolahan meningkat 6,23 persen, sedangkan ekspor hasil pertanian turun 16,89 persen.
Di sisi lain, impor Riau menunjukkan lonjakan signifikan. Nilai impor Januari hingga Maret 2026 mencapai US$913,01 juta atau naik 141,24 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
“Peningkatan impor terutama didorong oleh naiknya impor nonmigas dan barang modal yang cukup signifikan,” kata Asep.
Impor nonmigas tercatat sebesar US$856,66 juta atau naik 143,75 persen, sedangkan impor migas mencapai US$56,35 juta atau naik 108,53 persen.
Secara bulanan, impor Riau pada Maret 2026 mencapai US$137,79 juta atau naik 8,04 persen dibanding Maret 2025. Impor nonmigas meningkat 24,66 persen menjadi US$132,75 juta, sementara impor migas turun tajam 76,03 persen menjadi US$5,05 juta.
Komoditas impor terbesar yang mengalami peningkatan signifikan adalah kapal terbang dan bagiannya sebesar US$398,43 juta. Sementara itu, bahan kimia organik mengalami penurunan terbesar sebesar US$0,67 juta atau 2,84 persen.
Negara pemasok utama impor nonmigas adalah Prancis dengan nilai US$399,47 juta (46,63 persen), diikuti Tiongkok sebesar US$114,64 juta (13,38 persen), dan Kanada sebesar US$62,58 juta (7,30 persen).
Selain itu, impor dari kawasan ASEAN tercatat sebesar US$119,44 juta dan Uni Eropa sebesar US$441,95 juta. Dari sisi penggunaan, impor barang modal melonjak 1.676,35 persen menjadi US$450,61 juta. Impor bahan baku/penolong naik 31,13 persen menjadi US$461,05 juta, sedangkan barang konsumsi justru turun 9,75 persen menjadi US$1,35 juta.
“Lonjakan impor barang modal mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas investasi dan produksi di Riau,” tutup Asep.