PEKANBARU (RIAUSKYCOM)- Perekonomian Provinsi Riau pada triwulan I-2026 yang diukur melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menunjukkan capaian signifikan. Nilai PDRB atas dasar harga berlaku tercatat mencapai Rp317,14 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp152,45 triliun.
Kepala Badan Pusat Statistik Riau, Asep Riyadi, mengatakan capaian tersebut mencerminkan aktivitas ekonomi yang tetap tumbuh di tengah dinamika global dan domestik.
“PDRB Riau triwulan I-2026 atas dasar harga berlaku mencapai Rp317,14 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp152,45 triliun,” ujar Asep Riyadi, Selasa (5/5/2026).
Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), ekonomi Riau tumbuh sebesar 4,89 persen dibandingkan triwulan I-2025. Pertumbuhan ini ditopang oleh berbagai lapangan usaha, terutama sektor jasa.
“Ekonomi Riau triwulan I-2026 terhadap triwulan I-2025 mengalami pertumbuhan sebesar 4,89 persen. Dari sisi produksi, lapangan usaha jasa lainnya mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 13,87 persen,” jelasnya.
Dari sisi pengeluaran, komponen impor luar negeri mencatat pertumbuhan paling tinggi sebesar 66,31 persen. Meski demikian, impor dalam struktur PDRB merupakan faktor pengurang.
Di sisi lain, jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (q-to-q), ekonomi Riau mengalami kontraksi tipis sebesar 0,33 persen.
“Secara triwulanan, ekonomi Riau mengalami penurunan sebesar 0,33 persen. Dari sisi produksi, transportasi dan pergudangan mengalami kontraksi terdalam sebesar 10,50 persen,” ungkap Asep.
Sementara dari sisi pengeluaran, komponen ekspor luar negeri mengalami kontraksi terdalam sebesar 6,23 persen.
Meski demikian, struktur ekonomi Riau menunjukkan daya tahan, terutama dari sektor nonmigas. Tercatat, ekonomi tanpa migas tumbuh 5,86 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,59 persen.
“Jika dihitung tanpa migas, ekonomi Riau tumbuh 5,86 persen, lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya,” tambahnya.
Secara nasional, kontribusi Riau terhadap perekonomian Indonesia mencapai 5,14 persen. Hal ini menempatkan Riau sebagai provinsi dengan PDRB terbesar ke-6 di Indonesia dan terbesar kedua di luar Pulau Jawa.
Dalam konteks regional Sumatra, pertumbuhan ekonomi Riau sebesar 4,89 persen masih berada di bawah rata-rata Sumatra yang tumbuh 5,13 persen.
Berdasarkan data BPS, seluruh provinsi di Sumatra mencatat pertumbuhan positif. Provinsi Kepulauan Riau menjadi yang tertinggi dengan pertumbuhan 7,04 persen, sedangkan Aceh terendah sebesar 4,09 persen.
Asep menegaskan bahwa capaian ini menunjukkan posisi strategis Riau dalam perekonomian regional maupun nasional.
“Kontribusi Riau terhadap perekonomian nasional mencapai 5,14 persen. Ini menunjukkan peran penting Riau sebagai salah satu motor ekonomi Indonesia,” tutupnya.(mc)