Dari 13 Produsen Minyakita di Riau, Hanya Satu Perusahaan Yang Produknya Ditemukan di Pasar Pekanbaru

Selasa, 12 Mei 2026 | 06:14:29 WIB

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Kondisi kelangkaan Minyakita di Provinsi Riau benar-benar nyata. Karena itulah, Badan pangan Nasional (Bapanas) langsung turun dan melakukan pengecekan di pasar-pasar, distributor dan pabrikan pada Senin (11/5/2026) kemarin.

Temuannya mengejutkan, di pasar, harga Minyakita tembus Rp20.000 per liter, atau berkisar Rp240.000 per karton.

Padahal, Perum Bulog secara berkala terus menyalurkan Minyakita ke pedagang-pedagang di pasar dengan kuota 30-60 karton per minggu. Tapi, tetap saja Minyakita langka dan mahal di pasar.

Karena itulah, Direktur Ketersediaan Pangan Bapanas, Indra Wijayanto langsung mengingatkan para pedagang untuk tidak berlaku curang dengan tidak menjual Minyakita di atas HET yang sudah ditetapkan pemerintah, yakni Rp15.700.

Sudah ada 3 dan 17 pedagang di Pasar Pagi Arengka yang diberikan peringatan kedua karena aksi curang menjual di atas HET. ''Bila Bapak masih melakukan sekali lagi pelanggaran, kami mempertimbangkan untuk tidak memberikan lagi alokasi Minyakita kepada Bapak,''ungkap Indra saat turun ke Pasar Pagi Arengka.

Indra juga menemukan praktik distribusi yang memperpanjang mata rantai yang menyebabkan harga Minyakita mahal. ''Dari Bulog bapak itu tidak lagi boleh menjual kartonan. Rasanya kalau dijual eceran, 60 karton itu sudah banyak. Apalagi di Pasar Pagi Arengka ada 17 pedagang yang menjadi mitra Bulog dan Food.Id,'' ungkap Indra memberi catatan atas temuannya di lapangan.

Indra juga meminta Bulog mempertimbangkan pedagang di pasar yang telah mengajukan permohonan untuk menjual Minyakita agar diberikan alokasi, sehingga pasokan Minyakita bisa merata.

Bahkan, dia juga menawarkan kepada distributor untuk melakukan operasi pasar guna memastikan harga Minyakita bisa terjaga.


Cuma Satu Pabrikan

Tak hanya soal ketersediaan di pasar, Indra juga mengecek merek pabrikan dari Minyakita yang beredar di dua pasar di Pekanbaru yang dia kunjungi.

Ternyata, hanya ada dua jenis Minyakita yang beredar di Pasar Pagi Arengka dan Pasar Dupa Pekanbaru, yakni milik Permata Hijau Sawit (Palas-Sumatera Utara) dan Pelita Agung Agroindustri (Riau).

Temuan ini juga yang kemudian menjadi pokok pembahasan yang dilakukan dalam pertemuan di Kantor Bulog Riau Kepri bersama sekitar 7 pabrikan yang hadir secara langsung maupun daring.

Indra mempertanyakan, di Riau ada 13 pabrik yang memproduksi Minyakita. Beberapa di antaranya memang tidak mengajukan DMO. Tapi, yang lainnya mengajukan DMO. Tapi, Minyakita yang mereka hasilkan tidak ditemukan di pasar.

''Mau keliling di 10 pasar pun saat ini, pasti tidak akan ketemu produk selain Permata Hijau dan Pelita Agung. Yang jadi pertanyaan kita bersama, kemana pasokan Minyakita yang bapak-ibu produksi dipasarkan?'' tanya Indra kepada perwakilan pabrikan yang hadir.

Indra bahkan membuka data dari aplikasi Simirah yang menjadi data resmi produksi dan distribusi Minyakita sembari meminta pihak pabrikan untuk memastikan apakah Minyakita yang mereka produksi ada dipasarkan di Riau.

Indra menjelaskan, selaku produsen, perusahaan tidak bisa hanya mengatakan bahwa mereka telah menyalurkan Minyakita melalui distributor. 
Produsen, sebut indra mempunyai kewajiban moral untuk mamastikan apakah Minyakita yang mereka produksi didistribusikan dengan benar dan tepat.

Indra menjelaskan, meski tidak ada kewajiban untuk alokasi khusus di daerah penghasil Minyakita, namun, perusahaan memiliki kewajiban moral untuk memastikan minyakita juga beredar di wilayah Riau.

''Bapak, dari Intibenua, kira-kira bapak bisa pastikan tidak, kalau Minyakita yang Bapak Produksi ada di Pasar Kelakap atau Srimersing Dumai? Kalau pun ada apakah itu diedarkan oleh distributor 1 atau 2 yang anda tunjuk, atau malah yang memasarkan adalah Distributor kelima?'' gugah Indra.

Kalau yang masuk adalah D5, maka pastilah harga yang beredar di pasar di atas HET.

Karena itulah, Indra memberikan penugasan khusus kepada seluruh perusahaan yang memproduksi Minyakita untuk menyisihkan sedikit alokasi Minyakita- nya untuk dipasok langsung ke pasar-pasar lokal yang direkomendasikan pemerintah daerah melalui Disperindag.

''Saya minta, perusahaan yang hadir saat ini, untuk mengalokasikan sedikit. Saya lihat di aplikasi ada distributor yang dapat alokasi 500 sampai 1.000 ton. Kalau kita minta 20-50 ton untuk didistribusikan ke pasar-pasar lokal, boleh tidak? sanggup tidak? kalau tidak sanggup, koordinasikan kepada Disperindag Riau, karena di sini juga ada BUMD pangan yang bisa mendistribusikan ke pasar-pasar rakyat di Riau,'' ungkap  Indra.

Indra menjelaskan, pihaknya tidak ingin mendapat keluhan lagi, Minyakita di Pekanbaru langka dan harganya di atas HET.

''Lah, pabriknya di Riau kok bisa langka. Jadi ini murni pengawasan, dan ini menjadi tanggung jawab moral perusahaan. Kira-kira kalau pabrik memerintahkan distributor mereka bakal menolak tidak? saya yakin mereka  akan patuh,'' kata Indra.

Indra pun menyebutkan, pihaknya akan terus mengawasi peredaran Minyakita di Provinsi Riau.

Kadis Perindag Provinsi Riau Taufik OH mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Bapanas dengan turun langsung mengecek kondisi peredaran Minyakita di beberapa pasar di Pekanbaru.

Dia berharap ini bisa menjaga stabilitas harga dan ketersediaan Minyakita di pasar.

Dia juga mengapresiasi langkah baru yang dilakukan dengan meminta langsung tanggung jawab produsen dan distributor untuk menyalurkan Minyakita di pasar-pasar tradisional yang ada di Riau.

''Kita punya datanya, dan kita siap untuk berkoordinasi dan bersinergi bila distributor memerlukan Informasi terkait kondisi peredaran Minyakita. khususnya di pasar-pasa ryang menjadi pemantauan SP2HP.(R04)

 

 

Terkini